Gagal Pentas di Puncak HUT Kota Singaraja, Peserta Rejang Desa Kedis Kecewa

- Advertisement -
- Advertisement -

SINGARAJA, balipuspanews — Kekecewaan mendalam dirasakan puluhan peserta Tari Rejang Renteng asal Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Mereka pun hanya mampu mengelus dada lantaran gagal pentas membawakan Tari Rejang Renteng saat puncak peringatan HUT Kota Singaraja Ke-415, pada Sabtu (30/3) kemarin.

Kekecewaan batal tampilnya 50 peserta Rejang Renteng itu diungkapkan Perbekel Desa Kedis, Nengah Suparna.

Menurutnya, kekecewaan itu tak hanya dirasakan peserta Rejang Renteng, melainkan juga dirasakan sebagian besar masyarakat desa Kedis.

“Penyebab ibu-ibu PKK gagal tampil, karena tidak mendapatkan space (tempat) saat hendak membawakan Tari Rejang Renteng,” kata Perbekel Suparna, Minggu (31/3) sore.

Menurutnya, sesuai denah dan himbauan pihak kecamatan, para penari duta Kecamatan Busungbiu saat itu mendapatkan zona (lokasi) mulai simpang Udayana ke arah utara sampai kantor Dinas PMPPTSP Buleleng. Nah, penari Rejang desa Kedis sendiri berada di posisi 6 zona Kecamatan Busungbiu, tepatnya di sekitar kantor BPJS Singaraja.

“Mulanya barisan penari jumlahnya ribuan orang itu, sudah terlihat rapi dari arah utara ke selatan. Namun beberapa menit sebelum pentas mendadak terdengar aba-aba geser,” imbuhnya.

BACA :  Hamid Noor Yasin Sampaikan Duka Cita Atas Insiden KM Virgo Transport 8 di Perairan Masalembo

Tak pelak, aba-aba itu pun diikuti oleh ribuan penari hingga mengakibatkan situasi kian gaduh.

“Gasar-geser, posisi (penari) kami kian terjepit, karena posisi zona kami ada di tengah-tengah. Ya, dari arah utara bergeser ke selatan, sedangkan penari dari arah selatan juga geser ke utara,” terangnya.

Praktis, pergeseran itu mengakibatkan posisi penari desa Kedis krusial. Pun, penari desa Umejero posisinya bersebelahan terus didesak hingga terjepit. Tak berselang lama, penari dua desa bertetangga itupun lantas memutuskan untuk membubarkan diri sebelum pentas Rejang Renteng massal dimulai.

“Sempat kami bertahan. Saya bilang ke salah seorang pegawai kecamatan jangan terus gasar-geser. Apa omongan saya ditangkap (didengar) atau tidak, namun faktanya penari desa Kedis dan Umejero harus mundur dan membubarkan diri karena terus didesak sampai penari terjepit. Saat itu, posisi kami langsung diambil alih penari desa Bengkel,” jelasnya.

Perbekel Suparna pun tak menampik jika ada salah seorang warganya mencurahkan kekecewaan melalui postingan di media sosial. Sejatinya, peserta Tari Rejang Renteng yang batal tampil itu ingin ngayah sebagai bentuk penghormatan kepada Kota Singaraja.

BACA :  Pohon Beringin Tua Hingga Dua Pelinggih di Pura Desa Adat Buleleng Terbakar

“Ya tidak apa-apa, kita maklum ada warga yang menulis kekecewaannya di facebook karena gagal pentas. Tentunya Ibu-ibu penari marah dan kecewa. Coba bayangkan, persiapan mereka jauh-jauh hari sebelum pentas. Harus meninggalkan kesibukan rumah tangga, bahkan ada yang rela datang rutin latihan pulang pergi dari Singaraja ke Kedis. Jaraknya berapa itu, jauh sekali. Belum lagi mepayas gede (berhias) dari pukul 05.00 wita pada hari sebelum pentas. Ya, sekali lagi kami maklum melihat postingan itu,” ungkapnya.

Menghindari kejadian serupa tak terulang kembali, Perbekel Suparna meminta Pemerintah Kabuapten (Pemkab) Buleleng, khususnya instansi serta pihak panitia pelaksana mempersiapkan perencanaan lebih matang agar kedepannya pertunjukan berhasil dengan baik.

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular