Diskomunikasi Penyuluh Agama Hindu Dan Umat Dapat Diatasi Dengan Kedepankan Ajaran Vasudewa Kutumbakam

Dosen IAHN Gde Pudja Mataram, Dr. Ir I Wayan Wirata A.Ma, SE, MSi.
Dosen IAHN Gde Pudja Mataram, Dr. Ir I Wayan Wirata A.Ma, SE, MSi.

JAKARTA, balipuspanews.com- Komunikasi dinilai sebagai unsur penting bagi penyuluh agama (PA) dalam menjalankan tugas dan perannya di lapangan.

Namun, seringkali terjadi diskomunikasi antara penyuluh agama dengan umat dalam membimbing masyarakat terutama di masa pandemi penyebaran Virus Corona atau Covid-19 yang saat ini masih terjadi.

Persoalan tersebut mengemuka dalam diskusi webinar yang digelar Civitas Akademika Program Studi (Prodi) Penerangan Agama Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja pada Kamis (9/7/2020).

Diskusi mengambil tema “Strategi Komunikasi Penyuluh Agama Hindu dalam Menjaga Toleransi Umat pada Masa Pandemi Covid-19” dengan narasumber Dosen IAHN Gde Pudja Mataram, Dr. Ir I Wayan Wirata A.Ma, SE, MSi.

Dalam diskusi yang berkembang Wayan Wirata mengakui gesekan dan permasalahan di masyarakat masih dialami penyuluh agama Hindu.

“Beberapa tempat oleh pemerintah daerah telah memblokir jalan untuk mengisolasi mereka dan mencegah risiko penularan Covid-19,” ucap Wayan Wirata.

Contoh lainnya, sebut Wayan Wirata seperti kasus kasus di Solo, Jawa Tengah yaitu, 3 perawat yang tinggal di kos-kosan diusir oleh pemilik kos mereka yang takut akan menularkan.

“Beberapa kota dan desa menolak untuk mengubur korban meninggal Covid-19,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar penyuluh agama Hindu memahami ilmu pengetahuan di bidangnya, memiliki pengalaman dan mampu menerapkan dalam tugasnya sebagai penyuluh.

Selain itu, memahami, menguasai, serta mencintai teknik dan metode penyuluhan memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang bidang yang lain

Hal lain yang juga ia tekankan adalah senang menggali pengalaman tentang teknik dan metode penyuluhan. Mampu memecahkan persoalan penjurian secara sistematis, terutama yang berhubungan dengan penyuluhan. Serta memahami prinsip-prinsip kegiatan penyuluhan.

Penyuluh juga harus seringkali melakukan evaluasi yang bersifat terbuka, peka, inovatif, menjunjung tinggi profesinya, taat kepada aturan penilaian dan memiliki tanggung jawab moral akan profesi yang dijalaninya.

Lebih jauh, Wayan Wirata mengatakan penyuluh harus mampu merumuskan dan menerapkan metode pembinaan. “Metode pembinaan umat Hindu disebut Sad Dharma seperti yang dirumuskan dalam rekomendasi atau pengesahan dalam Pesamuhan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia pada 4-7 Februari 1988,” ujarnya.

Iapun menerjemahkan Sad Dharma yang berarti Persembahan korban berupa pengetahuan adalah lebih agung sifatnya dari korban benda yang berupa apapun juga. O Arjuna, sebab segala pekerjaan dengan tak terkecualinya memuncak di dalam kebijaksanaan.

Ada sejumlah dharma yang harus harus dijunjung tinggi yaitu Dharma Wacana (Penyampaian Tattwa), Dharma Tula (Dialog Agama) beruoa Sastra, Budhi, dan Prema Wada. Juga Dharma Yatra (Kunjungan Spiritual), Dharma Gita (Nyanyian Suci), Dharma Sedana (Catur Marga) berupa Bhakti, Jnana, Karma, dan Yoga, terakhir Dharma Shanti (Saling Memaafkan)

Untuk dapat memetakan persoalan berikut menemukan solusinya maka penyuluh harus melakukan tahapan atau langkah-langkah yang diperlukan yaitu melakukan identifikasi potensi wilayah meliputi data wilayah analisa wilayah, merumuskan monografi. Kemudian merumuskan potensi kelompok sasaran dan menyusun rencana Kerja mingguan, bulanan dan tahunan serta insidental, menyusun Term of Reference, pelaksanaan Program Kerja dan melakukan evaluasi Program Kerja.

“Identifikasi potensi wilayah data kelompok sasaran baik instansi atau lembaga pemerintahan atau masyarakat. Perluasan cakupan kelompok binaan melalui program pembentukan melalui ormas. Pembinaan rohani Hindu di kalangan birokrasi pemerintahan,” ujarnya.

Juga peningkatan kompetensi penyuluh melalui pertemuan rutin Pokjaluh (Kelompok Kerja Penyuluh) dan partisipasi dalam berbagai orientasi, workshop dan Diklat yang diadakan oleh Kanwil Depag.

Penguatan kelembagaan melalui pemberdayaan Pesantian, pasraman. LPDG.5. Peningkatan mutu materi Penyuluhan Agama melalui diskusi rutin yang diselenggarakan oleh Pokjaluh.6. Perluasan jaringan lintas sektoral diantaranya dengan radio, ormas Hindu serta lembaga- instansi di lingkungan Desa, Kecamatan, dan Kabupaten

Wayan Wirata menengarai ada sejumlah pihak yang sengaja membuat penolakan terhadap penyuluh agama di masa pandemi Covid-19, tujuannya agar warga negara tidak percaya lagi kepada pemerintah dengan dalih penanganan covid-19 Banyak kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak agama tertentu, seperti tidak boleh jumatan dan tarawih. “Padahal, ini maksudnya baik. Sudah lihat beberapa saudara kita yang terkena positif covid-19 karena Sholat Jumat,” ujarnya.

Dampaknya kebijakan pemerintah positif sengaja diplintir agar menimbulkan rasa ketidaknyamanan pada publik yang pada sisi akhir menurunkan kepercayaan publik pada pemerintah. Hal ini juga termasuk pada kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19,” imbuhnya.

Dari persoalan yang ditemui terkait mendadaknya komunikasi penyuluh agama dalam membina pendidikan keagamaan karena didasari kurangnya pemahaman dasar agama dan arti kehidupan yang selalu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dari masyarakat yang melakukan penolakan terhadap penyuluh agama.

Untuk itu, Wayan Wirata menegaskan perlunya mengedepankan konsep ajaran VASUDEWA KUTUMBAKAM yang secara umum diartikan bahwa kita satu atau kita semua bersaudara.

“Perlunya konsep VASUDEWA KUTUMBAKAM atau penyatuan masyarakat. Yaitu kasih sayang, perdamaian dan kekeluargaan sebagai dasar pelaksanaan Catur Guru yang meliputi Swadyaya, Wisesa, Pengajian, dan Rupaka,” ucap Wayan Wirata.

Penulis/Editor : Hardianto/Oka Suryawan