Photo bersama usai diskusi Living Museum Beji
Photo bersama usai diskusi Living Museum Beji
sewa motor matic murah dibali

RENDANG, balipuspanews.com – Rilief Purusa Pradana (laki -perempuan) yang tertulis diatas bebatuan berumur 30 ribu tahun menjadi simbol sakral berkaitan dengan keberadaan puluhan mata air di Desa Pesaban sebagai Living Museum Beji.

” Sanggama Spirit antara akasa dan pertiwi, hasilnya adalah kesuburan. Cirinya adalah adanya air, ” kata I K. Satria, S. Ag. M. Pd. H Akademisi pengajar filsafat Hindu di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar dalam DISKUSI PUBLIK “Pelestarian Mata Air Keramat dan Rilief Jaman Batu Sebagai Living Museum Beji” Minggu.(6/10/2019) lalu.

Temuan benda bersejarah dijaman megalitikum atau jaman batu tersebut menjadi kajian menarik dan memiliki hubungan erat dengan keberadaan mata air di desa Pesaban.

Mengingat begitu sakralnya keberadaan mata air di Desa Pesaban, kata Satria, banyak hal yang perlu dilakukan oleh masyarakat Pesaban jika terbangun Living Museum.

Misalnya harus dibuatkan pelinggih pada titik dimana mata air itu berada disamping pula pola kehidupan yang manual yang dilakukan masyarakat dalam kegiatan sehari-hari dalam mengolah pertanian sebagai pendukung dari Living Museum Beji tersebut.

” Misalnya diisi caratan di depan rumah warga, untuk bisa diminum oleh pengunjung,” jelasnya.

Lebuh pihaknya setuju dengan dibangunnya “Living Museum Beji” sepanjang tidak melupakan kewajiban untuk menjaga alam atau mata air.

Living Museum, lanjut Satria sebenarnya dimulai dari diri masyarakat sendiri, dengan berprilaku yang baik, mulai dari kebiasaan sehari-hari, adat istiadat, dan budaya.

Jika sudah dipegang teguh niscaya akan berjalan sesuai harapan.

Sementara itu dijelaskan dari 17 mata air tersebar di Desa Pesaban sekitar tujuh mata air yang paling besar dan memiliki makna luar biasa. Dapat dikatakan disebut Sapta Gangga atau tujuh sumber air yang terdiri dari Gangga, Ghondawari, Saraswati, Yamuna, Narmada.

Satria berharap agar semua sumber mata air yang ada dijaga dengan baik, dengan tidak mengotori atau mencemari. Disamping sebagai sumber mata air dari para petani atau digunakan masyarakat, mata air juga bisa dijadikan sebagai beji tempat sakral untuk upacara agama.

“Mohon jaga air, air adalah badan kita. Badan yang besar adalah alam semesta. Ada hubungan harmonis,” papar Satria seraya diberikan tepuk tangan oleh seluruh peserta diskusi yang kebanyakan diikuti oleh pemangku.

Lebih jauh Satria memaparkan bahwa konsep yang ada di Bali dari leluhur kita, sudah sangat jelas seperti “Tri Hita Karana” yang artinya tiga penyebab kebahagiaan dimana terkandung didalamnya hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama.

Konsep ini sudah sempurna, tinggal mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ini bisa dilakukan nisacaya manusia akan damai didalam menjalankan hidup di dunia ini.

Lebih jauh Satria juga menekankan agar hati -hati mengkomersilkan mata air sehingga tak memunculkan masalah.

“Hati-hati merubah alam menjadi sesuatu yang lain, dari naturalis menjadi bisnis perlu proses dan hati hati,” tegasnya.
(bud/bpn/tim).