DASHAT Hadir di DIY, Kepala BKKBN Optimis Capai Zero Stunting

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo pada acara Peluncuran Program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) Secara Serentak di Seluruh Kampung Keluarga Berkualitas Se-DIY melalui virtual.
Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo pada acara Peluncuran Program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) Secara Serentak di Seluruh Kampung Keluarga Berkualitas Se-DIY melalui virtual.

JAKARTA, balipuspanews.com – Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo menyampaikan arahannya pada acara Peluncuran Program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) Secara Serentak di Seluruh Kampung Keluarga Berkualitas Se-DIY melalui virtual pada Selasa/30/11/2021, “Pembangunan DASHAT ini tentu menindaklanjuti spirit dari arahan Bapak Presiden terkait dengan percepatan penurunan stunting yang harus menuju angka 14% di tahun 2024, waktu tinggal 2,5 tahun sehingga kita harus bekerja cepat dalam rangka untuk merespon stunting itu.

“Kesempatan untuk mencegah stunting itu ada pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) terhitung sejak pertemuan antara sel telur dan sel sperma sampai si anak umurnya 2 tahun kurang sedikit karena orang hamil itu 280 hari kemudian diluar tinggal sisanya 720 hari dan itulah membutuhkan asupan yang sangat penting untuk gizi seimbang. Sebetulnya pertanda bahwa 1000 hari itu penting sudah ada didalam ciri-ciri bayi itu sendiri dimana sebelum usia 1000 hari ubun-ubunnya belum menutup jadi masih renggang karena otak masih bisa berkembang tetapi begitu masuk 1000 hari maka tulang ketemu tulang sehingga kepala sudah tidak dapat berkembang lagi sehingga itulah kesempatannya 1000 HPK untuk memberikan asupan nutrisi yang sebaik-baiknya”, terang dr. Hasto.

“Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih atas inisiatif dari Gusti Bendara yang juga kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah Kabupaten dan Kota, saya juga berterimakasih kepada Pak Joko dari Bantul karena di Bantul juga sudah membuat inisiasi 1 dusun diberikan anggaran 50 juta khusus untuk mengatasi stunting ini. Ini saya kira kebijakan-kebijakan best practice yang sangat bagus untuk kemudian nanti bisa kita share ke beberapa wilayah di Indonesia. Kunci sukses untuk tidak stunting adalah gizi seimbang dan gizi seimbang itu tidak mahal tapi kuncinya ada protein hewani dan kita anjurkan protein hewaninya tidak perlu protein hewani yang mahal yaitu cukup protein hewani yang bersumber dari telur dan ikan karena telur dan ikan itu cukup murah”, tambahnya.

Baca Juga :  Pidato Puan di Sidang Tahunan Laksana Visi Membangun Indonesia ke Depan

Selain itu, hadir juga Kepala Perwakilan BKKBN DIY Shodiqin, SH, MM menambahkan, “Kami dari BKKBN bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam hal ini dari kota Yogyakarta telah melaksanakan untuk launching program DASHAT, sehingga BKKBN dapat menjalankan amanah ini sesuai dengan petunjuk peraturan dari Bapak Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting. Tugas dan tanggung jawab BKKBN yang begitu besar tidak mungkin BKKBN bekerja sendiri dan ini perlu dukungan dari semua pihak dan juga mitra-mitra kami untuk bersama-sama bagaimana cara untuk bisa menurunkan stunting sesuai yang diharapkan Bapak Presiden yaitu tahun 2024 diusahakan stunting bisa turun hingga 14%”, tambah Shodiqin.

Dijelaskannya, Kabupaten Kota se-DIY dan rata-rata di DIY sudah rendah stuntingnya terutama di Yogya ini kurang lebih sekitar 12% dan Insyallah dari Yogya ini bisa zero stunting dan kami harapkan di Yogya ini adalah salah satu percontohan tingkat nasional jika dukungan semuanya bisa bersama-sama berhasil menurunkan stunting.

Baca Juga :  Cegah Kelompok Kaya Nikmati Penghematan Subsidi BBM Regresif dengan Bantuan Tunai

“BKKBN berusaha untuk bagaimana stunting di 2024 itu betul-betul tercapai 14% sehingga BKKBN dengan strategi mencegah jangan sampai terjadinya stunting dan itu BKKBN beberapa bulan yang lalu sudah membuat terobosan atau inovasi untuk penurunan stunting yaitu dengan membentuk tim pendamping keluarga, jadi stunting itu dimulai dari keluarga pendekatan melalui keluarga dimana tim pendamping keluarga ini di DIY sudah terbentuk sekitar 1.852 dimana setiap tim pendamping keluarga itu ada 3 unsur yaitu dari Kesehatan atau Bidan, Tim Penggerak PKK dan Kader-kader yang ada di daerah,” ujarnya.

“Harapan kami dengan adanya launching ini, jangan berhenti sampai sini kegiatan-kegiatan yang sudah ada kita laksanakan ini juga salah satu di DIY yang mendapat dukungan dari mitra pihak swasta seperti yang sudah kita ketahui bersama seperti ACT berupa Freezer dan juga bantuan dari BBS berupa edukasi bagaimana kelompok-kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga aseptor ini juga mendapatkan penghasilan,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Gusti Kanjeng Ratu Bendara sangat menyambut baik terbentuknya DASHAT ini, “Harapan DASHAT ini bisa menyelesaikan segala permasalahan masyarakat, masyarakat menengah kebawah diperlukan sebuah bantuan pangan. Mengenai masyarakat menengah keatas perlu diberikan edukasi yang perlu digaungkan, karena masyarakat Indonesia itu kencang akan sebuah stigma yang timbul, tidak hanya permasalahan stunting ataupun covid dll. Bagaimana kita bisa membungkus diksi stunting agar tidak malu, namun kita Gerakan agar siapapun bisa lapor dan teratasi, stunting itu tidak memalukan namun stigma itu yang harus diubah dikalangan atas.

Baca Juga :  Pemakaian Produk Lokal Optimalkan Bonus Demografi di Indonesia

“Ada kasus orang takut dibantu mengenai stunting karena takut dicap keluarga stunting, maka dari itu perlunya pemberian sebuah edukasi tersebut. Saya harap zero stunting akan tercapai seluruh Indonesia untuk mencapai Indonesia emas dikemudian hari,” imbuh Bendara.

Wakil Walikota DIY Drs. Heroe Poerwadi, MA – Wakil Walikota DIY menambahkan “Kami concern pada dikuatkan fasilitas yang dimiliki untuk menurunkan angka stunting. Sejak anak lahir sampai berumur 2 tahun harus dijaga gizinya agar pertumbuhannya maksimal. Kita gunakan Gerakan DASHAT dan Gerakan lainnya untuk bersinergi dengan masyarakat, dengan adanya Zero stunting ini berharap untuk stunting di DIY tidak ada lagi, dan kami memiliki kendaraan gender corner untuk bagian konsultasi dengan permasalahan keluarga,” ucap Heroe.

“Setiap puskesmas juga memiliki kelas ibu untuk konsultasi mengenai ibu hamil mengenai proses hamil sampai pertumbuhan anak dikoordinasi oleh setiap lurah. Kita juga melakukan berbagai bentuk upaya sosialisasi dan praktek PMBA disetiap daerah sebagai pembentukan tindak lanjut dari Gerakan zero stunting. Terimakasih kepada Pak Hasto yang sudah mensupport, semoga stunting yang ada di Indonesia ataupun di DIY bisa teratasi agar semua memiliki fokus dan konsentrasi tidak ada lagi bayi lahir dengan stunting dan Indonesia jadi lebih baik lagi,” tutupnya.

Penulis/editor : Ivan Iskandaria.