Merpati di Karangasem
Merpati di Karangasem
sewa motor matic murah dibali

KARANGASEM, balipuspanews.com – Belakangan ini, burung merpati menjadi salah satu dari sekian banyak jenis burung yang mulai populer di Bumi Lahar, Karangasem.

Penghobi burung jenis ini, saat ini bisa dikatakan cukup banyak dan tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Karangasem bahkan sampai membentuk sejumlah komunitas pecinta merpati baik ditingkat lokalan hingga skala Kabupaten.

Menurut salah seorang penghobi burung merpati asal Dusun Bangbang Biaung, Desa Duda, Selat, Karangasem bernama I Kadek Arianta (27), memelihara burung jenis ini bukanlah dinilai dari seberapa indah kicauannya melainkan dari warna bulu dan ketangguhannya ketika beradu diudara.

“Kalo saya pelihara merpati penerbang, jika membeli harus diperhatikan body dan sayap merpati, Merpati penerbang yang bagus memiliki ukuran bodi yang bagus serta sayap yang lebar,” kata Arianta saat ditemui dirumahnya, Minggu (28/07/2019).

Arianta sendiri bisa dikatakan sebagai salah satu penghobi merpati senior diwilayahnya, bayangkan dari lulus SMA hingga saat ini masih konsisten mempertahankan hobinya bahkan makin kesini kecintaannya terhadap burung legendaris pada masanya itu kian bertambah seiring munculnya komunitas – komunitas penghobi Merpati.

Di Karangasem sendiri untuk jenis burung Merpati, sejauh ini belum diketahui pernah diadakannya lomba seperti burung jenis kicauan. Namun dikalangan penghobi lokalan ada semacam persaingan atau pertandingan antar penghobi hanya saja tidak bersifat resmi.

Setiap pagi, masing – masing penghobi akan menerbangkan hingga puluhan merpati andalannya. Merpati yang diterbangkan itu akan membentuk kelompok ketika berada dilangit dan terbang berputar – putar.

Disinilah akan tejadi pertandingan ketika kelompok atau kawanan merpati milik penghobi yang lainnya bertemu dengan koloni merpati alinnya diudara dan bergabung atau “cakup” begitu istilah yang digunakan para penghobi.

Setelah “cakup” dan berputar putar beberapa lama diudara, merpati – merpati ini kemudian berpisah dan kembali kesarang (tuannya) masing -masing. Pada saat kembali inilah puncak keseruannya, jika beruntung merpati lawan akan tertarik dan ikut turun dengan koloni merpati lainnya oleh penghobi disebut sebagai “lolosan/cubdang”.

“Kalo beruntung bisa bawa turun dua ekor lolosan lumayan dijual untuk beli pakan, kalo lagi apes ya merpati kita yang kalah,” tutur Arianta.

Disamping hobi, memelihara dan ternak burung merpati juga memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan, harga merpati dengan warna bulu tentu bisa mencapai Rp. 500 – Rp. 600 ribu per ekornya. Sedangkan untuk merpati dengan warna dan kualitas biasa harganya Rp.150 ribu perekornya.

Dengan harga seperti itu, tentunya bisa menjadi peluang ekonomi bagi peternak merpati disamping proses ternak dan pemeliharaan yang cukup mudah. Hanya saja perlu juga memperhatikan beberapa hal seperti pakan agar Merpati terhindar dari penyakit. (suar/bpn/tim)