Dampak Positif Spirit Pelayanan Bernuansa Kekeluargaan Tenaga Medis Bagi Pasien Hemodialisa

Ngurah Arthadana/Ki Tambet
Ngurah Arthadana/Ki Tambet

Oleh: Ngurah Arthadana/Ki Tambet

Setiap hari Kamis minggu kedua dibulan Maret diperingati sebagai Hari Ginjal Sedunia. Untuk ditahun ini akan diperingati pada Kamis, 11 Maret 2021.

Peringatan Hari Ginjal Sedunia ini merupakan peringatan yang diinisiasi oleh dua organisasi dunia yakni International Society of Nephrology dan International Federation of Kidney Foundation sejak 2006 lalu.

Peringatan Hari ginjal sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global akan pentingnya kesehatan ginjal.

Penulis memandang sebagai sesuatu yang sangat logis dan mulia dibangunnya kesadaran masyarakat dunia terhadap pentingnya kesehatan ginjal. Mengingat penyakit ginjal merupakan suatu penyakit yang dapat menyebabkan pengidapnya tidak lagi produktif hingga mengalami kematian.

Terkait dengan produktifitas, penulis sendiri merupakan pasien gagal ginjal kronis. Hal tersebut berdasarkan hasil diagnosa dokter ahli penyakit dalam di BRSUD Tabanan pada tanggal 12 Juli 2019 lalu. Kini, penulis harus menjalani rutinitas hemodialisis (HD) atau cuci darah seminggu dua kali setiap hari Selasa dan Jumat siang.

Berbicara pasien cuci darah di rumah sakit Tabanan, saat ini jumlahnya paling tidak diatas dua ratus orang. Ini berdasarkan hitung-hitungan kasar dari kapasitas jumlah bed dan alat yang tersedia. Yakni sebanyak 40 bed dengan rincian di lantai I melayani 10 pasien dan dilantai II melayani 30 pasien.

Kemudian, dalam setiap minggunya rata-rata per pasien mendapat pelayanan cuci darah dua kali. Adapun pelayanan cuci darah ini berlangsung selama enam hari kerja dari hari Senin hingga Sabtu dan dalam setiap harinya terbagi menjadi dua sesi.

Sehingga hitungan kasarnya 40 bed/pasien dikalikan 3 hari dikalikan 2 sesi sama dengan 240 orang. Jumlah ini baru hanya yang mendapat pelayanan di BRSU Tabanan. Artinya besar kemungkinan angka tersebut bertambah apabila dikalkulasikan dengan pasien-pasien HD di rumah sakit lainnya di Tabanan.

Berikutnya, dalam kesempatan ini penulis ingin berbagi kisah dari hampir dua tahun menjadi pasien HD. Jujur pada awal penulis divonis gagal ginjal stadium v, langit terasa runtuh dan kematian seakan telah menyambut.

Penulis semakin merasa terbebani karena pasca vonis tersebut dokter menyarankan penulis dan keluarga penulis untuk melakukan cuci darah. Dengan alasan, cuci darah tersebut menjadi satu-satunya jalan keluar selain dengan cangkok ginjal.

Beban yang dimaksud, sebagian besar keluarga tidak mengijinkan penulis cuci darah. Sementara saat itu kondisi penulis sudah semakin parah. Terutama timbulnya rasa sesak hingga menjadikan dalam beberapa hari pasien susah tidur.

Dalam situasi tersebut, seorang sahabat penulis yang kebetulan seorang dokter ahli kejiwaan yang bertugas di BRSUD Tabanan yakni dr. IGNB. Mahayasa, Sp.Kj., datang menjenguk dan memberikan penulis dan keluarga pemahaman bahwa penyakit ini adalah gagal ginjal dan merupakan penyakit medis, bukan penyakit non medis atau penyakit yang dikarenakan “amah liak”. Sebagai penyakit medis, tentu harus ditangani secara medis dan cuci darah atau HD adalah jalan terbaiknya.

Singkat cerita tibalah pada hari yang menakutkan itu. Yakni hari pertama penulis menjalani HD. Mungkin karena pengaruh kekhawatiran keluarga terhadap resiko cuci darah, beberapa jam menjelang HD penulis sangat gelisah. Seakan-akan HD pertama itu adalah pintu kematian bagi penulis.

Saking takutnya dengan kata cuci darah dan ketakutan penulis melihat darah, jarum serta anggapan awal para perawatnya bertampang galak-galak, dari ruang inap hingga proses HD tersebut usai dan kembali ke ruang inap penulis memilih menutup mata dengan Kain hitam. Meski dalam keadaan mata tertutup kain hitam, penulis sangat merasakan jiwa, pelayanan yang tulus diruang HD BRSUD Tabanan tersebut.

Tidak hanya HD dihari pertama penulis tersebut, sikap melayani yang sedemikian tulusnya terhidang dari para perawat ruang HD BRSUD Tabanan hingga kini. Meski mereka harus melayani pasien ditengah pandemi Covid-19 yang juga terpapar pada beberapa pasien HD.

Tetap, dengan jiwa pelayanan yang tulus para perawat tersebut gigih melayani setiap pasiennya. Bahkan cara dan sikap mereka melayani seperti melayani keluarganya sendiri.

Tanpa bermaksud memuji yang berlebihan, penulis sangat merasakan merasakan dampak positif dari jiwa-jiwa melayani dengan spirit kekeluargaan para perawat HD bagi pasien. Setidaknya dampak positif bagi penulis secara pribadi.

Sikap melayani yang tulus dengan spirit kekeluargaan dari para perawat HD BRSUD Tabanan ini sangat berdampak bagi penguatan mental pasien atau penulis. Jujur, dulunya penulis berpikir akan “game over” atau tidak bisa melihat lagi tahun 2020 karena gagal ginjal yang memaksa melakukan cuci darah seminggu dua kali, kini telah memiliki semangat hidup yang berapi-api.

Bahkan rutinitas cuci darah bukan lagi rutinitas yang menakutkan (karena penulis takut disuntik dan melihat darah, red) kini justru menjadikan cuci darah sebagai ruang “masliahan”, saat yang dirindukan dan menambah semangat hidup. Sekali lagi itu tentu karena jiwa melayani dengan spirit kekeluargaan dari para perawat dan juga dokter ruangan. Selain juga bagi penulis rutinitas HD adalah kesempatan indah untuk berkumpul dengan sesama pasien HD.

Semoga jiwa-jiwa melayani dari para perawat HD BRSUD Tabanan ini juga berdampak positif bagi semua pasien HD untuk kemudian menjalani hidup dengan penuh semangat. Karena hidup ini memang sangat indah. Terbukti dari indahnya jiwa-jiwa yang berspiritkan kekeluargaan dari para perawat ruang HD BRSUD Tabanan.

Terima kasih para perawat dan dokter ruangan HD BRSUD Tabanan untuk pelayanannya yang sedemikian tulusnya.

Selamat Hari Ginjal Sedunia tahun 2021

Tentang penulis: Pasien HD BRSUD Tabanan, penyair, jurnalis yang bebas merdeka, Wakil Ketua PHDI Tabanan, Ketua Forum Satya Seni dan Budaya Tabanan (Forsbuda). Bertempat tinggal di Banjar Kamasan, Desa Dajan Peken, Tabanan