Di luar Tradisi, Dirjen Tri Handoko Seto Catat Sejarah Baru

Dr. Tri Handoko Seto didampingi istri usai pelantikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu untuk masa bakti 2020-2025 di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kementerian Agama RI, Senin (10/8/2020)
Dr. Tri Handoko Seto didampingi istri usai pelantikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu untuk masa bakti 2020-2025 di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kementerian Agama RI, Senin (10/8/2020)

JAKARTA, balipuspanews.com – Terpilihnya Dr. Tri Handoko Seto sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu, Kementerian Agama RI, menjadi catatan sejarah baru di lingkup direktorat yang melakukan pembinaan dan melayani umat Hindu di Indonesia itu.

Pasalnya, pemilihan dan penetapan pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur pada 12 Desember 1971 ini di luar dari tradisi seniornya selama ini. Dari catatan balipuspanews.com, jabatan Dirjen Bimas Hindu selalu diisi oleh kalangan akademisi dan etnis Bali.

Selain itu, dengan latarbelakang teknokrat sebagai pejabat karir di Badan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Riset dan Teknologi RI, ia juga telah menorehkan sejarah baru.

Usianya yang tergolong sangat muda untuk jabatan prestisius itu juga menambah catatan profil dirinya yang patut diberi apresiasi.

Menanggapi itu, Tri Handoko Seto, yang akrab dipanggil Seto meminta agar tidak perlu dipersoalkan latar belakang etnis, label maupun latarbelakang seseorang untuk mengemban jabatan Dirjen Bimas Hindu.

“Iya nggak apa-apa. Tidak perlu dipersoalkan,” jawab Tri Handoko Seto singkat usai pelantikan di Auditorium Raung HM. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Senin (10/8/2020).

Untuk itu, ia mengatakan konsolidasi dan pemetaan masalah menjadi langkah awalnya dalam bekerja, setelah dilantik memimpin Ditjen Bimas Hindu.

“Kami tentu akan konsolidasi, kami akan memperkuat pemetaan. Input data untuk semua kebijakan harus benar-benar firm. Tanpa input yang benar maka saya khawatir hasilnya akan kurang bagus,” ucap Seto.

Pelantikan tersebut merupakan hasil Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Madya di Kemenag RI yang prosesnya berlangsung sejak April 2020.
Tri Handoko terpilih melalui sidang Tim Penilai Akhir (TPA) yang berlangsung secara tertutup.

Sebelum ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), terdapat tiga besar nama calon Dirjen Bimas Hindu diajukan ke Presiden Jokowi.

Ketiganya, yakni Guru Besar IHDN Denpasar Prof Dr Drs I Nengah Duija MSi, Guru Besar Ilmu Manajemen Undiknas Prof Dr Ida Bagus Raka Suardana SE MM, serta Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Wilayah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TPSW-BPPT) merangkap Kepala Balai Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT) Dr. Tri Handoko Seto.

Dalam menetapkan pilihannya, Presiden Jokowi dibantu 10 menteri dan lembaga terkait antara lain pimpinan BIN, Kepala PPATK, Menteri PAN RB, Kepala BKN, Mensesneg dan Menseskab.

Seto mengucapkan terima kasihnya atas atas kepercayaan yang diberikan kepada Presiden Jokowi, para menteri dan tim seleksi yang telah memberinya kepercayaan mengemban tugas berat tersebut.

“Tentu saya mengucapkan kepada Pak Presiden yang telah memilih saya. Terima kasih juga kepada para menteri yang telah mendukung Pak Presiden untuk menetapkan pilihan kepada saya, kemudian terima kasih juga kepada panelis Kementerian Agama dan dari eksternal yang telah melakukan seleksi secara transparan dan sangat kredibel,” ujarnya.

Namun, baginya yang paling penting dari itu semua setelah pelantikan ini adalah permintaan dukungan dari umat Hindu di seluruh Indonesia kepada dirinya.

“Tak lupa dukungan semua umat Hindu di Indonesia yang bertubi-tubi datang kepada saya,” ujarnya.

Ia mengatakan dalam waktu dekat akan melakukan komunikasi dengan para calon yang sudah mengikuti seleksi selama ini.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua calon yang telah mengikuti seleksi ini. Saya dapat banyak masukan dari beliau-beliau dan saya akan segera kontak beliau-beliau untuk bersama-sama saya ajak bersama rakyat untuk membangun umat Hindu kita,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mengatakan konsolidasi dan pemetaan masalah menjadi langkah awal, ia setelah dilantik memimpin Ditjen Bimas Hindu.

“Kami tentu akan konsolidasi, kami akan memperkuat pemetaan. Input data untuk semua kebijakan harus benar-benar firm. Tanpa input yang benar maka saya khawatir hasilnya akan kurang bagus,” sebutnya.

Ia kembali menegaskan konsolidasi antar komponen umat Hindu menjadi hal mutlak untuk dilakukan.

“Karena itu, mohon izin saya akan segera melakukan konsolidasi internal untuk memastikan bahwa langkah-langkah ke depan, itu yang terbaik bagi umat,” tutup Seto.

Untuk diketahui, sejak berdiri Tahun 1966 silam, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu selalu dijabat dari etnis Bali. Selain itu, jabatan ini pun lebih dipercayakan dari kalangan akademisi.

Pengisian tiga jabatan terakhir menunjukkan kuatnya etnis Bali dan kalangan akademisi untuk jabatan ini. Yaitu Dirjen Bimas Hindu dan Budha (masih bergabung dengan Agama Budha), Periode Tahun 2000-2006, dijabat Prof Dr. I Wayan Suarjaya MSi merupakan Guru Besar
Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN). Wayan Suarjaya tercatat sebagai Dirjen keenam sejak lembaga ini dirikan tahun 1966 silam.

Lalu Dirjen Bimas Hindu ketujuh, Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, MS periode 2006-2014, merupakan mantan Rektor dan Guru Besar Uiversitas Hindu (Unhi) Denpasar. Lalu Dirjen Bimas Hindu kedelapan, Prof. I Ketut Widnya MA MPhil PhD periode 2014-2020 juga Guru Besar Unhi Denpasar.

Penulis/Editor: Hardianto/Oka Suryawan