sewa motor matic murah dibali

MutiaraTatwa,  balipuspanews. com -Hampir sebagian besar ajaran Kasiwan dalam teks Tattwa disajikan dalam sebuah dialog, seperti dialog antara Bhatara Iswara dengan Bhagawan Wrhaspati dalam teks Wrhaspati Tattwa. Pun demikian ajaran Kasiwan dalam teks Ganapati Tattwa disajikan dalam sebuah dialog antara Bhatara Ganapati dengan Bhatara Maulun, dan beberapa teks tattwa lainnya. Dengan demikian, tentunya ada makna yang tersirat dibalik semua itu, dan layak kita wacanakan untuk kita menyelami lebih dalam ajaran Kasiwan.

Oleh: I Ketut Sandika

Ajaran Kasiwan sendiri adalah jalan untuk sampai pada sunya (baca: sunyi). Sunya yang dimaksud bukanlah kekosongan yang hampa, tetapi ruang yang dipenuhi dengan kebahagiaan yang tiada lagi duka. Jadi, sunya dalam konteks tattwa bukanlah kekosongan dalam arti harfiah. Sunya dalam konteks tattwa adalah keadaan yang tidak dapat dijelaskan dengan bahasa apapun, sebab yang sunya itu melampaui daripada batasan kata dan kalimat.

Kemudian untuk menyederhanakannya, sunya adalah ruang di mana ketiadaan mengatasi keadaan. Dalam tattwa, kondisi demikian disebut “kesadaran sunya”, yakni kondisi yang sudah melampaui dualitas.

Padanya tidak ada lagi apa yang dikonsepsikan oleh rasa, rupa dan identias apapun. Orang yang berada pada kesadaran demikian dapat dikenali dari kesucian, kemurnian dan kebahagiaan yang terefleksi dari dalam lakukanya. Ia sepenuhnya bebas, nirmala (tidak ada kekeruhan batin), dan lebur luluh pada pengalaman akan keindahan sejati dalam dirinya.

Lantas orang yang demikian, apakah harus meninggalkan keduniawian? Sekali lagi sunya dalam tattwa bukanlah sesuatu yang menampik keberadaan duniawi. Justru orang yang menyelami ajaran kasiwan menjadikan hal yang duniawi ini sebagai tangga menuju pada sunya. Orang tidak akan dapat berada pada sunya, baik semasih hidup dan setelah kematian jika ia mengabaikan keberadaan duniawi.

Sebab ajaran tattwa bukanlah menolak realitas dari keberadaan semua ini, tetapi berupaya memahami inti dari keberadaan yang sunyata adalah sunya itu. Jadi, ia yang memahami hakikat sunya adalah ia yang mampu memandang dengan pandangan benar hakikat dari keberadaan ini sebagai sesuatu yang semu, dan dibalik dari keberadaan inilah yang kekal sebagai “kesadaran sunya”.

Berdasarkan atas hal tersebut, sejatinya sunya adalah puncak dari pencapaian jalan Kasiwan. Lalu, bagaimana cara kita mencapai sunya, apakah dengan mengkesampingkan kehidupan kita sebagai manusia? Tentu tidak. Justru sebaliknya, kita menyadari diri menjadi manusia seutuhnya sebagai bagian dari kehidupan duniawi.

Untuk itu, ajaran Kasiwan selalu menekankan betapa pentingnya dialog ke dalam diri.

Dialog dalam teks Wrhaspatitattwa misalnya, bukanlah hanya sekadar percakapan harfiah antara Bhatara Iswara dengan Bhagawan Wrhaspati. Tetapi tersirat sebuah pesan spiritual untuk kita sesering mungkin melakukan dialog dengan diri untuk sampai pada sunya. Sosok Bhatara Iswara sendiri adalah mewakili aspek kesadaran dalam diri, dan diri kita sendiri adalah Bhagwan Wrhaspati yang selalu mengalami keragu-raguan.

Akan tetapi, kita sangat jarang bahkan tidak pernah mencoba melihat ke dalam diri dan melakukan dialog dengan Sang Diri Sejati. Kita memiliki kecenderungan lebih kepada melihat segala sesuatunya ke luar diri. Hal tersebut menjadikan kita lupa, bahwa sunya bukanlah dicari tetapi bagaimana kita mengadakan jalan untuk sampai pada sunya.

Mengadakan jalan bukan berarti berjalan pada jalan yang sudah ada, tetapi membuat jalan dengan merabas hutan dan semak berduri duniawi. Artinya, melampaui segala halangan duniawi sehingga kita sampai pada sunya yang sesungguhnya.

Melampaui halangan duniawi, bukan berarti menghindarkan diri dari segala halangan dan permasalahan hidup. Tetapi, lebih kepada melaluinya dan menjalaninya sebagai sebuah penikmatan atas segala tindakan yang kita lakukan. Sebab ajaran kasiwan tidak mengarahkan kita untuk menghindarkan diri dari segala permasalahan kehidupan duniawi, tetapi berupaya mengalaminya hingga dapat melakukan pelampauan-pelampauan. Hal itulah yang dapat mengajarkan kita untuk kembali ke dalam diri, dan memulai melakukan dialog dengan Sang Jiwa sebagai Sang Diri yang tiada lain adalah Bhatara Iswara sebagai kesadaran murni.

Dialog dengan diri adalah sadhana laku yang penting dalam pendisiplinan diri untuk menjadi manusia wisesa. Wisesa dalam artian adalah mampu menguasai dan melakukan pengendalian atas indria-indria dalam diri.

Sebab indria sangat susah untuk dikendalikan, dan melalui dialog sesungguhnya kita sedang mengenal jauh lebih dalam karakteristik indria kita yang memunculkan kesan-kesan dalam badan memori (manomaya kosa). Mengenalnya dengan baik, maka akan lebih mudah kita melakukan kendali atas semua indria-indria yang ada dalam diri kita.

Dan, berdialog adalah upaya untuk kita berkomunikasi dengan kesejatian diri yang mengarahkan indria untuk tercerap ke dalam diri hingga berpuncak pada sunya.
Ong Rahayu

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here