Dari Bali ke Papua menuju Refleksi Antar Budaya

39
Ngurah Suryawan

BaliNeLen, balipuspanews. com – Hidup di tengah kemacetan lalu-lintas transnasional, yakni Bali, dapat menjadi pengalaman yang melelahkan.

Sebab, gloBAlisasi  bukan sekadar mengapalkan lonceng angin dari bambu dan kucing kayu yang mengerling untuk dikirim ke butik-butik di Berkeley dan Brisbane, atau menyaksikan Bill Clinton dan Bay Watch berebut jam tayang utama di televisi di banjar, melainkan membuka pasar-pasar baru untuk komoditas kapitalisme kultural baru yang paling berharga: otentisitas.(Santikarma, 2001; Nordholt, 2010: 101)

Perjalanan kehidupan seseorang seringkali mengalami kelokan-kelokan tajam yang tak terduga sebelumnya. Itulah yang saya alami dan rasakan. Saat melanjutkan studi tahun 2009, saya mengambil salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya: memutuskan menjadi dosen di Papua Barat.

Tanpa saya sadari, saya masih bertahan hingga kini. Dunia saya berubah, dari Bali ke Papua. Urusan dengan Bali adalah hanya persoalan domestik (keluarga), tidak lagi soal akademik. Secara emosi akademik saya merasa berjarak dengan Bali, tumpah darah dan awal saya menekuni karir akademik sejak tahun 1997.

Dari Bali saya menuju Papua. Tentu ini tantangan besar bagi kehidupan sekaligus horizon akademik saya. Kajian wilayah dengan manusia dan kebudayaannya, saya rasakan banyak memberikan wawasan baru bagi sensitifitas kemanusiaan. Hal itu saya rasakan betul saat bersentuhan dengan Papua.

Minat studi saya pun bergerak liar tak tentu arah. Energi penelitian meletup-letup sejak saya tercatat secara resmi bergabung di Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat sejak tahun 2010. Saya beranikan diri—tepatnya nekad—untuk mempublikasikan beberapa karya diantaranya: Jiwa yang Patah (2012), Mencari Sang Kejora: Fragmen-Fragmen Etnografi (2015), Papua Versus Papua: Perubahan dan Perpecahan Budaya (2017) dan Suara-Suara yang Dicampakkan: Ontran-Ontran Tak Berkesudahan di Bumi Papua (2017) dan beberapa tulisan lainnya.

Dari Bali ke Papua
Saya mempunyai keinginan untuk mengenalkan Papua di Bali. Keinginan tersebut sudah tersimpan sejak awal. Saya ingin menyampaikan peristiwa “sesungguhnya”—paling tidak dari amatan dan pendapat saya langsung—yang terjadi di tanah Papua. Selama ini, orang di luar Papua selalu menyandarkan informasi tentang Papua dari media-media yang terbit di luar Papua. Dan maaf saja, lebih banyak menipu-nya daripada menyajikan fakta yang berimbang. Televisi nasional juga demikian adanya.

Media online mungkin kini yang bisa diandalkan, namun rentan bohong-nya. Cerita dari mahasiswa Papua yang menuntut ilmu di kota-kota besar Indonesia sangat-sangat terbatas. Begitu juga dengan buku-buku yang mereka terbitkan masih untuk kalangan terbatas, meski kini sudah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan.

Saya menerbitkan empat buku hingga akhir tahun 2017, juga dengan kemampuan terbatas dan tidak menjangkau luas. Oleh sebab itulah saya berkeinginan untuk memperkenalkan apa yang sebenarnya terjadi di Papua kepada publik di Bali. Bahan awal pendahuluan ini adalah catatan yang saya tuliskan saat melangsungkan tiga kali diskusi tentang Papua. Diskusi pertama berlangsung di Taman Baca Kesian (TBK), sebuah aose langka di tengah hiruk pikuk kota Denpasar.

Diskusi kedua berlangsung di Bentara Budaya Bali pada tanggal 10 Juli 2017. Sehari sebelumnya, tanggal 9 Juli 2017, saya menerbitkan sebuah esai sederhana di edisi hari minggu Tribun Bali berjudul “Papua dan Diri Kita yang Berubah”. Beberapa bagian saya tambahkan dengan kerangka dasar dari buku ini dan penjelasan dari masing-masing babnya.
Untuk saya sendiri, tak terbayangkan memang sebelumnya Papua akan menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup saya. Keputusan menjadi dosen di sebuah universitas negeri di kepala burung Papua adalah hal yang mengubah arah kehidupan saya seketika itu juga.

Tentu pilihan ini dengan berbagai resiko dan tantangan. Sebelumnya, kehidupan dan cakrawala akademik saya hanya berkutat dengan Bali dan problematika politik kebudayaan dan kekerasannya. Kedua tema ini memang menjadi fokus minat saya selama menekuni karir akademik dalam studi pendidikan formal. Seketika saat pindah melanjutkan studi ke Yogyakarta, pergaulan akademik saya meluas, ketertarikan pun berbagai macam tema, dan begitu juga dengan wilayah studi. Meski sesekali merasa khawatir kehilangan “gairah” melanjutkan studi tentang Bali, saya merasa “bergizi” dan tentu saja tertantang untuk memahami diri sendiri melalui Papua.

Studi tentang Papua ini seolah menjadi cermin dalam perjalanan akademik saya. Proses refleksi diri saya lakukan dengan melihat kajian tragedi 1965 yang menjadi awal penelitian akademik hingga dinamika identitas orang Papua dalam proses transformasi sosial budaya. Sebagai seorang Bali yang belajar antropologi, saya menemukan diri saya sendiri dalam perjalanan panjang akademik dan kehidupan tersebut. Saya mempelajari dinamika identitas budaya orang Papua sekaligus juga menjadi cermin dalam perjalanan hidup saya sendiri.

Saya belajar mengapresiasi orang lain, dalam hal ini permasalahan yang terjadi di Papua, yang juga adalah masalah kita bersama. Dari permasalahan Papua saya mencoba melihat masalah saya dan kita semuanya.

Saya merasa menemukan diri dalam perjalanan panjangan akademik tersebut. Saya mempelajari perjuangan orang-orang Bali yang dikorbankan pada sejarah pembantaian massal 1965. Begitu juga yang terjadi ketika orang-orang Papua biasa menjadi korban dari tipu muslihat para elit Papua.

Dalam kedua konteks peristiwa, saya melihat ada orang-orang opurtunis yang mengorbankan orang-orang lain. Refleksi terdalamnya saya kira adalah bahwa studi kebudayaan, perspektif “antropologi baru” yang saya tekuni, jauh dari keinginan untuk mengasingkan orang Bali atau orang Papua dalam hal ini. Studi “antropologi baru” justru sebaliknya yaitu berkeingan secara bersama-sama antara antropolog dan subyek yang ditelitinya berpartisipasi dan bergerak bersama untuk merubah diri masing-masing.

Perspektif penting lainnya adalah melihat Bali—juga menyandingkannya dengan Papua—pada wilayah friksi, dimana terjadi pertemuan antara orang-orang di garis depan dunia global. Bali berhadapan dengan raksasa kuasa kapital bernama pariwisata, sedangkan Papua perlahan-lahan tergerus eksploitasi sumber daya alam yang mengabaikan manusia Papua itu sendiri. Sungguh ironis. Pada akhirnya saya mencoba merefleksikan bagaimana perspektif reflektif dalam melihat diri dan kebudayaan Bali. Perspektif reflektif ini saya sandingkan dengan dekonstruktif untuk meyakini bahwa totalitas Bali tidak (akan) pernah statis, beku, ajeg apalagi mati. Tawaran saya, spirit Bali akan terus hidup, fluid, dan merasuk sebagai naluri karena kesadaran reflektif dan dekonstruktif tersebut.

Refleksi
Saya tidak akan pernah lupa, Santikarma (1994) dalam sebuah artikelnya mengungkapkan salah satu perspektif dalam melihat Bali adalah sebagai sebuah dekonstruksi, (Bali) sebuah “bangunan” yang harus terus dibongkar jika tidak ingin beku, statis, dan mati tidak bernyawa. Karena kesadaran untuk terus membongkar itulah budaya Bali selayaknya dipahami sebagai sebuah “bentukan” dari berbagai campur tangah agency dan kekuasaan yang membentuknya. Kekuasaan yang saling memakan satu dengan yang lainnya, bahkan sesama saudara.

Novel Y.B. Mangunwijaya, Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1987) merefelksikan hasrat kekuasaan membuat kita jatuh ke tingkat kemanusiaan paling rendah untuk saling memangsa. Hampir semua masyarakatnya terjebak dalam lingkaran saling melenyapkan satu dengan yang lainnya. Perumpamaan Ikan Hiu menggambarkan kekuatan kapital (kuasa modal). Ikan Ido mencitrakan ketamakan penguasa lokal (baca: negara) yang dengan semena-mena memakan Ikan Homa, yang tidak lain adalah rakyatnya sendiri. Pada akhirnya, Ikan Ido juga termakan oleh keganasan Ikan Hiu. Semuanya pasrah, tergantung, dan menyerahkan kehidupannya kepada kekuatan lain diluar kuasa bahkan bayangan kita.

Proses menjadikan diri reflektif dan inklusif tidaklah mudah. Penjelajahan yang panjang terhadap sisi-sisi getir kemanusiaan sangatlah diperlukan. Fragmen-fragmen manusia yang “dikalahkan” membuka ruang refleksi yang dalam pada hubungan antara kebudayaan dan identitas diri manusia yang terus berubah. Kebudayaan menawarkan ruang bagi refleksi kritik diri manusia dalam rentang sejarahnya. Diri manusia bukanlah substansi, tetapi subyek yang terus bergerak, jadi diri manusia, dan juga demikian dengan identitasnya adalah sebuah gerakan sosial.

Pemahaman kebudayaan dengan perspektif reflektif berkaitan dengan revolusi kesadaran historis manusia akan hakekat hidupnya. Pada titik inilah dilantunkan eksistensi manusia yang terbentang antara masa lampau dan masa depan. Pemahaman kebudayaan dengan demikian bertumpu pada pemahaman atas diri sendiri dalam konteks historisnya. Bagi manusia, memahami kebudayaan juga berarti pemahaman dirinya, identitasnya sendiri. Jika demikian, memahami kebudayaan lain (antar budaya), selain berusaha untuk belajar bersama-sama kebudayaan tersebut juga adalah memahami diri manusia tersebut. Semangatnya adalah mengapresiasi budaya lain dan juga dalam rangka menemukan identitas diri yang inklusif, dinamis, transformatif, dan dengan demikian juga dialektis.

Penulis : I Ngurah Suryawan, Antropolog dan menulis buku Mencari Bali yang Berubah (2018

 

Loading...