Minggu, April 14, 2024
BerandaDenpasarDiskriminatif, Gaya Dewata Protes Surat Edaran Kemenkes

Diskriminatif, Gaya Dewata Protes Surat Edaran Kemenkes

Denpasar, Balipuspanews.com -Surat edaran Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes) bernomor HK.02.02/I/1564/2018 tentang Penatalaksanaan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk Eliminasi HIV/AIDS Tahun 2030 menuai protes Yayasan Gaya Dewata. sebuah komunitas yang aktif mengadvokasi hak-hak kaum LGBT di Bali. Surat edaran yang dikeluarkan pada 10 Juli 2018 tersebut diprotes karena dianggap diskriminatif terutama pada poin pertama dalam kata ‘populasi kunci’ dalam kalimat “pemeriksaan HIV/AIDS yang berfokus pada ibu hamil, bayi yang lahir dari ibu dengan HIV, anak dengan gejala oportunistik, pasien IMS, pasien TBC, pasien Hepatitis, populasi kunci (penjaja seks, laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki, waria, pengguna Napza suntik, warga binaan pemasyarakatan), pasangan orang dengan HIV/AIDS.

Hal ini mengemuka dalam diskusi terbuka yang diselenggarakan oleh Gaya Dewata Bali di Denpasar pada Kamis (26/7) di mana mengundang para wartawan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, KPA Kota Denpasar dan KPA Kabupaten Badung dan anggota Komunitas Gaya Dewata Bali.

Christian Supriyadinata, Ketua Yayasan Gaya Dewata Bali mengatakann kata ‘populasi kunci’ yang mengacu pada kaum LGBT tersebut sangat menstigma dan diskrimatif karena mengandung pengertian penyebaran HIV/AIDS terbanyak berasal dari kaum homoseksual dan waria, padahal tidak demikian.  Data Dinas Kesehatan Bali menunjukkan penularan HIV/AIDS di Bali didominanasi oleh kaum heteroseksual yakni 76, 5 persen. Ini yang ingin dikritisi oleh Yayasan Gaya Dewata.

BACA :  Lestarikan Seni Budaya, Wali Kota Jaya Negara Buka Festival Beraban 2024 "Saguna Prawerthi"

“Karena surat edaran itu masih baru, kami ingin mendiskusikan hal tersebut kepada kawan-kawan media dan KPA. Agar kita bisa mengkritisi pemerintah untuk tidak mengkambinghitamkan komunitas atau kelompok tertentu. Jika kita baca secara teliti surat edaran tersebut itu sangat menstigma dan diskriminatif karena secara khusus menyebut kaum LGBT sebagai ‘populasi kunci”, ujarnya.

Hal lain yang diprotes Yayasan Gaya Dewata dalam surat edaran tersebut adalah kata ‘eliminasi’ yang sangat bias, bisa diartikan sebagai pembasian penderita HIV/AIDS, sama halnya dengan eliminasi pada binatang penyebab penyakit rabies. Dalam diskusi disarankan kata eliminasi diganti dengan kata lain yang lebih manusiawi.

‘Selain membahas surat edaran Kemenkes, diskusi ini juga membahas dan merespon pelatihan media yang sebelumnya dilakukan oleh komunitas Gaya Dewata. Pelatihan yang juga diikuti oleh wartawan dari berbagai media cetak maupun online di Bali itu dianggap penting karena masih ada pemberitaan di media yang masih menstigma ODHA.,” kata Christian. Angga/bpn/tim

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -
TS Poll - Loading poll ...

Most Popular