Galungan, Rerainan Jagat dan Ketergantungan Bali Terhadap Produk Luar

Ki Tambet
Ki Tambet

OPINI ANDA, balipuspanews.com – Hari ini, rahina Respati Wage wuku Sungsang (Kamis, 9/9), semeton Hindu khususnya semeton Hindu di Bali merayakan rerahinan jagat Sugihan Jawa. Rerahinan ini merupakan salah satu bertanda bahwa hari kemenangan dharma atas adharma yaitu Galungan akan tiba lima hari lagi ataun pada Rahina Buda Keliwon wuku Dungulan.

Rangkaian rerahinan jagat Galungan sendiri sejatinya telah dimulai sejak dua puluh lima hari sebelum rerahinan jagat Galungan tersebut. Yakni pada Rahina Saniscara Keliwon wuku Wariga yang lebih dikenal dengan Tumpek Wariga/Tumpek Bubuh/Tumpek Pengatag/Tumpek Pengarah. Pada hari tersebut umat khususnya kaum ibu melakukan persembahan dengan memohon agar tanaman berbuah lebat untuk kemudian dijadikan sarana bebantenan pada saat Galungan.

Adalah sesuatu yang sangat menarik dicermati sekaligus pula direnungi karena ironisnya makna dan harapan dari kekhusyukan para ibu dalam meyadnya di Tumpek Pengarah dengan kenyataan kemudian ketika berbicara terkait berbagai sarana yadnya yang dipersembahkan pada Tumpek Wariga itu sendiri ataupun pada rerahinan-rerahinan jagat yang sedemikian banyaknya dalam peredaran 30 wuku atau 210 hari sekali. Yakni belum mahardikanya (merdeka, red) semeton Bali dari berbagai produk luar untuk memenuhi kebutuhan rutinitas beryadnyanya.

Halooo semeton Hindu di Bali, pada titik ini mari jangan malu mengakui bahwa betapa semeton Bali saat ini tengah asyik menikmati “keterjajahannya” atas produk luar ditengah masih suburnya lahan-lahan Bali. Diatas natah tanah Bali itu berkumandang berbagai jenis yadnya yang dilandasi oleh konsepsi Tri Hita Karana. Yakni landasan mulia yang menyirat dan menyurat bahwa ada tiga hal yang menjadikan manusia Bali hidup dalam keharmonisan. Yakni hubungan yang harmonisnya dengan sesama manusia, lingkungannya dan Sang Maha Kawi.

Maka ketika dalam melanjutkan nafas hidup dan berkehidupannya, khususnya dalam melestarikan tradisi beryadnyanya, ternyata semeton Bali masih sangat tergantung dengan produk luar tentu ada sebuah kritik diri yang layak mengusik sang jiwa. Yakni tidakkah konsepsi Tri Hita Karana hanyalah sebuah konsepsi diawang-awang, yang betapa hebatnya dalam tataran wacana namun kering dan gersang dalam aplikasi dikehidupan nyata.

Sebab ironis sekali. Ketika kaum ibu gupuh menyiapkan sarana yadnya, reng genta menggema mengiringi sakralnya upacara, natah tanah Bali yang masih sedemikian suburnya tetapi janur, selepahan, pisang, dan beragam kebutuhan yadnya didatangkan dari luar Bali. Bahkan konon beberapa pedagang canang di Bali juga bukan semeton Bali.

Lalu ketika dalam mererahinan termasuk dalam merayakan kemenangan dharma melawan adharma, semeton Bali masih sangat tergantung dengan produk luar, maka apa makna yadnya sejatinya ? Tidakkah yadnya merupakan salah satu bentuk ungkapan syukur umat manusia atas anugerah keberlimpahanNya terhadap segala sarwa prani yang tumbuh diatas taman sariNya (lahan/tanah).

Maka dalam tempo sesingkat-singkatnya, semeton Bali harus menata dirinya untuk meyadnya yang mahardika. Semeton Bali harus mulai meyadnya yang mandiri dan meyadnya yang merupakan visualisasi dari ungkapan syukurnya atas anugerah hidup dan anugerah atas keberlimpahan sumber hidup yang tumbuh subur diatas natah tanah Bali.

Artinya, semeton Hindu Bali harus bisa berdaulat dalam urusan penyediaan sarana upakara dengan memanfaatkan sisa lahan yang ada atau dipekarangan-pekarangan rumah yang memungkinkan.

Berkaitan dengan bertanam, semeton Hindu Bali juga telah diwarisi dengan pengetahuan hebat tentang baik-buruknya hari atau ala ayuning dewasa. Ini bisa dijadikan sebagai sebuah rujukan terkait hari apa cocoknya menanam apa. Setidaknya juga dengan merujuk dari ala ayuning dewasa tadi, semeton Hindu Bali bisa beradaptasi dengan roh dan karakter hari. Selain juga dengan bertanam alam Bali akan semakin hijau dan berimbas pada sejuknya raga dan teduhnya jiwa dalam beryadnya dan juga dalam berkehidupan.

Penulis tegaskan, mari mulai menanam. Menanam untuk ditabung dan digunakan untuk melestarikan tradisi beryadnya. Menanam untuk merawat budaya ke-Hinduan yang tengah mengalami gesekan dan geseran dari derasnya paham-paham konsumtif.

Sekali lagi mari bertanam untuk kemandirian Bali dalam beryadnya. Dengan artian, setidaknya upakara-upakara yang dipersembahkan kepada Ida Sasuhunan di Bali adalah hasil dari kegigihan dan astiti krama Bali. Bukan mempersembahkan produk luar yang tumbuh di luar namun dijadikan sarana bersyukur di tanah Bali. Hingga kemudian tidak muncul sebuah ungkapan “Nak Bali meyadnya ngadep tanah, nak luar Bali ngadep bahan-bahan upakara untuk membeli tanah Bali”. Karena ungkapan seperti itu sudah muncul beberapa dekade lalu. Yakni Nak Bali ngadep tanah untuk beli bakso orang luar. Sementara orang luar ngadep bakso untuk beli tanah Bali.

I Cetrung sedih ngurimik. Ratu Agung, kenken jani baan madaya.

Penulis : Ki Tambet

Editor : Oka Suryawan