Ketut Merta bersama istri menjalani pawintenan sebagai pemangku di Pura Dadia Tangkas Kori Agung banjar Jangu Duda, Selat Karangasem
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Karangasem, balipuspanews.com – Menjadi seorang Pemangku diperlukan kesiapan yang matang baik secara lahir maupun bhatin dalam menjalankan tugas dan kewajiban.

Seperti yang dijalani oleh I Ketut Merta,57, salah satu warga Dusun Bambang Biaung, Desa Duda, Selat, Karangasem setelah beberapa kali menolak akhirnya  Rabu (24/10/2018) pagi bertepatan dengan Bulan Purnama Kelima memutuskan untuk menjalani ritual Pawintenan sebagai Pemangku di Pura Dadya Tangkas Kori Agung, Banjar Jangu, Desa Duda, Selat, Karangasem.

Sebelumnya pertama kali diminta untuk ngayah menjadi seorang pemangku pada tahun 1993 oleh almarhum I Wayan Miarna yang kala itu menjabat sebagai Kelian Dadya Tangkas Kori Agung. Ketika diminta, Ketut Merta langsung menolak dengan alasan salah satunya belum sanggup untuk membatasi diri dikarenakan saat itu dirinya tengah memikul beban sebagai tulang punggung keluarga sehingga jika dipaksakan menjadi pemangku maka rasanya kurang murni.

” Ya saat itu saya menolak karena secara lahir bhatin memang belum siap untuk ngiring menjadi Pemangku,” ujarnya

Ketika menolak untuk mengemban tugas sebagai Pemangku, beberapa hari setelah itu, dirinya kemudian mendapat firasat lewat mimpi agar ngiring ngayah menjadi pemangku. Mimpi ini lantas diceritakannya kepada salah satu kerabatnya yang juga salah satu krame Dadya. Belum selesai bercerita tiba – tiba kerabatnya tersebut kerauhan dan mengucapkan beberapa kata salah satunya ngiring menjadi pemangku itulah jalan yang terbaik.

Tak sampai disana, entah kebetulan atau ada kaitannya, berbagai fenomena kerap dialaminya. Mulai dari kondisi perekonomian terpuruk, terjadi permasalahan dikeluarga, hingga serentetan kecelakaan dialami Ketut Merta dan anggota keluarganya.

Hingga pada tahun 2016 lalu, Krame Dadya melalui “Sangkepan” (forum) akhirnya kembali membicarakan soal  Pemangku dirinya pun kembali diminta namun lagi lagi kembali menolak. Kali ini setelah penolakan yang kedua ini, insiden insiden kian sering terjadi dan berujung kecelakaan sepulang dirinya mekemit dipura.

Sehari setelah kecelakaan itu terjadi, kecelakaan kembali dialami oleh istrinya Ni Luh Putu Merta,57, tertusuk paku pada bagian kakinya. Kejadian terus berlangsung, keesokan harinya salah satu putranya juga tertusuk beling pada kaki dilanjutkan dengan cucunya tiba – tiba tak sadarkan diri tanpa ada sebab. Terakhir rumahnya nyaris hangus terbakar akibat kebocoran gas LPJ.

Setelah serangkaian kejadian tersebut, di awal tahun 2017, pria yang memang sudah menekuni dunia spiritual sejak tahun 1986 tersebut akhirnya menyanggupi untuk ngiring menjadi seorang pemangku. Setelah menyanggupi untuk menjadi pemangku, diakui Guru pengajar di SD Negeri 2 Amerthabuana ini aura positif mulai terasa dalam kehidupannya, perekonomian keluarganya mulai membaik dan kedamaianpun mulai terasa menyelimuti keluarganya.

“Mungkin semuanya adalah cobaan yang memang harus dilalui, sekarang saya siap untuk ngayah dan rasanya damai dan tenang dalam hati,” kata Jero Mangku Ketut Merta usai menjalani proseai Pawintenan Pemangku yang dipuput oleh Ida Pedanda Istri Rai Anom Oka Keniten dari Geria Sanur.

Upacara pawintenan Pemangku ini sendiri disaksikan oleh puluhan krame Dadya Tangkas Kori Agung beserta sejumlah undangan dan tokoh masyarakat Desa Adat Duda. ( igs)

 

Advertisement

Tinggalkan Komentar...