El Nino warga Banjar Nyuh, Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng.

Singaraja, balipuspanews.com — Perbekel Desa Lemukih, Ketut Budiarta akhirnya angkat bicara setelah postingan tumpukan sampah plastik diunggah belum lama oleh salah seorang turis asing bernama Gianpaolo Roseghini viral di media sosial (medsos).

Perbekel Budiarta tak menampik akan keberadaan sampah berasal dari limbah rumah tangga menumpuk di wilayah Banjar Desa, Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Buleleng, lokasi tepatnya di sebelah timur setra (kuburan) berdekatan dengan sungai, selatan jalan umum setempat.

Namun demikian, Perbekel Budi menjelaskan bahwa lokasi sampah sempat diposting itu, merupakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sementara milik desa setempat.

“Ya, photo yang diposting turis asing bernama Gianpaolo Roseghini di media sosial itu sejatinya lokasi TPA sementara. Jadi, wajar sampah disana terlihat menumpuk,” kata Perbekel Budi saat ditemui di kediamannya, Minggu (1/4) sore.

Pihaknya pun menyanggah jika ada anggapan masyarakat setempat kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan, lantaran sebelumnya melalui dasar kesepakatan musyawarah desa dinas bersama desa adat di tahun 2014 lalu, menyetujui lokasi tersebut dijadikan sebagai TPA.

Tak sampai disitu, pernyataan kesepakatan lokasi TPA sementara seluas 300 meter persegi diatas lahan milik desa adat setempat itupun sudah diketahui dan mendapat persetujuan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buleleng, nantinya di lokasi tersebut akan dibangun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).

“Sudah beroperasi sejak tahun 2014 lalu. Sampah (limbah rumah tangga) diangkut oleh petugas kebersihan menuju TPA sementara. Ya, seluruh sampah dari masyarakat di 5 Banjar di Desa Lemukih diambil, lalu diangkut kemudian dibuang di TPA,” terangnya.

Imbuh Perbekel Budi, secara pribadi dirinya menyampaikan terima kasih atas postingan tumpukan dan luberan sampah di media sosial berada di wilayahnya tersebut.

Kedepan, sambung dia, pihaknya akan berupaya berkordinasi dengan pihak DLH Buleleng untuk mengurangi volume tumpukan sampah dari limbah rumah tangga saat ini terlihat kian menggunung dan menebarkan bau tak sedap, khususnya bagi pengendara yang melintasi ruas jalan tembus kilometer 18 tersebut.

“Secara pribadi kami akui salah, tapi sampah itu kami harus buang kemana? Kami hanya memiliki lahan (TPA) itu saja. Kritik, saran itu terus terang sangat baik bagi kami. Nah, kedepan kami akan berupaya meminta penjemputan limbah dari DLH, agar volume sampah dari limbah rumah tangga bisa dikurangi, dan nantinya bisa diangkut oleh truk DLH menuju TPA di Bengkala,” pungkasnya.