Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati saat menghadiri Dialog Media Tentang Potensi Kerjasama Pariwisata Antara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan Indonesia, yang dihadiri oleh Konsul Jendral RRT untuk Bali Gou Haodong di Hotel Maya Sanur, Denpasar, Senin (22/7).
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati saat menghadiri Dialog Media Tentang Potensi Kerjasama Pariwisata Antara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan Indonesia, yang dihadiri oleh Konsul Jendral RRT untuk Bali Gou Haodong di Hotel Maya Sanur, Denpasar, Senin (22/7).
sewa motor matic murah dibali

DENPASAR, Balipuspanews.com-Letak geografis Negara Tiongkok yang sebagian besar pegunungan, membuat masyarakatnya diyakini sangat menyukai wisata air. Sehingga selama ini, para pelaku usaha jasa wisata di Bali hanya mengedepankan promosi wisata alam khususnya pantai. Dibalik itu semua, wisatawan Tiongkok ternyata sangat menggemari seni budaya Bali yang menjadi salah satu destinasi primadona mereka. Namun terkendala penggunaan bahasa mandarin, banyak pramuwisma asal luar bali yang mahir bahasa mandarin namun kurang mengenal budaya Bali sehingga kurang bisa menerangkannya. Untuk itu, tantangan kedepan yakni para pelaku jasa wisata di Bali harus bisa menyiapkan pramuwisata yang handal dan benar-benar mengenal seni budaya Bali. Hal ini terungkap saat Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati saat menghadiri Dialog Media Tentang Potensi Kerjasama Pariwisata Antara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan Indonesia, yang dihadiri oleh Konsul Jendral RRT untuk Bali Gou Haodong di Hotel Maya Sanur, Denpasar, Senin (22/7).

“Menurut data yang ada, tahun 2018 rata-rata warga Tiongkok yang berwisata sekitar 14%, tapi yang masuk Bali hanya 2,1%, artinya walau meningkat tapi tidak sesignifikan ke Negara-negara lain. Kita selama ini ternyata salah persepsi, kita mengira mereka hanya suka keindahan alam, pantai, spa dan sebagainya, ternyata mereka juga menyukai budaya kita. Terkendala pramuwisata yang berasal dari luar dan hanya bermodalkan bahasa tanpa mendalami budaya kita, mereka tidak bisa menjelaskan filosofi-filosofi yang ada pada seni budaya kita. Sehingga mereka cenderung mengajak tamunya ke pantai, spa atau wisata buatan seperti swing,” ujar Wagub yang akrab disapa Cok Ace.

“Inilah satu hal yang bisa membahayakan jika dibiarkan, harapan kedepan mereka juga bisa menyampaikan informasi akan budaya kita. Mudah-mudahan melalui momentum ini, ada dari Konjen, seluruh stake holder, media Tiongkok dan Bali serta kami dari pemerintah memberikan dukungan sebaik-baiknya, sehingga tujuan kunjungan wisatawan Tiongkok yang 14 % tersebut, bisa pararel dengan tingkat kunjungan ke Bali,” imbuhnya.

Lebih jauh, Wagub Cok Ace juga menjelaskan langkah-langkah yang sudah dilaksanakan Pemprov Bali yakni pembangunan sarana prasarana infrastruktur untuk mendukung mobilitas wisatawan secara merata diseluruh daerah di Bali. “Yang sudah dilaksanakan dalam waktu dekat ini yakni pembangunan shortcut ke daerah Bali utara, agar akses transportasi yang mudah dan efisien waktu, sehingga wisatawan pun stay di Bali lebih lama,” cetusnya seraya menyampaikan kedepan perlu memberdayakan himpunan para pelaku pariwisata untuk mengundang media-media Tiongkok agar bisa mempromosikan Bali di negaranya. Dan yang terpenting yakni membekali para pramuwisata dengan kemampuan bahasa dan wawasan yang memadai tentang Bali. “Para guide nanti kita bekali dengan wawasan tentang Bali, semoga bisa diterapkan adanya grade bagi mereka, misalnya grade A, B, C, yang hanya bisa memandu wisata transportasi ditetapkan grade C, yang memiliki wawasan budaya ditetapkan grade B, dan sebagainya, sehingga pasarnya jelas dalam mempromosikan Bali,” pungkas Wagub Cok Ace.

Sementara itu Konsul Jendral RRT untuk Bali Gou Haodong menyampaikan terimakasih dan apresiasinya atas pelayanan dan keramahan masyarakat Bali kepada warganya yang berwisata. Ia berharap jalinan kerjasama yang sudah terbangun dengan baik selama ini dapat terus ditingkatkan. Seiring dengan peningkatan kunjungan wargan Tiongkok ke Bali, Ia pun mengharapkan adanya jaminan keamanan sehingga kepercayaan warganya terhadap kondisi Bali meningkat dan tingkat kunjungan semakin meningkat. Ia pun menyoroti kesalahpahaman yang sempat terjadi terkait pemasaran pariwisata Bali, dan saat ini sudah bisa tertangani.

Disisi lain Ketua BTB IB Agung Partha Adnyana menyampaikan potensi wisatawan tiongkok mencapai 107 juta pada tahun 2014, dan saat ini potensinya meningkat hingga 200 juta. Dan trend marketnya pun mulai berubah dimana sebelumnya group saat ini sudah mulai single travel,  yang mayoritas tamu honeymoon. Selaku perhimpunan yang bergerak di bidang jasa wisata, Ia pun mengaku mendukung usaha pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada para wisatawan khususnya asal Tiongkok yang difokuskan pada safety dan quality, (rls/bpn).