Suasana saat sidang berlangsung dipengadilan

DENPASAR, balipuspanews.com- Ruang sidang Sari di Pengadilan Negeri Denpasar mendadak sesak dihadiri pengunjung sidang. Itu setelah Jaksa dari Kejari Badung menghadirkan 3 bocah korban pencurian HP dalam memberikan kesaksian dimuka sidang.

Ketiga bocah yang dua orang baru tamat SD, masing-masing Putu Di (12) dan Kadek An(12). Serta satu lagi yang baru naik kelas 8 SMP bernama Gus Tu (13). Kesaksian mereka ini yang bikin ruang sidang kasus pencurian HP dengan terdakwa I Ketut Tanggu alias Ketut Artawan (26), penuh sesak.

Dalam sidang Hakim pimpinan Sri Wahyuni Arini Ningsih, S.H., M.H ini awalnya mendengarkan isi dakwaan yang dibacakan oleh JPU Sutari Dewi, S.H. Selanjutnya, ketiga saksi yang masih di bawah umur dihadirkan untuk memberikan kesaksian. Saat itu, Majelis Hakim dan Jaksa di ruang sidang langsung melepaskan toga kebesaran mereka.

Meksi masih anak-anak, Gus Tu dan Putu Di cukup berani dan semangat memberikan keterangan di hadapan tiga hakim.

Diceritakan, saat Sabtu (9/3) pukul 09.00, mereka berempat main sepeda gayung di areal Taman Ayun, Mengwi, Badung. Tiba-tiba datang terdakwa yang mengendarai sepeda motor. Terdakwa menghampiri anak-anak ini dan menanyakan letak bengkel terdekat.

Selanjutnya terdakwa meminjam Hp yang dibawa anak saksi Putu Di. Terdakwa saat itu mengatakan ingin menelepon kakaknya untuk memberitahukan jika adiknya kecelakaan. “Karena kasihan saya kasi pinjam HP saya,”aku Putu Di, polos.

Namun di HP itu tak ada pulsa, terdakwa pun meyakinkan akan membelikan pulsa. Putu Di ikut dibonceng terdakwa. Bukannya ke dagang pulsa, Putu Di malah diturunkan di depan SDN 4 Mengwi. Terdakwa beralasan akan kembali sebentar. “Saya disuruh nunggu, tapi tidak ada datang. Akhirnya saya dijemput Gus Tu dengan sepeda,” bebernya.

Sementara Gus Tu menerangkan, sesaat setelah pergi dengan Putu Di, terdakwa kembali lagi ke Taman Ayun. Dia kembali meminta HP yang dibawa anak korban Kadek An.

“Waktu itu dia (terdakwa) bilang minjam HPnya Kadek karena disuruh sama Putu Di, makanya dikasi,”jelas saksi yang baru lulus SD ini.

Setelahnya terdakwa membawa kabur kedua HP milik kedua saksi, langsung kabur dan menghubungi sepupu jauhnya yang di Buleleng agar datang ke Denpasar.

“Saya ditawari HP yang katanya miliknya. Ditawari harga Rp 700 ribu tapi saya tawar jadi Rp 650 ribu,” kata saksi lain. “Benar adiknya kecelakaan saat itu?”tanya hakim. Oleh saksi dijawab tidak ada. “Dia (terdakwa) anak terakhir, dia tidak punya adik lagi. Kalau kakak baru ada,”ungkap saksi yang membuat hakim makin geram.

Kekesalan hakim kian menjadi ketika terdakwa mengaku baru berulah satu kali ini saja. “Jangan berbohong lagi kamu. Kamu kira saya tidak punya catatan kriminal kamu. Dari laporan polisi, kamu pernah dihukum dan bebas Januari 2018. Kasusnya sama, mencuri HP. Mau bilang apa lagi kamu?”cecar hakim.

Bahkan saat ditanya berapa bulan di penjara, pengangguran ini kembali ngibul dengan mengaku hanya 5 bulan. “Bohong lagi! Di sini tertulis satu tahun. Mana yang benar. Kamu jangan nipu majelis. Di sini (sidang) saja kamu bohong, pantes di luar kamu seperti itu juga. Korbannya anak-anak pula,”hentak hakim.

Pemuda pengangguran yang tamat SMP kelahiran Desa Tembok, Tejakula, Buleleng ini pun oleh Jaksa dalam dakwaan dijerat dengan Pasal 378 KUHP jo Pasal 65 ayat 1 KUHP dan Pasal 372 KUHP jo Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Oleh hakim, karena sudah langsung memasuki agenda pemeriksaan terdakwa maka persidangan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan tuntutan dari jaksa. (Jr/bpn/tim).