Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam diskusi bertema “Adaptasi New Normal” bersama Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/7/2020).
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam diskusi bertema “Adaptasi New Normal” bersama Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/7/2020).

JAKARTA, balipuspanews.com – Kondisi New Normal harus memaksa masyarakat menyesuaikan diri dengan kondisi Covid-19.

Adaptasi bukan hanya dalam persoalan ekonomi dan sosial saja, namun juga dalam kehidupan politik dan demokrasi seperti pesta demokrasi masyarakat di daerah atau yang kita kenal dengan pemilihan kepala daerah (pilkada).

“Pilkada serentak pada bulan Desember 2020 perlu menyesuaikan dengan kecanggihan teknologi. Artinya digitalisasi Pilkada menjadi sebuah peluang yang terbuka,” ucap Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam diskusi bertema “Adaptasi New Normal” bersama Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/7/2020).

Bamsoet meyakini teknologi digital dalam Pilkada Serentak membuat pesta demokrasi di daerah menjadi lebih efisien dan menghindari kerumunan massa ke bilik TPS. Oleh karena itu, perhelatan pilkada sudah sewajarnya melakukan perubahan mengikuti kemajuan teknologi.

“KPU bisa mengedarkan formulir kepada pemilih, dengan mengisi nama, nomor telepon seluler dan NIK. Lalu mereka diberi barcode, setiap pemilih tinggal menempelkan saja barkode nya,” imbuhnya.

Soal teknisnya, Wakil Ketua umum Partai Golkar menyerahkan kepada pembuat kebijakan yaitu pemerintah dan DPR serta penyelenggara pemilu baik KPU, Bawaslu, dan DKPP, termasuk ahli teknologi informasi untuk dapat menyusun dan merumuskannya.

Namun demikian, teknologi ini harus benar-benar aman dari serangan hacker.

“Ya, jangan sampai data KPU dibobol. Karena ini memang berbahaya,” terangnya.

Menyinggung soal kesiapan infrastruktur telekomunikasi di luar Jawa, Bamsoet menepis adanya kesenjangan, karena sudah ada Satelit Telkom 4 yang bisa mengcover seluruh Indonesia.

Menurut Bamsoet, masih ada waktu sekitar lima bulan lagi untuk memikirkan gagasan digitalisasi Pilkada. Dengan e-voting, pemilih tak perlu repot-repot lagi harus mengantri ke TPS.

“Digitalisasi Pilkada, bukan hanya efiesien tapi bisa cepat diketahui siapa pemenang Pilkada,” paparnya.

Dampak dari Covid-19 memukul semua negara di dunia, sambung Bamsoet, bahkan Bolivia, Italia dan Inggris Raya menunda pelaksanaan Pemilihan Umum.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR dari unsur DPD RI Fadel Muhammad lebih menyoroti masalah empat hal yang terjadi di masyarakat terkait menyambut New Normal. Yakni, Psikologi, Kesehatan, Teknologi dan Pendanaan.

“Yang mengkhawatirkan ini nasib UMKM, karena bank-bank belum mau menurunkan bunga kredit,” ujar Fadel yang juga mantan Gubernur Gorontalo.

Penulis/Editor : Hardianto/Oka Suryawan

Facebook Comments