Ahmed Mushtaque Chowdhury, Vice Chairperson BRAC - India and Bangladesh

NusaDua, balipuspanews. com – Pernikahan usia dini dibawah 18 tahun menjadi sorotan dalam penutupan Konferensi Internasional tiga hari Viable and Operable Ideas for Child Equality (VOICE) dengan tema “Finding Scientific Answer to the 21st Century Challenges for Families, Communities, and Public Policy” di Bali International Convention Centre,  Jumat ( 14/12).

” Di Bangladesh separuh anak dibawah umur 18 tahun menikah, hal yang sama juga terjadi di Indonesia,ini tidak bisa diterima ,” kata Ahmed Mushtaque Chowdhury, Vice Chairperson BRAC – India and Bangladesh usai jadi pembicara dalam konferensi VOICE di Hotel Westin, Nusa Dua, Jumat (14/12).

Menurutnya, pernikahan anak di bawah umur itu tidak bisa teruskan lantaran mereka masih muda dan tidak siap secara mental serta fisik.

Guna melakukan pencegahan terhadap pernikahan secara dini, kata Ahmed diperlukan peran orang tua menyadarkan kepada anaknya kalau menikah dini bukan cara yang tepat.

Selanjutnya memberikan kesempatan pendidikan dan pekerjaan kepada usia dini guna menunda pernikahan.

Kemudian, kalau menikahkan anak dibawah umur menjadi tanggungjawab suami.

“Penyebab dari pernikahan dini adalah kurangnya pengetahuan soal pernikahan, ” ujarnya.

Lebih jauh diketahui Ahmed Mushtaque Chowdury, Wakil Ketua BRAC memberikan keynote speech berjudul “Turning Evidence Into Meaningful Action and to start NOW”.

BRAC yang berdiri dan berbasis di Bangladesh merupakan organisasi masyarakat sipil terbesar di dunia dengan mempekerjakan 100.000 staf dan menjangkau 120 juta penerima manfaat. BRAC bekerja dalam bidang Pendidikan, Kesehatan, Pengentasan Kemiskinan, dan Keuangan Mikro, dengan fokus pada anak-anak dan wanita.

Chowdury menjelaskan bahwa kunci kesuksesan BRAC adalah terletak dalam penggunaan bukti.

Dia menyoroti keberhasilan program Terapi Rehidrasi Oral (ORT) yang dimulai pada tahun 1980 untuk melawan diare yang merupakan pembunuh utama bagi anak-anak Bangladesh.

Sekarang Bangladesh memiliki tingkat penggunaan ORT tertinggi secara global.

Lebih jauh, secara umum Ahmed juga
meminta kepada semua komponen yang terlibat dalam konferensi ini untuk menindaklanjuti dengan riset soal ide ide perlindungan anak.

” Banyak ide bagus soal perlindungan anak, cuman butuh riset soal itu, ” katanya. (art/bpn/tim)