genbest
Pengetahuan cukup pada remaja dan orang tua mengenai stunting atau kerdil menjadi kunci keberhasilan kampanye penurunan prevalensi stunting
sewa motor matic murah dibali

GIANYAR, Balipuspanews.com – Pengetahuan cukup pada remaja dan orang tua mengenai stunting atau kerdil menjadi kunci keberhasilan kampanye penurunan prevalensi stunting. Kepedulian keluarga dan komunitas sangat penting karena hal tersebut menjadi sumber referensi perilaku kesehatan seseorang.

Kementerian Komunikasi dan Informatika, melalui Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, selaku koordinator kampanye nasional penurunan prevalensi stunting menyelenggarakan Forum Sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (GenBest) di beberapa Kabupaten/Kota prioritas penanganan stunting di Indonesia. Dan di Kabupaten Gianyar sosialisasi GenBest diadakan di Hotel  Gianyar, Selasa (21/5).

GenBest sendiri merupakan inisiasi Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting. GenBest mendorong masyarakat, khususnya generasi muda agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

“Pencegahan stunting sangatlah bergantung pada peran aktif keluarga dan komunitas untuk mengubah perilaku dan menerapkan gaya hidup bersih dan sehat di lingkungannya. Untuk itu, Kominfo terus berkomitmen bahwa penyediaan informasi terkait isu stunting ini haruslah mudah diakses dan dipahami masyarakat, salah satuya melalui forum GenBest ini,” ujar Kepala Sub Direktorat Informasi dan Komunikasi Kesehatan, Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan kebudayaan, Marrolli J Indarto, kala membuka Forum GenBest di Gianyar.

Berdasarkan data di Kementerian Kominfo, Kabupaten Gianyar merupakan salah satu dari 160 kabupaten/kota prioritas stunting tahun 2018-2019. Sosialisasi menargetkan remaja putri termasuk dari sepuluh desa prioritas yaitu Desa Lebih, Siangan, Sanding, Manukaya, Lodtunduh, Singakerta, Kedisan, Pupuan, Taro dan Desa Bresela.

Marrolli J Indarto juga menambahkan pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla telah bekerja keras menurunkan tingkat prevalensi stunting, dari 37,2% (Riskedas 2013) menjadi 30,8% (Riskedas 2018). Meski turun signifikan angka tersebut masih tinggi karena tiga dari sepuluh balita di Indonesia masih mengalami stunting.

Namun, pemerintah optimis angkanya semakin turun karena rgam kebijakan intervensi penanggulangan stunting. Secara definisi , stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yaitu sejak janin hingga anak berusia 24 bulan. Pemerintah melakukan intervensi dalam dua skema. Pertama, intervensi spesifik atau gizi dengan melakukan pemberian makanan tambahan untuk ib hamil dan anak, suplementasi gizi, pemberian tablet tambah drah serta konsultasi. Kedua, intervensi sensitive atau non gizi seperti penyediaan sanitasi dan air bersih, lumbung pangan, alokasi dana desa, sedukasi serta sosialisasi.

“Program pemerintah untuk menurunkan stunting meliputi berbagai aspek yaitu kesehatan maupun non kesehatan. Anggaran yang dialokasikan juga besar untuk menanggulangi isu ini. Namun, ragam program tidak akan berdampak banyak bila tidak disertai pola pikir sehat. Untuk itu harus ada perubahan perilaku dari masyarakat,” jelas Marrolli lagi.

Ditambahkan, sosialisasi stunting penting untuk mencegah munculnya SDM yang tidak kompeten ketika menghadapi bonus demografi tahun 2030. Tahun itu diperkirakan 68% penyangga ekonomi Indonesia adalah usia produktif yang lahir saat ini. Pemerintah juga tidak ingin mundur sebelum pertandingan global karena kalah kompetisi akibat stunting.

Inpres Nomor 9 tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik mengamanatkan Kominfo untuk mengkoordinasikan isu sektor menjadi narasi tunggal untuk disampaikan ke masyarakat. Kominfo berharap isu stunting dapat menjadi isu yang dikerjakan bersama. Masyarakat juga diharapkan dapat melakukan 3 P (peduli, pahami dan partisipasi) untuk membantu mengurangi stunting.

Sementara itu, sambutan Bupati Gianyar yang dibacakan oleh  Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Gianyar, I Wayan Sudamia mengatakan penanganan stunting agar dilakukan secara menyeluruh tidak hanya fokus pada sisi kesehatannya saja, tetapi juga menyangkut faktor lain yang turut mempengaruhi terjadinya stunting, seperti faktor lingkungan dan sanitasi.

Wayan Sudamia juga mengajak seluruh stakeholder dalam upaya pencegahan stunting di Kabupaten Gianyar agar menyatukan gerak langkah dalam menyusun dan melaksanakan program pencegahan dan penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Gianyar. (rls/bpn/tim)

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here