Kabag Ekbang Setda Buleleng, Desak Putu Rupadi.
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com –Bagian Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Buleleng mewaspadai lonjakan inflasi pada Bulan Desember mendatang. Pasalnya ada tiga hari raya yang jatuh di akhir tahun 2018 ini.

Mulai dari hari Raya Natal bagi umat Kristiani, Galungan dan Kuningan bagi Umat Hindu. Selain itu ada pula selebrasi tahun baru yang tentu saja membuat permintaan akan bahan pangan dan kebutuhan pokok semakin meningkat.

Demikian disampaikan Kepala Bagian (Kabag) Ekbang Setda Buleleng, Desa Putu Rupadi. Ditemui di ruang kerjanya Selasa (6/11) siang, Rupadi menyebut Bulan Desember memang menjadi momok. Mengingat bulan Desember merupakan musim penghujan yang berpengaruh terhadap produktivitas hasil pertanian.

“Sudah pasti hasil panen berupa pangan menurun karena musim hujan. Tetapi permintaan akan pangan meningkat. Tentu akan berpengaruh terhadap inflasi. Apalagi Bulan Desember ini ada tiga hari raya seperti Natal, Galungan dan Kuningan serta perayaan Tahun Baru,” ujar Rupadi.

Rupadi menambahkan sejauh ini Ekbang tetap bekerja sama dengan Tim Pemantau Inflasi Daerah dan PD Pasar untuk memantau inflasi. Bahkan jika merujuk pada pengalaman pada Desember tahun 2017 lalu, angka inflasi berada di kisaran 1,12 persen.

“Kami pasang target inflasi tahun ini minimal sama dengan tahun lalu yang berada di kisaran 1,12 persen. Cuma tahun ini lebih banyak hari rayanya. Biasanya Desember kan Natal saja. Tetapi sekarang ada Galungan dan Kuningan,” imbuhnya.

Inflasi imbuh Rupadi di Singaraja sebagian besar disumbang oleh volatile food seperti lonjakan harga pangan. Untuk itu pihaknya pun berencana akan menggelar operasi pasar bekerjasama dengan TPID Daerah dan PD pasar untuk menekan laju inflasi daerah pada Desember mendatang.

“Ini harus disiasati dengan operasi pasar agar harga sembako tetap terkendali. kami juga tetap mengambil produk-produk lokal milik petani seperti bawang putih, sayuran yang asli Buleleng. Sehingga pasokan tetap terpenuhi,” bebernya.

Di sisi lain, untuk akumulasi tahun 2017 lalu, Ekbang mengklaim sukses menekan laju inflasi berada di angka 3,38 persen. Sedangkan untuk akumulasi hingga September 2018, angka inflasi berada di kisaran 0,97 persen.

“Kami mendapat apresisasi di tahun 2017 karena laju inflasi stabil di angka 3,38 pesen. Karena masih berada di bawah rata-rata nasional yang berada di kisaran 3,55. Itu berarti meski ekonomi lesu tetapi inflasi tetap terjaga,” tutupnya.

Advertisement

Tinggalkan Komentar...