Diguyur Hujan ForBALI Tetap Berorasi, Desak Jokowi Terbitkan Perpres Konservasi Maritim  

Suasana hujan menghiasi Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) menuju Kantor Gubernur Bali untuk berorasi, Sabtu (13/12).
Suasana hujan menghiasi Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) menuju Kantor Gubernur Bali untuk berorasi, Sabtu (13/12).

DENPASAR, balipuspanews.com- Mesti diguyur hujan deras, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) tak menyurutkan niatnya untuk melakukan aksi turun ke jalan. Aksi kali ini mengambil titik kumpul di parkir timur Lapangan Niti Mandala, Renon menuju Kantor Gubernur Bali. Aksi yang digelar ini sebagai aksi tutup tahun 2019 ini.

Saat barisan massa mulai melakukan long march, hujan mulai mengguyur. Hujan yang cukup deras tersebut tidak menghentikan barisan massa aksi untuk melakukan parade budaya aksi tolak reklamasi Teluk Benoa. Parade budaya tetap berlanjut hingga tiba di depan Kantor Gubernur Bali.

Setiba didepan Kantor Gubernur Bali beberapa perwakilan melakukan orasi, diantaranya perwakilan organisasi gerakan mahasiswa Front Demokrasi Perjuangan Rakyat Bali (FRONTIER-Bali) dan perwakilan masyarakat dari Desa Adat Kedonganan.

Koordinator Umum ForBALI Wayan Gendo Suardana dalam orasinya menyebut bahwa perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa pada maret 2020 akan memasuki tahun ketujuh. Perjuangan yang dilakukan terus-menerus selama ini telah mampu mengubah konstelasi politik sehingga membuat para politisi yang tadinya diam menjadi bersikap menolak reklamasi Teluk Benoa memenuhi tuntutan masyarakat.

Selain itu, membuat pihak-pihak yang selama ini mendukung reklamasi dan nyinyir terhadap gerakan BTR hilang entah kemana. “Waktu telah menunjukkan, mereka yang mendukung dan nyinyir hilang entah kemana. Mereka bergerak dengan kekuatan investor sedangkan kita bergerak dengan kekuatan semesta”, tegasnya, Jumat (13/12).

Dalam orasinya, ada lima poin yang disampaikan Gendo, terkait pernyataan sikap dari ForBALI, yaitu pertama, menuntut Menteri KKP, Edhy Prabowo untuk tidak mengkaji ulang pembatalan reklamasi Teluk Benoa serta melakukan upaya-upaya untuk melanjutkan proses Kawasan Konservasi Teluk Benoa hingga menjadi Peraturan Presiden (Prespres).

Kedua, menuntut Menteri KKP segera menjalankan rekomendasi Komisi IV DPR RI hasil rapat kerja antara Komisi IV dengan Kementerian KKP pada tahun 2015 untuk tidak melanjutkan reklamasi Teluk Benoa.

Selanjutnya ketiga, meminta Pemerintah Propinsi Bali melakukan upaya untuk mendorong percepatan penerbitan Perpres yang menguatkan status Konservasi Maritim Teluk Benoa.

Kemudian keempat, meminta Presiden Joko Widodo segera menerbitkan Perpres untuk memperkuat status Teluk Benoa sebagai Kawasan Konservasi Maritim.

Permintaan terakhir, meminta Presiden Jokowi untuk membatalkan Perpres No. 51 Tahun 2014 tentang perubahan atas Peraturan Presiden No. 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan Sarbagita dengan memberlakukan kembali Perpres No. 45 tahun 2011 atau menerbitkan Perpres baru yang menetapkan Teluk Benoa sebagai Kawasan Konservasi Maritim.

Ratusan massa yang tergabung dalam ForBALI, tetap berada dalam barisan dari awal hingga akhir orasi selesai meski dalam kondisi basah kuyub tetap semangat menggaungkan “Bali Tolak Reklamasi”.

Menariknya, dalam aksi ini juga nampak aktifitas dari komunitas bersama massa aksi bersama-sama membersihkan lokasi aksi sehingga tidak meninggalkan sampah. Sembari membersihkan lokasi aksi, massa membubarkan diri dengan tertib. (bud/bpn/tim)