Penyanyi Dewata Creative dalam Album Sesana Alit-Alit Bali Mautama saat Launching Album Kompilasi.
Penyanyi Dewata Creative dalam Album Sesana Alit-Alit Bali Mautama saat Launching Album Kompilasi.

DENPASAR, balipuspanews.com – Dunia tarik suara di Bali khususnya tembang pop Bali masih banyak digemari dan dicintai oleh masyarakat Bali, hal terbukti dengan lahirnya sanggar musik Dewata Creative yang berhasil meluncurkan album pop Bali berjudul “Sesane Alit-Alit Bali Mautama”. Pengenalan album yang dikemas berupa DVD video klip ini dilangsungkan dalam satu acara peluncuran di Big Garden, kawasan Padang Galak, Denpasar, Jumat (31/7).

Menurut Dewa Sujana, pimpinan
Dewata Creative, peluncuran album ini dengan mengambil konsep Tri Hita Karana, alasannya tiada lain sebagai filosofi kehidupan sehari-hari masyarakat Bali diangkat dengan maksud album ini tidak hanya sekadar hiburan namun juga memiliki nilai edukasi yang tinggi.

“Dengan harapan, setelah menyimak, mendengar lagu dan menonton video klip di album ini secara utuh, dapat tergambar secara jelas konsep Tri Hita Karana di album ini,” ujarnya.

Aransemen musik keseluruhan lagu di album ini langsung ditangani Dewa Sujana, kecuali satu lagu Metulis di Hati, diaransemen Dek Artha. Sedangkan penggarapan video klip dipercayakan kepada videografer Gede Purnama Jaya.

Dari 10 lagu yang terangkum di album Sesane Alit-Alit Bali Mautama, 9 di antaranya adalah karya pencipta lagu pop Bali kenamaan Dewa Mayura, dan 1 lagu Makejang Buat Iraga, merupakan buah karya De Alot yang juga dikenal sebagai “senior” di blantika musik pop Bali.

Adapun pendukung album ini bisa dibilang bukan asal comot. Penyanyi anak dan remaja yang ambil bagian di album ini punya kemampuan menyanyi di atas rata-rata dengan latar belakang pendidikan vokal yang terarah serta pengalaman lomba di berbagai kesempatan.

Mereka adalah Chefi Defi (Sanghyang Dewi Saraswati), Gek Ita (Astungkara), Rani Iswari (Mekejang Buat Iraga), Bulan Manohara (Bulan Jegeg), Ciesta Anindia (Sesatya Matan Ai), Nadia Paramita (Ibu Setate Di Hati ), Ayu Mah Maharani (Alit-Alit Dewata) Gung Yeis (Menek Bajang), Vania Sakanti (Ngulgulin Hati), dan Mawar Pradnya (Metulis Di Hati).

Akan halnya nilai-nilai Tri Hita Karana, Dewa Sujana menjelaskan, aspek keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Pencipta jelas tergambar dalam lagu Sanghyang Dewi Saraswati yang berkisah bagaimana kita memuja Tuhan dalam manifestasi Dewi Saraswati, dan lagu Astungkara, yang bercerita tentang keagungan Ida Sang Hang Widhi Wasa sebagai tujuan doa-doa umat manusia.

Aspek keharmonisan hubungan manusia dengan alam dapat disimak dalam lagu Mekejang buat irage, yang bercerita tentang keberadaan alam serta imbauan untuk bersama-sama menjaga alam beserta isinya, dan lagu Bulan Jegeg, yang mengilustrasikan kekuatan alam dan bulan sebagai sumber inspirasi bagi umat manusia untuk kebaikan umat manusia.

Aspek keharmonisan hubungan manusia dengan dengan sesamanya tergambar dalam sebagian besar lagu selebihnya, mulai dari hubungan antara anak dan orangtua, hubungan anak-anak dengan sesama, pun perkembangan atau masa peralihan dari anak-anak ke masa remaja.

Sebut misalnya lagu Sesatya Matan Ai, Ibu Setate Di Hati, Alit Bali Dewata, Menek Bajang, Ngulgulin Hati, dan Metulis Di Hati.

Dewa Sujana menyebut, ada yang berbeda dari judul album ini dibandingkan dengan album lainnya yang kerap ditemui. Perbedaannya yaitu nama album Sesana Alit-Alit Bali Mautama ini tidak mengambil dari salah satu judul lagu yang ada dalam album ini.

Mengawali launching album ini, sebagai penampilan perdana diawali oleh Chefi- Defi dengan suara emasnya menembangkan lagu Sang Hyang Dewi Saraswati.

Turut hadir dalam launching album ini seperti Yong Sagita, De Ama, Ketua Pramusti Bali Gusti Ngurah Murthana atau kerap disapa Rah Man, Dewa Mayura, De Alot.

Penulis/Editor : Budiarta/Oka Suryawan

Facebook Comments