lomba merpati terbang tinggi
lomba merpati terbang tinggi
sewa motor matic murah dibali

NEGARA, balipuspanews.com – Meski jumlah pesertanya menurun dibanding tahun lalu, namun lomba meepati terbang tinggi tetap meriah. Lomba yang digelar Minggu (24/8) di taman 5 Pecangkan ddikuti oleh 180 ekor merpati.

Lomba sebagai upaya melestarikan tradisi serta kearifan lokal Bupati Jembrana Cupitu dibuka Wakil Bupati I Made Kembang Hartawan bersama ketua sementara DPRD Kabupaten Jembrana, Ni Made Sri Sutarmi, ditandai pelepasan burung merpati keudara.

Ketua panitia, IGN. Komang Grya mengaku, kalau lomba ini diikuti oleh para seka demen(pecinta) burung merpati di kabupaten Jembrana. “Lomba sekarang pesertanya jauh lebih sedikit disbanding tahun lalu karena jadwal perlombaan bersamaan dengan acara lomba mekepung. Kalau saja tidak bersamaan saya pastikan pesertanya akan jauh lebih banyak. Saat ini ada 180 pasang saja yang ikut,” ujarnya.

Untuk menentukan pemenang, Komang Grya menegaskan, semua saye atau juri berlaku jujur dan transparan .”Mereka kita sudah posisikan di setiap acal-acal (tempat penilaian). Kita siapkan 4 acal-acal, setiap acal-acal diisi sebanyak 11 orang yang terdiri dari saye tengah 8 orang, saye tumpeng 2 orang dan saye kemong 1 orang dengan kreteria penilaian meliputi, gilik, tajep, buntut, bunter,nyeleseh dan pegat menek,” tegasnya.

Sementara Wakil Bupati I Made Kembang Hartawan mengatakan, lomba burung merpati terbang tinggi merupakan salah satu tradisi budaya yang ada di kabupaten Jembrana. Keunikan tradisi serta nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam Lomba Burung Merpati Terbang Tinggi itu disebut Wabup Kembang harus senantiasa dijaga salah satunya melalui pelaksanaan lomba kali ini. “Keunikan tradisi budaya ini kita harapkan akan memberikan dampak positif bagi pelestarian budaya dan lingkungan alam. Selain itu melalui seka demen burung merpati terbang tinggi ini kedepan bisa memberikan kontribusi positif bagi pengembangan sektor pariwisata.

Terlebih lagi lomba burung Merpati terbang tinggi Bupati Jembrana Cup hari ini bisa langsung dihadiri komunitas pecinta burung merpati Bali,sekaligus mempererat ikatan menyama braya,” ungkapnya. Selain itu diharapkan panitia tetap menjaga serta mempertahankan tradisi dan ciri khas lokal dalam pelaksanaan lomba. Seperti penggunaan stop watch menggunakan ceeng (tempurung kelapa) diisi air, alat penilai menggunakan acal-acal dan kulkul (ketongan) serta istilah-itilah lokal lainnya.

“Harus dipertahankan, karena keunikannya ada disana. Kendati sebenarnya bisa diganti dengan alat ukur yang lebih moderen , “jelasnya. (nm/bpn/tim)