Atraksi budaya Nusantara di Taman Nusa
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Gianyar, balipuspanews. com – Sekitar 200 delegasi IMF-World Bank 2018 Gianyar terkesima dengan pagelaran seni dan budaya dari Taman Nusa, Gianyar, Sabtu ( 13/10).

“Kami mengucapkan terima kasih kepada ASITA, Panitia IMF Pemkab Gianyar yang telah merekomendasi delegasi untuk berkunjung ke Taman Nusa sebagai salah satu destinasi yang menampilkan seni dan budaya. ” kata I Nyoman Murjana, General Manager Taman Nusa ketika diminta keterangannya usai acara.

Sementara itu, dalam Pawai atraksi budaya yang membuat terkesima para delegasi IMF itu dimulai oleh Gong Kebyar.

Gong Kebyar adalah prosesi musik yang didominasi oleh instrumen beat yang digabungkan dalam gamelan ini adalah Kendang, Gangsa, Kajar, Cengceng, Klenang dan Kempur.

“Ini menghasilkan musik harmonis, jamak dan melodi yang juga akan menemani Tari Puspanjali dan Tari Tenun dilanjutkan oleh Umbul umbul, kober, Tedung, Rantasan, dan pastor dengan Bajra mereka Di tengah parade hadiah gebogan yang dibawa oleh wanita Bali,” jelasnya.

Gebogan adalah simbol persembahan, dalam bentuk pengaturan buah dikombinasikan dengan kue, makanan ringan, bunga dan hiasan kelapa kuning. Bali gebogan biasanya dibuat agak menjulang, susunan buah dan kue yang rapi dan berwarna-warni, menyempit di bagian atas, dan dilengkapi dengan “canang sari” dan “sampain gebogan” di bagian paling atas.

“Gebogan adalah simbol syukur kepada Sang Pencipta, atas berkat dan rahmat kesuburan,
kemakmuran dan keselamatan di dunia,” ujarnya.

Kemudian pawai dilanjutkan dengan Pertunjukan Tari Barong Tari Barong menggambarkan pertempuran antara roh yang baik dan roh jahat. Barong adalah hewan mitologis yang mewakili roh yang baik dan Rangda adalah monster mitologis yang mewakili
kejahatan Pawai dilanjutkan oleh barisan muda Bali dengan Payas Agung yang akan menghadirkan Tari Puspanjali Puspanjali berasal dari kata “puspa” (berarti: mekar, kesopanan) dan “anjali” (berarti: salam, penghormatan). Ini memiliki arti penghormatan dengan kesopanan.

Tarian ini dilakukan sebagai tarian selamat datang untuk menghormati tamu-tamu penting dan sebagai tarian sekuler yang indah (balih-balihan).

Parade Diikuti oleh barisan Jegeg Bali dengan Payas madya / lelunakan dengan Tari Tenun Tenun Tari Tenun menggambarkan perempuan yang sedang menenun. Kostum dan tata rias di Tenun sedikit berbeda dari tarian lainnya.

Tarian ini menggunakan “lelunakan” Pawai dilanjutkan oleh barisan pemuda dengan kostum dan tarian tradisional Tarian tradisional Indonesia mencerminkan kekayaan dan keragaman etnis dan budaya Indonesia.

“Ada lebih dari 700 kelompok etnis di Indonesia Orang-orang Papua selalu tertarik untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka melalui seni,” katanya.

Itu bisa berupa kerajinan tangan, musik, atau dekorasi. Salah satu cara paling populer untuk mengekspresikan perasaan mereka adalah dengan musik, karena musik telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Salah satu lagu rakyat paling terkenal dari Papua adalah Yamko rambe Yamko.

Ada juga tarian khusus untuk mengiringi lagu ini, sebuah tarian yang berasal dari Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Gemu Fa Mi
Re.

Lagu Gemu Fa Mi Re adalah ciptaan yang menyenangkan oleh Nyong Franco dengan tarian
sederhana tetapi representasi kesederhanaan dan penuh kebahagiaan

Biasanya tari di Indonesia penuh dengan kelembutan dan senyum, maka ini tidak akan ditemukan dalam tarian tradisional Minahasa di Sulawesi Utara

“Ini adalah tarian perang Minahasa tradisional dari Sulawesi Utara di Indonesia. Hal ini dilakukan oleh beberapa pria yang mengenakan kostum merah, menghunus pedang atau tombak dengan perisai Parade dilanjutkan dengan tarian Pa’gellu,” jelasnya.

Tari Pa’gellu adalah tarian yang berasal dari daerah Tana Toraja. Tarian ini biasanya akan dilakukan dalam serangkaian upacara adat Pa’gellu atau ma’gellu, yaitu dalam bahasa lokal memiliki makna menari dengan sukacita, sementara tangan dan tubuh bergoyang dengan anggun.

Ini bisa berarti bahwa tarian pa’gellu ‘dilakukan dengan tujuan untuk menghibur hati para pendengarnya, kebahagiaan kebahagiaan

Kalimantan Timur memiliki tarian tradisional yang berasal dari suku Dayak. Ini bernama Tari Burung. Tarian ini diiringi oleh alat musik tradisional, yaitu sapeh, gendang dan gong. Sapeh adalah alat musik petik khas Dayak. Selain menjadi tarian wajib pada upacara adat Dayak, tari Enggang sering dilakukan untuk menyambut tamu.

Dari Kalimantan kita diajak ke Sumatra Tari piring adalah tarian Minangkabau dari Sumatera Barat. Tarian ini menggambarkan rasa sukacita dan rasa syukur masyarakat Minangkabau ketika musim panen telah tiba.

Pada tarian ini para pemuda berayun langkah dengan menunjukkan keterampilan mereka dalam memainkan piring di tangan mereka.

Tari Tradisional Batak Toba, Sumatra Utara. Suku Batak Toba adalah bagian dari suku Batak. Suku Batak Toba memiliki tarian tradisional yang unik dalam bentuk tarian tor-tor.

kata “Tor-tor” berasal dari suara kaki penari yang memukul-mukul papan rumah adat Batak. Tarian itu diiringi instrumen Gondang Pawai dilanjutkan oleh Tari Jaipong dari Jawa Barat.

 

Tarian ini adalah tarian tradisional rakyat Sunda yang populer, Jawa Barat, Indonesia. Tarian ini diciptakan oleh Gugum Gumbira, berdasarkan bahasa Sunda.

Parade dilanjutkan dengan Angklung Angklung adalah alat musik dari Indonesia yang terbuat dari berbagai tabung bambu yang melekat pada bingkai bamboo.

Angklung populer di seluruh dunia, tetapi berasal dari provinsi Jawa Barat dan
telah dimainkan oleh orang Sunda selama berabad-abad. Angklung dan musiknya telah menjadi identitas budaya masyarakat Sunda di Jawa Barat .

Pada tanggal 18 November 2010, UNESCO secara resmi mengakui angklung Indonesia sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Di akhir parade hadir Tari Kuda Lumping Ini adalah tarian tradisional Jawa yang menggambarkan penunggang kuda. Penunggang kuda dengan kuda terbuat dari anyaman bambu dan dihiasi dengan cat dan kain berwarna-warni.

Selain menunggang kuda ada juga penari yang tidak naik kuda tetapi memakai topeng, yaitu seperti penthul, bejer, cepet, gendruwo, dan barongan. (art/bpn/tim)

Advertisement

Tinggalkan Komentar...