Covid-19, Pariwisata dan “Nengetan Gelah Pedidi”

Ki Tambet
Ki Tambet

Oleh : Gusti Putu Arthadana

OPINI, balipuspanews.com – Hampir setengah tahun sudah masyarakat dunia termasuk masyarakat Indonesia dan diantaranya Bali hidup dalam bayang-bayang pandemi covid-19. Kini, meskipun di Bali telah memasuki tahap new normal, covid-19 harus tetap diwaspadai agar penyebarannya bisa terputus total.

Merebaknya virus corona mau tidak mau harus diakui telah mampu merubah banyak hal dari kehidupan umat manusia. Baik dari sisi ekonomi, sosial dan budaya. Termasuk pula dalam sektor industri pariwisata.

Meski demikian, tentu ada berbagai hal positif yang mampu dipetik bhinneka dari merebaknya virus corona. Setidaknya virus ini telah mengajak kita semua jeda sesaat. Jeda bukan untuk terpuruk, namun jeda untuk berenung terhadap hal-hal yang harus dibenahi dari perjalanan sebelum covid-19 mewabah untuk direalisasikan pada saat kondisi benar-benar normal.

Salah satunya yang sangat penting untuk direnungi oleh seluruh komponen masyarakat Bali adalah terhadap pariwisata. Mengingat selama ini sektor pariwisata menjadi tulang punggung bagi perekonomian Bali.

Lalu, ketika berbicara industri pariwisata Bali, sejak lama telah muncul wacana bahwa dunia pariwisata Bali telah mendatangkan ancaman kehancuran bagi Bali itu sendiri. Terutama ancaman terhadap keajegan tradisi budayanya yang justru menjadi roh dan taksu pariwisata Bali.

Adanya ancaman terhadap keajegan tradisi dan budaya Bali dari derasnya gemerincing dolar karena industri pariwisatanya sejak lama telah menjadi kekhawatiran banyak pihak. Bahkan dalam memposisikan dirinya terhadap pariwisata, Bali (maaf) ada kesan melacurkan diri.

Kesan pelacuran diri ini bisa terlihat dari tatanan konsepsi pembangunan Bali yakni Tri Hita Karana. Dari sisi pelemahan, banyak lahan-lahan Bali yang begitu mudahnya beralih fungsi dan beralih milik. Seperti pesawahan, jurang, pesisir pantai, tepian danau atau pula lahan-lahan yang berdekatan dengan kawasan suci.

Kemudian dari sisi pawongan, banyak generasi muda Bali meninggalkan budaya agrarisnya yakni bertani. Generasi muda, Bali cenderung lebih memilih menjadi tukang cuci piring, pembersih kamar, tukang masak dan sejenisnya di hotel atau restoran dibandingkan menjadi “pengusaha” dengan cara melanjutkan tradisi luhur leluhurnya dengan berkeringat berbaur lumpur.

Sementara dari sisi parahyangan, ada beberapa pura di Bali yang menjadi obyek wisata. Wisatawan sedemikian bebasnya bersliweran diarea pura, termasuk menjadikan umat yang sedang bersembahyang sebagai obyek tontonan. Mirisnya, beberapa kali Ida Bhatara telah “menjewer” krama Bali dengan perilaku wisatawan yang berfose pada sebuah pelinggih. Mih, Dewa Ratu.

Nah, saat jeda sejenak akibat mewabahnya virus corona, gambaran tadi tentu sangat layak direnungi. Yakni, tidakkah Bali dalam beberapa dekade terakhir ini “salah asuh” dalam menata dirinya dari sisi pariwisata. Atau setidaknya betapa benar bahwa Bali selama ini telah melacurkan dirinya demi keberlanjutan industri pariwisata.

Meski terlambat, namun waktu untuk memperbaiki diri masih terbuka luas. Di era new normal dan menuju era yang benar-benar kembali normal, seluruh komponen masyarakat Bali, terutama desa adat, pemerintah terkait dan para pengusaha pariwisata harus segera duduk bersama untuk satu kata dalam menata pariwisata Bali.

Terutama, adanya satu kata terkait ruang-ruang yang memang bisa untuk dijadikan “menu” pariwisata dan ruang-ruang yang harus “ditengetkan”. Terutama kawasan suci dan tradisi budaya yang bernilai sakral.

Yang perlu digarisbawahi, “nengetan” tersebut bukan berarti Bali pelit dan tiba-tiba protektif karena virus corona. Melainkan sebagai bentuk “nengetan gelah pedidi” yang memang sejatinya bukan untuk dilacurkan demi mengemis dolar. Nengetan gelah pedidi ini justru untuk keberlanjutan roh dan taksu Bali. Sehingga Bali yang disebut dengan “The Last Paradise” (Surga Terakhir) tidak akan menjadi “The Lost Paradise” (Surga Yang Hilang) karena kegagalan manusia Bali dalam menjaga taksuNya.