Nyoman Ledang Asmara
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Denpasar, balipuspanews – Polemik dualisme kepengurusan yayasan Dwijendra Denpasar terus bergulir.

Antara pengurus yayasan yang lama, Sumitra Candra Jaya dengan I Ketut Wirawan sebagai ketua yayasan yang baru belum mencapai jalan damai.

Atas peristiwa tersebut, orang tua murid yang tergabung dalam komite sekolah Nyoman Ledang Asmara angkat bicara.

Sebagai komite sekolah Nyoman Ledang sangat menyesal dengan kondisi dan segala peristiwa yang terjadi selama ini di yayasan Dwijendra.

“Sebagai komite di bawah naungan yayasan Dwijendra, saya sangat menyesalkan kejadian demi kejadian yang terjadi di Dwijendra jalan Kamboja,” ujarnya.

Menurut Ledang, apa yang terjadi saat ini di yayasan Dwijendra adalah akibat dari tindakan Karlota sebagai pembina yayasan. Dan menurut notaris, kepengurusan Karlota dan kawan-kawan tidak sah menurut Menkumham.

“Kenapa begitu, ketua Pembina yayasan Dwijendra Bapak Karlota dan teman-teman sudah jelas-jelas pinjam uang. Tetapi tidak dikembalikan dalam waktu yang ditentukan. Tetapi masih mengotot menjadi pemimpin yayasan yang berhak,” ungkap Ledang.

Lanjut Ledang, Karlota dan kawan-kawan juga tidak pernah berkomunikasi baik dengan siswa, komite sekolah dan dengan masyarakat.

“Sehingga kami di komite tidak mengerti, siapa Dr. Karlota dkk itu.
Tidak pernah memperkenalkan diri tidak pernah memasyarakatkan program-programnya,” imbuhnya.

Nyoman Ledang menambahkan, niat baik dari pengurus yayasan yang baru juga tidak ada.

“Niat baik mereka ( Dr. Karlota dkk-red) juga ndak jelas. Membangun gedung di Tohpati mereka-mereka itu ndak setuju dan sebagainya,” tegas Ledang.

Pada kesempatan tersebut Nyoman Ledang juga merespons terkait kinerja Kepolisian Daerah Bali yang menangani laporan mereka terkait penggelapan dana yayasan yang dilakukan Dr. Karlota dengan kawan-kawan.

“Dengan pihak Polisi kami juga sebagai komite seperti membingungkan. Kenapa, karena hampir setahun kami melapor ndak ada kemajuan terkait laporan kami. Kalau boleh kami usul, gimana perkembangan laporan kami,” tukas Ledang.

Di mata Ledang Asmara, kinerja Polda Bali sebenarnya sudah bagus. Namun mengapa masalah yang berkaitan dengan sekolah tidak ada kejelasan.

“Selama ini kami sudah menilai kapolda sudah bagus dan tegas. Bisa mengatasi masalah Narkoba, premanisme, masalah Pungli dsb. Tetapi masalah ini yang berkaitan dengan sekolah tidak ada kejelasan. Hampir 4000 lebih siswa lho. Belum orang tua, belum guru. Ini harus segera dituntaskan oleh Polisi,” pinta Ledang.

Ledang Asmara meminta agar Polda Bali tidak tebang pilih dan pandang buluh dalam menegakkan keadilan.

Jangan tebang pilih, jangan tumpul ke bawah tajam ke atas. Kalau sampai berlarut-larut begini,” tegas Ledang.

Bahkan Ledang mengusulkan agar Kapolda Bali diganti, apabila masalah ini tidak kunjung selesai.

“Kami mengusulkan ke Kapolri supaya Kapolda Bali diganti. Itu harapan kami, karena kami terus terang, kami sebagai komite merasa bingung.
Kami merasa tidak ada keadilan lagi. Kami berharap mencari keadilan itu satu-satunya ialah polisi,” ujarnya

“Kalau polisi begini, apakah kami harus melapor ke Presiden untuk dibentuk Polisi Swasta biar ada saingannya gitu.
Kalau ada saingannya saya yakin polisi sekarang bisa bekerja lebih cepat dan lebih semangat,” tambahnya.

Nyoman Ledang Asmara merasa prihatin dan menyesal terhadap tindakan kepolisian dalam menangani masalah ini.

“Kami merasa menyesal atas kejadian itu, kami sebagai masyarakat orang tua murid. Kami seperti kehilangan arah. Karena konflik kepentingan ini, satu-satunya cara ialah turun tangannya pemerintah yakni polisi sebagai ujung tombak penegakan hukum. Keadilan yang kami cari itu, disinilah tempat satu-satunya. Kami minta tolong kepada Kapolda, segera tuntaskan. Agar anak-anak kami yang sekolah di Dwijendra aman. Mahasiswa juga bisa kuliah dengan aman. Tidak seperti sekarang,” ujar Ledang.

Sebagai orang tua murid yang tergabung dalam komite sekolah, Nyoman Ledang Asmara berharap agar kedua belah pihak yayasan Dwijendra yang berseteru ini agar melaksanakan musyawarah dan cari jalan damai agar masalah ini cepat selesai.

“Pak Karlota seperti Pak Iriawan segera melaksanakan musyawarah dan cari jalan damai agar masalah ini cepat selesai. Pihak Made Candra dan pengurus harian agar berbesar hati untuk mencari keadilan di tubuh yayasan Dwijendra. Kami dari komite berharap segera ada kedamaian. Sehingga berjalannya proses KBM dari anak-anak kami ke depannya bisa lancar,” tutup Ledang. (nahal/bpn/tim)

Advertisement

Tinggalkan Komentar...