Efektifkan Penegakan KTR, Program DESTAR Harap Jadi Percontohan 

Launching Program Denpasar Tanpa Asap Rokok (DESTAR)
Launching Program Denpasar Tanpa Asap Rokok (DESTAR)

DENPASAR, balipuspanews.com – Untuk mengefektifkan penegakan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) serta menurunkan angka perokok pemula Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Pengda Bali dan Pemerintah Kota Denpasar melaunching program DESTAR (Denpasar Sehat Tanpa Asap Rokok), Kamis (19/5/2022) di Gedung Dharma Mahottama kantor Sewaka Dharma.

Dalam sambutan Wali Kota Denpasar yang dibacakan Sekda Kota Denpasar, IB Alit Wiradana menyampaikan, berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota Denpasar dalam menekan pengendalian perokok pemula salah satunya dengan adanya larangan-larangan merokok di tempat umum seperti yang tertuang dalam Perda KTR.

Namun tantangan bahaya rokok terhadap kesehatan masih banyak warung dan dan toko-toko yang menjajakan rokok.

“Disinilah pengawasan perlu masih lemah dan perlu ditingkatkan,” ungkapnya.

Selain itu, masih tingginya pengguna rokok elektrik di masyarakat yang didominasi oleh kelompok remaja. Padahal, rokok elektrik juga sama bahayanya seperti rokok berbahaya bagi kesehatan.

Dengan itu perlu adanya keseriusan bersama dengan menyusun langkah-langkah strategis untuk pengendalian bahaya rokok yang sudah dibentuk yaitu kolaborasi antara Pemkot Denpasar dalam hal ini Dinas Kesehatan dengan IAKMI dengan program DESTAR.

“Dengan adanya program ini saya harap Denpasar menjadi role model atau percontohan penerapan kebijakan KTR di tingkat Nasional maupun Internasional,” harapnya.

Mudah-mudah melalui launching DESTAR ini Pemkot Denpasar dapat bersinergi dengan LSM terkait dengan lintas sektor untuk mewujudkan 100 persen kepatuhan KTR di Kota Denpasar secara bertahap dan mampu mencapai target nasional yang tercantum dalam RPJMD tahun 2020-2024 yaitu menurunnya prevalansi perokok remaja Indonesia menjadi 8,7 persen.

Sementara Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar Tri Indarti menjelaskan, selama ini edukasi tentang bahaya paparan asap rokok terus dilakukan, tidak berhenti seperti halnya dengan penegakan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Baca Juga :  Scout Competition III Meriahkan HUT ke-48 SMP Nasional Denpasar

“Ya jangan sampai hangat-hangat tahi tahi ayam, ini perlu melibatkan semua sektor seperti sekarang didukung IAKMI sehingga gerakan kita lebih mantap,” tandas Tri Indarti di sela peluncuran Program Destar.

Menyoal keberadaan rokok elektrik yang beredar dan banyak dijual di store atau toko-toko vape, dan belum mengantongi izin, maka harus ada kebijakan kedepan untuk menyikapinya.

Sejauh ini, untuk edukasi, ada program-program yang mengajak remaja seperti forum anak, kelompok siswa peduli remaja, Palang Merah Indonesia dan lainnya, melalui kegiatan-kegiatan mereka bisa disisipkan bahaya merokok.

Demikian juga di Karang Taruna, Sekka Teruna Teruni, semua dirangkul, disampaikan sosialisasi bahaya rokok. Dengan sosialiasi informasi yang disampaikan teman-teman sebayanya, tentu akan lebih efektif masuk ke remaja.

Saat ini, di Denpasar ada 11 klinik berhenti merokok di setiap Puskesmas yang cukup efektif dalam membantu mendampingi masyarakat yang ingin berhenti merokok. Tinggal pemanfaatnya bisa lebih dioptimalkan lagi.

Pada bagian lain Ketua Pengda Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Provinsi Bali Dr Made Kerta Duana mengungkapkan, dari tingkat prevalensi perokok secara nasional sebesar 30 persen, Bali termasuk paling rendah berkisar 25 persen.

“Angka ini, masih rendah untuk nasional, tetapi cukup tinggi di Bali, tetapi kita tidak boleh lengah,” tandasnya.

Diketahui pula, berdasar data dihimpun IAKMI, sekira 2-3 orang dewasa di Denpasar adalah perokok. Upaya untuk menghentikan kelompok orang dewasa yang merokok, diakuinya, cukup sulit.

Yang sekarang menjadi target atau sasaran untuk pengendalian bahaya merokok pada kelompok usia remaja.

Baca Juga :  Klungkung Raih Peringkat 5 di Ajang Porprov Bali XV 2022

Penurunan jumlah perokok adalah ekses terakhir dari pengendalian bahaya rokok. Tahapan penting dilakukan saat ini, adalah memutus rantai perokok pada anak dan remaja.

Untuk itu, indikator keberhasilan pengendalian rokok adalah pada tingkat ketaatan atau kepatuhan KTR kemudian tidak adanya iklan rokok di luar ruang maupun dalam ruang. Semuanya itu muaranya pada pencegahan perokok pada anak dan remaja serta edukasi berkelanjutan klinik berhenti merokok.

“Ya kita apresiasi Bali tingkat prevalensinya terendah nasional. Upaya pengendalian rokok, kuncinya pada kelompok remaja atau perokok dini, kalau bisa dicegah, maka akan mendapat prevalensi penurunan yang signifikan, kalau penurunan jumlah perokok itu indikator terakhir,” imbuhnya.

Pada bagian lain, Made Kerta Duana menyatakan, program kerja sama dengan Pemkot Denpasar sejatinya untuk kembali menguatkan dari upaya pengendalian rokok 2009 2008 yang sudah berjalan baik.

“Sekarang kita fokus kepada indikator-indikator spesifik, yang didasarkan MoU antara Pemkot Denpasar dan IAKMI, salah satu program yang diiniasi bersama lintas sektor pemerintah dan swasta ini adalah Destar atau Denpasar sehat tanpa asap rokok,” tandas akademisi Unud ini.

Salah satu upaya untuk mencapai program yang ditekankan pemerintah seperti penurunan jumlah perokok pemula, remaja, peningkatan layanan klinik berhenti merokok, peniadaan, iklan luar ruang dan dalam ruang.

Kemudian, upaya penegakan Perda KTR di lapangan, bersama Satpol PP, peningkatan edukasi melalui sosialisasi pencegahan perokok pada remaja.

“Ini rangkaian kegiatan yang diidentifikasi kedepan bersama Dinas Kesehatan, untuk pencehan masalah yang belum terpecahkan di tahun-tahun sebelumnya,” sambungnya.

Pada kesempatan sama, Bernadetta Fellarika Nusarrivera dari The Union melihat, meski sudah ada peraturan regulasi KTR namun yang tak kalah pentingnya adalah menegakkan implementasi peratutan KTR.

Baca Juga :  APBD Semesta Berencana 2023 Kabupaten Karangasem Ketok Palu

Untuk itu, Tim Satgas KTR harus intensif berjalan melakukan inspeksi rutin, pengawasan monitorng sehingga ketika dilakukan survei, bisa mendapatkan dapatan tingat kepatuhan masyarakat terhadap KTR cukup tinggi.

“Sekarang tingkat kepatuhan KTR sangat rendah, yang penting ditekankan meskipun ada peraturan tetapi masyarakta tidak patuh maka sama saja, masyatakat tidak terlindungi dari peraturan tersebut,” imbuh Bernadetta Fellarika.

Setiap daerah punya karakteristik tersendiri, masing-masing kota berbeda satu saa lainnnya.

“Menurut saya, implementasi Perda KTR yang berjalan baik, bisa dijadikan panutan seperti Kota Bogor, Kabupaten Klunglung dan Kulonprogo serta DKI Jakarta,” ungkapnya.

Pada kesempatan sama, Tim Litbang IAKMI Bali DR Ketut Suarjana mengungkapkan, soal rendahnya tingkat kepatuhan KTR di tempat hiburan malam pub, diskotek atau karaoke serta restoran di Bali.

Dari pemeriksaan yang dilakukan, banyak pegawai seperti perempuan yang bekerja di tempat hiburan atau restoran meskipun mereka tidak merokok namun karena lingkungan kerjanya terus terpapar asap rokok sangat berdampak negatif terhadap kesehatannya.

“Saat mereka diperiksa, untuk mengetahui bagaimana paparan nikotin dalam tubuhnya dan kapasitas fungfsi paru ternyata menurun,” tuturnya.

Dari pemeriksaan kapasitas fungsi paru-paru, rendah. Demikian juga paparan nikotin dalam tubuh mereka setelah dilakukan pemeriksaan pada urine positif terpapar nikotin. Meskipun bukan perokok, namun ada paparan nikotin pada tubuh mereka.

“Fakta ini, bisa untuk meyakinkan pemerintah, bahwa implementasi Perda KTR sangat penting ditegakkan di tempat hiburan hingga restoran,” tutupnya.

Penulis: Budiarta

Editor: Oka Suryawan