Rembug pemegang SK Redis dan sertifikat bola dunia di Banjar Madan, Desa Musi, Kecamatan Gerokgak.

GEROKGAK, balipuspanews.com — Sejumlah warga pemegang Surat Keputusan (SK) atas tanah Redis (lebih) di Banjar Madan, Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, dicekam kekhawatiran. Pasalnya, 52 Kepala Keluarga (KK) penggarap lahan Redis seluas 48 hektare almarhum Wayan Suweta Negara tersebar di empat (4) desa bertetangga, yakni Desa Musi, Sanggalangit, Gerokgak dan Desa Pengulon itu, mulai dihantui isu penyerobotan lahan.

 

Tak pelak, isu penyerobotan lahan membuat para penggarap lahan Redis kelimpungan, seperti diungkapkan Wayan Lanus (68) pewaris alm Gede Jedogan selaku pemegang SK Redis di Banjar Madan, Desa Musi.

 

Lanus saat ditemui dikediamannya menuturkan, lahan Redis yang kini ditempatinya bersama keluarga di Banjar Madan, memiliki luasan hampir 1 hektare. Lahan tersebut sudah digarap dan ditanami pohon kelapa oleh orangtuanya sejak tahun 1947 silam.

 

“Kami dengar kabar, beberapa lahan sudah pindah tangan, dijualbelikan tanpa sepengetahuan kami selaku pemegang SK Redis dan sertifikat bola dunia. Ya, jelas hal itu membuat kami khawatir. Apalagi rumah kami bangun ada yang permanen dan semi permanen. Dulu, sudah ada (lahan Redis) di Desa Gerokgak berusaha di eksekusi, namun gagal,” ungkap Lanus, Sabtu (22/2) sore.

 

Menurut Lanus, kronologi keberadaan lahan Redis itu bermula, ketika pemerintah pada jaman itu, mengeluarkan aturan terkait pembatasan kepemilikan lahan perseorangan. Kala itu, alm Suweta merupakan pengusaha kopra asal dari Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, memiliki lahan jumlahnya mencapai puluhan hektare atas namanya sendiri yang tersebar di empat desa bertetangga. Menyiasati aturan, oleh alm Suweta lahan miliknya itu, kemudian dipecah dengan luasan bervariasi diberikan kepada para karyawan yang bekerja di tempat usaha kopra miliknya.

 

Meski telah lahan telah dibagi-bagikan, namun buah kelapa hasil dari lahan dikerjakan 48 penggarap itu, seluruhnya dijual tempat usaha almarhum.

 

“Dokumen kepemilikan lahan yang dikeluarkan ada dua jenis, yakni sertifikat bola dunia berwarna putih tahun 1961 dan menyusul dikeluarkan SK Redis di tahun 1966. Soal apa kesepakatan orangtua kami dengan alm Suweta, jujur kami tidak tahu. Apakah lahan dibeli dengan cara dicicil atau pakai cara lain,” terangnya.

 

Masih kata Lanus, kisruh kepemilikan lahan akhirnya mencuat setelah Suweta Negara meninggal di tahun 1970-an. Pada tahun 1976 silam, Suma merupakan sang pewaris Suweta Negara membentuk tim  diketuai oknum TNI AD berinisial GIDW. Disamping itu, Kepala Agraria Singaraja, benisial Ketut S tercatat ikut dalam tim. Tak hanya itu, Lettu Pol (Purn) IGMR kala itu menjabat Kepala Bimas Polres Buleleng ditunjuk selaku BP3L alias badan pengawas landroferm. Mereka turun berkedok melakukan identifikasi terhadap lahan milik alm Suweta Negara.

 

“Mereka langsung mendatangi dan meminta sertifikat bola dunia dan SK Redis dipegang 52 warga. Saksi hidup saat itu, Ketut Gentos dan Wayan Kutang. Keduanya diminta tanda tangan diatas kertas kosong, alasannya sertifikat bola dunia dan SK Redis akan diperbaiki. Keduanya dengan polos menyerahkan itu semua,” jelasnya.

 

Usut punya usut, identifikasi itu rupanya hanyalah sebuah akal akalan. Sertifikat dan SK Redis yang sudah ditarik akhirnya tak kembali hingga saat ini. Bahkan, sebagian lahan Redis diduga telah telah dijualbelikan dan menjadi milik orang lain.

 

“Semua direkayasa, seolah-olah kami setuju. Kami sama sekali tidak tahu bagaimana cara mereka melakukan transaksi jual beli. Kami menduga, lahan Redis sudah dijualbelikan luasnya sekitar 28 hektare. Namun, sampai saat ini tidak ada satupun dari pembeli menampakkan batang hidungnya kesini. Kantor Perbekel Musi dan Puskesmas Pembantu Gerokgak I juga didirikan diatas lahan Redis,” imbuhnya.

 

Konon, bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) Gerokgak I dan Kantor Perbekel Desa Musi sedang dalam pengajuan sertifikat di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Singaraja.

 

Meminta kejelasan, warga pemegang SK Redis dan sertifikat bola dunia pun meminta bantuan dengan mendatangi Lembaga Pemerhati Pembangunan  Masyarakat Buleleng (dibawah naungan    KONTRAS) diketuai Gede  Angastia akrab  disapa Anggas.

 

Menanggapi permintaan itu, Anggas pun berjanji bakal mengawal dan memfasilitasi persoalan tersebut hingga tuntas.

 

“Tentu kami kawal sampai tuntas persoalan ini, agar nantinya warga ini mendapatkan haknya secara utuh,” singkatnya.