Ditengah Covid-19 Pesanan Kain Songket Khas Desa Jinengdalem Alami Penurunan Hingga 50 Persen

Nengah Suadi seorang pengerajin kain Songket di Desa Jinengdalem, Buleleng
Nengah Suadi seorang pengerajin kain Songket di Desa Jinengdalem, Buleleng

BULELENG, balipuspanews.com – Imbas penyebaran Covid 19 ke perekonomian memang begitu besar bahkan sudah sampai hampir berjalan tiga bulan lebih, hal ini semakin terlihat dampaknya bahkan ke pengerajin Songket di Desa Jinengdalem, Buleleng.

Ketua Kelompok Tenun Songket Jinengdalem Ketut Sriponi situasi saat ini memang sangat mempengaruhi pesanan kain Songket sehingga penghasilan semakin minim tidak seperti biasanya sebelum adanya Covid 19.

Biasanya pengerajin di Kelompok Tenun Songket Jinengdalem bisa mendapatkan pesanan sebanyak 20 hingga 25 lembar kain Songket selama sebulan dengan nilai transaksi mencapai Rp. 60 Juta, akan tetapi semenjak adanya wabah pesanan kain Songket khas Buleleng menjadi menurun bahkan hingga separuhnya, yakni 10 sampai 15 lembar kain Songket dengan nilai penjualan mencapai Rp. 30 Juta.

Bahkan dirinya mengeluhkan bahwa semenjak adanya virus ini, pesanan yang biasanya didapat saat melaksanakan pameran di event event bahkan sampai di luar Bali, justru saat ini hampir nihil.

“Tadinya sebelum ada virus dalam sebulan ada saja event entah di kabupaten, provinsi, ataupun tingkat nasional, biasanya kami banyak terima pesanan di sana,” ungkapnya.

Perempuan yang memiliki 3 orang anak ini juga menambahkan akibat dari Virus tersebut membuat beberapa butik langganannya tidak men stok kain hasil produksinya, sebab harga pasaran untuk kain tersebut masih anjlok.

Sehingga biasanya kalau seperti bulan sekarang banyak Umat Hindu melangsungkan pernikahan mestinya akan banyak pesanan namun kondisinya tidak sesuai harapan.

“Untuk saat ini beberapa langganan di butik tidak men stok sebab pasarnya sedang anjlok. Bulan bulan ini juga mestinya cukup banyak pasangan yang memesan kain tenun songket untuk upacara pernikahan tapi justru sekarang minim sekali,” imbuhnya.

Sementara itu saat ditanya terkait pemenuhan bahan berupa benang sutra dirinya mengaku tidak mengalami kesulitan, bahkan benang yang didatangkan dari Cina ini sangat mudah didapatkan di daerah Denpasar.

“Untuk bahan tenun songket yang kami pakai, benang sutra, selama ini masih mudah didapat di Denpasar. Harganya juga tidak ada kenaikan,” tutupnya

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Putu Artayasa