Photo Istimewa
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Pembagian beras sejahtera (Rastra) di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng menuai masalah.

Pasalnya, sejumlah warga kurang mampu selaku penerima beras sejahtera (Rastra) namanya mendakak lenyap dari daftar penerima Rastra.

Tak pelak, kenyataan tersebut membuat pihak desa enggan mengambil jatah Rastra. Terlebih, tak sedikit warga yang namanya dicoret dari daftar penerima Rastra.

Anehnya, data warga penerima yang namanya dicoret, seluruhnya berasal dari satu banjar yakni Banjar Dangin Yeh.

Data dihimpun, Desa Giri Emas memiliki KK kurang mampu jumlahnya mencapai 300 KK, berasal dari dua banjar yakni Banjar Segara dan Banjar Dangin Yeh.

Selama ini, warga yang mendapat bantuan beras (dulu raskin-beras miskin) sebanyak 90 KK, dengan rincian Banjar Dangin Yeh sebanyak 50 KK, dan Banjar Segara sebanyak 40 KK.

Namun, begitu pembagian beras berganti Rastra di tahun 2018, justru jumlah warga yang mendapatkan Rastra jumlahnya berkurang sebanyak 41 KK, dan 41 KK itu seluruhnya berasal dari Banjar Dangin Yeh.

Pada bagian lain, penerima Rastra di Banjar Segara justru bertambah sebanyak 8 KK dari jumlah data semula.

Nah, menyusul pengurangan jumlah warga yang menerima rastra, pihak desa pun belum berani mengambil jatah rastra tersebut.

Alasannya, jika rastra tersebut dibagikan akan timbul masalah baru lantaran warga yang sebelumnya kebagian, justru tahun ini tidak mendapat bagian rastra.

“Januari semestinya sudah diambil, dan sudah bisa dibagikan. Tapi karena pertimbangan ada yang tidak mendapat, untuk sementara dipending dulu,” kata Kelian Banjar Dangin Yeh, Kadek Mertadana di kantor desa, Selasa (13/3) siang.

Sementara, pihak desa mengatakan sempat mengundang Dinas Sosial dan Bagian Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setkab Buleleng guna menjelaskan pencoretan tersebut.

Dalam pertemuan itu, pihak Ekbang menjelaskan pencoretan data penerima itu langsung dari Pusat. Sehingga jatah rastra itu harus tetap dibagikan kepada penerima.

“Kami disuruh membagi rata jatah tersebut. Tetapi ini juga nanti bermasalah, karena yang berhak pasti akan menanyakan jatahnya kok dikurangi. Jadi kami dibawah ini yang dibenturkan dengan masyarakat kalau seperti ini. Tidak dibagikan salah, dibagikan juga salah,” kata Kelian Banjar Segara, Made Suardana.

Terpisah, Plt Kabag Ekbang Setkab Buleleng Agus Hartika mengakui ada pengurangan jumlah warga penerima rastra di Desa Giri Emas.

Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, karena pengurangan jumlah penerima rastra itu langsung dari pemerintah pusat.

”Kami ini hanya pelaksana, jadi berapa yang diberikan itu yang kami laksanakan,” katanya.

Hartika kembali menjelaskan, sebenarnya untuk Buleleng, jumlah warga yang berhak menerima rastra di tahun 2018, masih sama dengan tahun 2017, yakni sebanyak 38.179 KK. Artinya, di satu desa ada pengurangan, namun di tempat lain ada penambahan.

“Nah kebetulan yang berkurang itu di Desa Giri Emas. Apa dasar pengurangan dan penambahan data di tempat lain, kami kurang tahu. Sekali lagi, kami hanya sebatas pelaksana saja,” terangnya.

Menurutnya, meski ada pengurangan jumlah warga penerima, jatah rastra itu harus tetap dibagikan kepada warga yang berhak dan meminta agar pembagian Rastra itu harus dicarikan jalan tengah.

Sekedar diketahui, setiap KK yang sudah terdaftar dalam basis data terpadu (BDT) mendapat rastra sebenyak 10 Kg sebulan, tanpa membayar alias gratis.

Berbeda dengan tahun 2017 lalu, setiap KK dijatah sebanyak 15 kg, namun penerima membayar Rp 1.600 perkilo.

Tinggalkan Komentar...