sewa motor matic murah dibali

DENPASAR TIMUR-balipuspanews.com-Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (FSP-ISI) Denpasar meyudisium 48 lulusan dari prodi Sendratadik, Karawitan, dan musik di Gedung Natya Mandala, kampus setempat, Selasa (12/2).

Dekan FSP ISI Denpasar Dr. I Komang Sudirga, S.Sn.,M.Hum., meminta agar ‘jebolan’ FSP meninggalkan mental yang berorientasi ‘harus jadi pegawai negeri sipil (PNS)’ setelah meninggalkan bangku kuliah, Namun, jauh lebih baik diharapkan mampu ciptakan lapangan pekerjaan.

Menurut dia, semua pekerjaan mempunyai nilai penting, jadi tidak ada alasan memilih-milih pekerjaan. Meskipun 60 persen lulusannya menyandang predikat lulus dengan pujian, tidak serta merta mudah diterima menjadi PNS. Di samping karena moratorium pengangangkatan calon PNS oleh pemerintah, persaingannya juga ketat, padahal banyak peluang lain yang bisa dimanfaatkan.

“Semua pekerjaan mulia. Para lulusan dituntut kreatif menciptakan peluang kerja, bukan mencari kerja. Predikat kelulusan dan ilmu kalian harus dipertanggungjawabkan di masyarakat,” kata Sudirga.

Dekan asal Karangasem ini juga mengingatkan, tantangan di era revolusi industri 4.0 sangatlah berat. Pesalnya perkembangan teknologi berakibat pada pengurangan tenaga manusia. Sehingga, sarjana yang tidak krearif akan terjerumus menjadi ‘pengangguran intelektual’.

“Sekarang bukan soal predikat dan kecepatan lulus. Tapi apa yang bisa anda lakukan untuk kemajuan bangsa,” jelas Sudirga.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, masih menurut dia, lulusan FSP, atau lulusan ISI Denpasar pada umumnya terbukti mampu menjawab tantangan di masyarakat, seperti mengabdi di pemerintahan, pengajar, wiraswasta dan berbagai sektor ekonomi kreatif lain. Karenanya ia yakin yudisiawan 2019 ini juga pasti berhasil.

Lebih lanjut, ia menyarankan bagi lulusannya yang memiliki kemampuan dan niat, agar melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Sebab, lanjut dia, mempelajari ilmu pngetahuan tidak pernah ada habisnya. Tahun ini seorang lulusannya dipastikan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

“Mereka yang kami lepas tahun ini telah mempersembahkan prestasi yang luar biasa untuk institusi,” pujinya.

Mewakili yudisiawan/i, R. Apsari menyampaikan terima kasih atas dukungan pimpinan FSP dan Rektorat ISI Denpasar. Selama mengenyam pendidikan, ia mengakui seluruh kegiatan mahasiswa didukung secara penuh. Sehingga peserta didik berkesempatan menunjukkan potensi yang dimiliki.

“Banyak kenangan indah dan berkesan di kampus yang saya cintai ini, baik dengan teman maupun dosen,” jelasnya.

Pada Yudisium FSP 2019, indeks prestasi kumulatif (IPK) tertinggi diraih oleh Putu Ardi Satriawan, disusul Putu Yusinta Prananingrum, dan I Dewa Dwi Putrayana, di posisi ketiga.

Sementara tiga besar kategori skripsi terbaik diraih oleh Kadek Rania Afsari, Ni Made Dwi Indah Cahyani dan I Wayan Suartawan. Kategori pencipta karya karawitan terbaik diraih Agus Gede Sukarta. Terakhir, kategori pencipta karya musik terbaik diraih Putu Nanda Mahesa Candra W.(bpn/bud/tim).

Tinggalkan Komentar...