Rabu, Februari 28, 2024
BerandaNasionalJakartaDiperlukan Sinergitas Antar Sektor untuk Pengendalian Polusi Udara di Indonesia

Diperlukan Sinergitas Antar Sektor untuk Pengendalian Polusi Udara di Indonesia

JAKARTA, balipuspanews.com – Sejumlah point penting dibahas dalam dialog public yang diprakarsai Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI), Kamis (23/11/2023). Dalam dialog bertajuk “Sinergitas Sektor Transportasi dan Energi dalam Pengendalian Pencemaran Udara di Indonesia” khususnya di Medan, Semarang, Yogyakarta, Makasar dan Denpasar itu, ada 6 hal yang menjadi sorotan.

Adapun point yang menjadi sorotan dalam dialog publik tersebut adalah,pertama, memberikan satu dukungan pada isu nett zero emition pada 2060. Sektor transportasi dan sektor energi tentu berperan signifikan untuk mewujudkan program nett zero emition tersebut. Kedua, persoalan polusi udara tidak bisa diselesaikan secara sektoral saja, tapi harus sinergis, dari sisi hulu (energi) dan sisi hilir, yakni transportasi.

Ketiga, untuk sektor ketenagalistrikan, keberadaan PLTU juga patut disorot, sebab PLTU juga menjadi obyek yang berkontribusi terhadap produksi emisi gas buang. Keempat, kelaikan emisi pada kendaraan juga sangat penting. Sehingga dipastikan kendaraan yang mengaspal di jalan raya, adalah kendaraan yang telah lulus uji emisi.

Kelima, kualitas BBM yang dipakai ranmor pribadi harus kompatibel dengan jenis kendaraannya, baik demi lingkungan, atau manfaat bagi mesin kendaraannya. Dan, keenam, pemerintah juga diingatkan terkait gugatan publik citizens law suit, yang memutuskan pemerintah telah melakukan perbuatan melawan hukum dalam hal pencemaran udara oleh Hakim MA. Oleh karena pemerintah, Presiden RI dkk, dimandatkan untuk memperbaiki kualitas udara di Indonesia.

BACA :  Kemen PPPA Dorong Perusahaan Miliki Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan

Untuk perbaikan kualitas udara di Indonesia, khususnya di Medan, Semarang, Yogya, Bali dan Makasar dalam dialog tersebut muncul 8 masukan. Pertama, mentradisikan menggunakan angkutan umum untuk mobilitas sehari-hari. Oleh karena itu Pemda/Pemkot didorong untuk memperbaiki dan merevitalisasi sarana angkutan umum di daerahnya. Kedua, agar kendaraan pribadi didorong/diwajibkan menggunakan jenis bahan bakar yg kualitas baik, minimal standar Euro 2, dan paling ideal adalah Standar Euro 4.

Ketiga, pemerintah didorong untuk memproduksi BBM yang ramah lingkungan dengan harga yang lebih rasional. Sebab selama ini BBM yang lebih bersih harganya dianggap masih mahal, keempat, guna mewujudkan harga yang lebih terjangkau pada BBM ramah lingkungan, diperlukan subsidi/insentif. Oleh karena itu, sebaiknya subaidi BBM eksisting yang saat dilekatkan pada pertalite solar sebesar Rp 67 triliun, bisa dimigrasikan pada BBM yang lebih ramah lingkungan tersebut. Dengan demikian ada dua manfaat, yakni harga BBM-nya akan lebih terjangkau, dan kualitas BBM-nya lebih baik.

Kelima, menggalakkan uji emisi bagi kendaraan bermotor, dan bahkan perlu adanya sanksi atau tilang emisi bagi kendaraan yang terbukti tidak lulus uji emisi, keenam, menginisiasi kendaraan listrik, baik untuk pribadi, atau utk angkutan umum. Namun kendaraan listrik belum begitu menarik bagi konsumen krn harganya mahal, pelayanan purna jual belum jelas, belum cukup bengkel, dan biaya penggantian batere masih mahal, ketujuh, diperlukan kebijakan transisi energi untuk mengurangi polusi, sebab migrasi ke produk energi yang baru dan terbarukan tidak bisa tiba-tiba. Memang masih energi fosil tapi setidaknya energi fosil yang rendah emisinya.

BACA :  Sampaikan Ucapan Selamat Galungan, Kuningan dan Nyepi, Bupati Gede Dana dan Wabub Artha Dipa Mengajak Masyarakat Memegang Teguh Tradisi dan Kearifan Lokal

Sebab tak mungkin menghapus energi fosil jika tak ada penggantinya yang andal dan terjangkau. Termasuk mereposisi PLTU, tapi harus ada pengganti PLTU yang aksesibiltasnya baik, harganya terjangkau, dan andal. Dan kedelapan, secara terus menerus melakukan edukasi pada generasi milenial agar gemar menggunakan angkutan umum untuk menunjang aktivitasnya. Sebab presentase generasi milenial yang menggunakan angkutan umum masih sangat minim.

Dialog publik dilakukan secara daring dan disiarkan langsung oleh Radio KBR, dan direlai oleh ratusan jaringan radio di daerah. Adapun narasumber dalam dialog publik tersebut adalah: Lukmi-Direktur Pengendalian dan Pencemaran Udara KLHK, Irwandi Lubis-GM PLN Indonesia Power PLTU Suralaya, Ahmad Syafrudin-Ketua KPBB, dan Tulus Abadi, Pengurus Harian YLKI. Dialog publik juga diikuti oleh para Kadis SKPD, blogger, pers mahasiswa, ormas, LPKSM/LSM, jurnalis, konsumen, dan influencer muda.

Penulis : Kadek Adnyana
Editor    : Oka Suryawan 

RELATED ARTICLES

ADS

spot_img

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular