Agenda seminar budaya mengisi kegiatan awal pelaksanaan Denpasar Festival (Denfest) sebelum dibuka secara resmi pada, Sabtu (28/12)
Agenda seminar budaya mengisi kegiatan awal pelaksanaan Denpasar Festival (Denfest) sebelum dibuka secara resmi pada, Sabtu (28/12)

DENPASAR,  balipuspanews.com – Agenda seminar budaya mengisi kegiatan awal pelaksanaan Denpasar Festival (Denfest) sebelum dibuka secara resmi pada, Sabtu (28/12). Kegiatan seminar dibuka secara resmi Walikota I.B Rai Dharmawijaya Mantra ditandai dengan pemukulan gong di Hotel Inna Bali Heritage, Denpasar. Kegiatan ini dihadiri Kadis Kebudayaan Kota Denpasar I Gusti Ngurah Bagus Mataram, kelompok ahli Kota Denpasar, budayawan, akademisi, guru SMP dan SMA, hingga bendesa, lurah/perbekel se Kota Denpasar. Dalam kesempatan tersebut juga tampak hadir Direktur Pendidikan Tinggi IPTEK dan Kebudayaan Bappenas RI, Dr. Hadiat, MA serta Pimpinan OPD terkait Pemkot Denpasar.

Walikota Rai Mantra dalam sambutannya mengajak untuk terus berkreatifitas dalam menjawab tantangan Resilien Identitas. Dimana resilien merupakan kapasitas seseorang untuk merespon secara sehat dan produktif atau kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Seperti dalam menjaga sebuah identitas yang harus dilakukan secara kreatif. Hal ini tidak terlepas dari Kota Denpasar yang tidak memiliki sumber daya alam, namun memiliki sumber daya manusia yang mumpuni serta mampu menjawab tantangan globalisasi. Saat ini dalam pengembangan orange ekonomi yang telah dijawab dalam puncak kreativitas dengan keberadaan Balai Budaya Dharmanegara Alaya di Lumintang Denpasar. Dharmanegara Alaya sebagai pusat pengembangan ekonomi dan warisan budaya, hal ini tidak terlepas dari potensi  besar nilai warisan budaya yang sangat berpeluang untuk dapat dikuatkan dan dikembangkan. “Bagaimana kita bisa menjaga identitas kita dengan sebaik-baiknya sebagai kota budaya memerlukan suatu kolaborasi demi sebuah nilai dan tanggungjawab dalam pembangunan,” ujar Rai Mantra.

Lebih lanjut menurut Rai Mantra dalam era industri 4.0, kebudayaan mampu masuk dan berinteraksi seperti pelaksanaan Denfes mendukung kreatifitas dan kebudayaan serta mencari bentuk ekonomi yang sesuai dengan karakteristik kebudayaan. Denfes dilaksanakan sebagai bentuk pertumbuhan ekonomi yang memerlukan kekuatan dan ketangguhan dalam identitas tersebut. Dari warung kecil mampu bertransfromasi mempertemukan tradisi dan kekinian saat ini. Seperti kemasan makanan, melihat cara berdagang, serta terjadi interaksi kemasan dan interaksi digital. “Hal ini menjadi sebuah perpaduan membuat ketahanan identitas budaya, serta saat ini terdapat orange ekonomi yang berdampak prilaku ekonomi masyarakat. Dharmanegara Alaya sebagai pusat pengembangan ekonomi warisan budaya serta tersentuh pertemuan orange ekonomi yang menjadi potensi besar nilai warisan budaya  dikuatkan dan dikembangkan, serta menjadi kewajiban bersama dalam menjaga warisan leluhur kita,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan, I Gusti Ngurah Bagus Mataram mengatakan seminar  Denpasar dalam resilien identitas kota budaya sinergi inovasi Denfes dan indeks pembangunan kebudayaan. Momen ini diharapkan dapat menjadi motivasi dalam memelopori aktivitas dan kreativitas seluruh warga masyarakat sebagai perwujudan dari pembangunan mental insani yang luhur. Pembangunan kebudayaan ini merupakan bagian yang sangat penting dalam pembangunan Nasional, karena disinilah letak semangat antara pemerintah dan masyarakat terjalin dalam satu tujuan, yaitu mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara lahir dan bathin yang berkeadilan. (Rls/bpn/tim)