Jumat, Juli 19, 2024
BerandaDenpasarEndek Diproduksi Cuma 13 Persen di Bali, 87 di Luar

Endek Diproduksi Cuma 13 Persen di Bali, 87 di Luar

DENPASAR, balipuspanews.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Koster menyampaikan kelestarian kain tenun Bali ini selalu menjadi perhatiannya dalam melindungi pengerajin di Bali. Walaupun semakin banyak digunakan oleh masyarakat Bali namun produksinya sebagian besar dilakukan bukan di Bali.

“Hasil survey UNHI dari produk endek yang ada di Bali hanya 13% nya saja yang di buat di Bali, berarti 87% dibuat di luar Bali. Ini sangat merugikan kita,” jelas Putri Koster saat pembukaan Pameran IKM Bali Bangkit Tahap I Tahun 2023 Rabu (Buda Paing, Krulut) (15/2/2023) bertempat di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar.

Kata dia, hal ini hanya akan berdampak buruk pada industri tenun di Bali.

“Pertama industri tenun kita akan mati, Kedua pasar kita akan dikuasai oleh orang luar dan Ketiga uang kita akan keluar, yang untung orang di luar Bali,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan bahwa songket dan Endek Bali telah memiliki Hak Kekayaan Komunal yang dipegang oleh Pemprov Bali.

BACA :  Siapkan Anggaran 2 Tahun, Pemkab Gianyar Akan Bangun GOR di Desa Babakan

“Ini artinya kita sudah memegang aturannya sehingga jangan coba-coba mengambil motifnya dan ditenun di luar daerah,” ungkap Bunda Putri.

Menurutnya hal tersebut dapat dituntut dan diadukan kepada Kehemkumham karena telah masuk ke dalam ranah pidana.

“Mari kita jaga kebhinekaan, keragaman karya-karya nusantara,” tegas Ketua Dekranasda Bali.

Terkait maraknya penggunaan kain songket bordir yang hanya menjiplak motif songket yang sudah ada, Bunda Putri meminta agar Kepala Perangkat Daerah dapat mengingatkan seluruh pegawainya. Ia juga meminta agar kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan dengan baik khususnya di bidang kerajinan.

“Kan lebih baik ketika ada kemajuan teknologi, buat motifnya sendiri sehingga seniman-senimannya akan muncul. bukan malah menjiplak motif yang sudah ada,” imbuhnya.

Pemerintah Provinsi Bali tidak menutup diri terhadap perkembangan kerajinan nusantara bahkan Provinsi Bali berkeinginan menjadi sentra penjualan dari produk-produk tersebut.

“Kalau industrinya di pusatkan di suatu tempat, daerah-daerah akan mati industri tenun dan kerajinannya. Tetapi kalau penjualan/pasarnya dipusatkan itu mereka akan hidup dan memajukan ekonomi para pengrajin,” jelas Bunda Putri.

BACA :  Hari Pertama Operasi Patuh, Polisi Tindak 52 Pelanggaran

Dengan dibangunnya Pusat Kebudayaan Bali (PKB), Bali diharapkan dapat menjadi superhub penjualan karya-karya kerajinan seluruh nusantara.

“Tetapi tetap utamanya karya Bali harus menjadi tuan di rumahnya sendiri,” jelasnya.

Putri Koster menyampaikan bahwa omset penjualan pada IKM Bali Bangkit Tahun 2021-2022 mencapai lebih dari 51 Milyar rupiah.

Terkait IKM Bali Bangkit Tahun 2023 sendiri, Bunda Putri menyampaikan konsep pelaksanaanya akan sedikit berbeda. IKM Bali Bangkit akan semakin selektif mengawal semua tenantnya agar hanya menjual produk lokal asli Bali.

Penulis: Budiarta

Editor: Oka Suryawan

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular