I Kadek Satria
I Kadek Satria
sewa motor matic murah dibali

DENPASAR, balipuspanews.com- Dalam Tiga kerangka dasar Agama Hindu kita mengenal Tattwa, Susila dan Acara. Dalam Acara terkandung beberapa bagian seperti Tempat Suci, Orang Suci, Kitab Suci dan terakhir Hari Suci. Kenapa pada bagian akhir tidak disebut Hari Raya? Kok Hari Suci? Bukan tanpa alasan, mari kita simak renungan saya ini.

Akademisi I Kadek Satria menyebut Hari Suci karena pada hari itu ‘tenget’ tenget karena hari itu ada pertemuan dasa wara yang pada wara-wara tertentu adalah pertemuan yang amat suci, amat disucikan sehingga saat itulah diyakini ada anugerah yang suci akan turun bagi mereka yang melakukan brata-brata tertentu yang diaplikasikan dalam bentuk dan cara berupacara.

Karena dianggap hari yang baik, tenget, suci maka pada saat itu adalah dewasa ayu untuk memohonkan kerahayuan alam baik alam besar, maupun alam kecil yang disebut badan ini dan melakukan hubungan harmonis kepada Sang Hyang Sangkan Paraning Dumadi.

Selama ini kita selalu menyebut Hari Raya, karena kita mengadopsi pemikiran bahwa saat itu kita merayakan sesuatu. Itulah yang menyebabkan kita terpaku bahwa pada saat itu kita berpesta, makan besar-besaran, bahkan berminuman keras. Kenapa demikian? Iya, karena saat itu adalah perayaan.

“Sepanjang kita menyebut dan memaknai Hari Raya, maka sepanjang itu kita berpesta di hari yang semestinya kita sucikan.
Suci adalah keadaan yang melampaui segala cela, kotor, hina, dan sebagainya yang kita agungkan sebagai suatu kondisi yang baik untuk kemurnian. Maka yang paling tepat adalah HARI SUCI bukan HARI RAYA,” jelasnya.

Hal ini karena umat merayakan hari suci, bukan mensucikan hari raya! Dalam hari suci, maka kita bersuci, kita berpantang, kita menjaga peradaban hidup sebagai manusia yang paling utama, yang jika diposisikan adalah sebagai mahluk yang lebih beradab dibandingkan mahluk lainnya.

Jangan sampai terbalik, kita sebagai mahluk yang sempurna tetapi laku kita lebih tak beradab dari hewan maupun tumbuhan. Jangan dengan kelebihan kita memiliki pikiran kemudian membuat kita kembali ke jalan yang salah. Mestinya kita jauh lebih luhur!

Mari kita memaknai hari suci sebagai hari yang ‘tenget’, hari yang kita sucikan, hari dimana yoga kita lakukan, hari dimana cinta kasih dan kasih sayang dengan semesta hidup kita aplikasikan, hari untuk mengingatkan kembali diri kita sebagai manusia yaitu mahluk yang sempurna dengan pikiran.

Di hari suci kita memurnikan Tri kaya Parisudha yang sudah kita lakukan sehari-hari sehingga lebih baik. Saat itu kita berpantang, metapa, sehingga saat hari suci itulah kita sebagai manusia memuliakan alam dan segala isinya dengan puja dan mantra yang dituangkan dalam perilaku nyata.

Maka dengan itulah kita akan beryadnya dengan banten (tumbuhan), namun tak berhenti disana, maka wajib pula menanam buah-buahan. Saat itu kita meyadnya dengan dengan dupa lalu diwujudkan dengan memelihara sinar suci dalam diri (suluh hidup), saat itu kita meyadnya dengan air yang diwujudnyatakan dengan memelihara tumbuhan, sungai, danau, samudra agar tak tercemar sehingga air itu bukan hanya di mantrai dengan mantra suci, tetapi juga diperilakukan baik oleh kita.

Meyadnya nyata inilah sebagai perintah keras dari pengertian hari suci dan bukan hari raya. Sebab kalau kita terus berpesta berpeluh nikmat tanpa merasai dengan menjaga dan memelihara adalah salah versi sloka Bhagawadgita. Mari kita rayakan hari yang suci dengan tapa brata, bukan mensucikan hari raya yang hanya berpesta belaka. (***/bpn/tim).