Gek Mas
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

TABANAN, Balipuspanews.com – Mendengar kata “ngereh”, pikiran akan segera tertuju pada sebuah aktivitas ritual bagi seorang penekun ilmu hitam. Ngereh bagi sebagian masyarakat Bali juga dikonotasikan sebagai aktifitas miring dan pelaku ngereh cenderung dipandang sebagai seseorang yang bisa ngeleak.

Meski ngereh dipandang sebagai sebuah ritual bagi penganut ilmu kiri dan pelaku ngereh dicap sebagai orang yang bisa ngeleak, nyatanya ngereh sangat dinikmati oleh dara manis bernama lengkap Ni Luh Putu Mas Putri Andriani. Mengapa nikmat dan ia selalu merasa ” gatal” untuk ngereh? Berikut ulasannya.

Ditemui di kediamannya di Banjar Pasekan Baleran, Desa Dajan Peken, Tabanan, gadis kelahiran 28 Februari 2007 ini menceritakan kesukaannya menjadi penari dari pemeran salah satu sisyan Hyang Berawi ini bermula dari ketidaksengajaan diajak ngayah nyalonarang di setra Pasekan, Tabanan. Tidak main-main, yang ngajak ngayah tersebut tiada lain seniman arja dan dalang I Putu Ajus Purnawan yang juga pemilik Sanggar Canging Mas.

“Ketidaksengajaan itu kemudian membuat saya suka menari sebagai sisya hingga sampai sekarang,” ungkapnya.

Diakuinya, sebagai “leak” remaja, memerankan sisya ini mendatangkan pandangan miring dan juga pujian dari berbagai pihak. Terkait pandangan miring, Gek Mas mengaku pada awalnya orang tuanya sendiri juga terkesan melarang. Bentuknya, alat riasnya pernah dibuang orang tuanya sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap putrinya menjadi pemeran sisya.

“Karena saya menari tulus untuk ngayah, orang tua akhirnya mendukung,” sebutnya.

Diakuinya, memerankan sisya dalam sebuah pementasan Calonarang juga bersentuhan dengan dunia magis. Iapun menyebutkan seringkali bermimpi aneh. Bahkan mimpi-mimpi aneh tersebut sudah sering dialaminya jauh sebelum ia memilih terjun sebagai penari sisya. Umumnya, mimpi anehnya tersebut berupa sebuah pesan agar dirinya untuk ngayah, khususnya ngayah mesolah atau menari.

Tidak hanya mimpi, pengalaman magis secara nyatapun sesekali pernah dialaminya. Yakni dengan melihat suatu penampakan. Anehnya, terhadap penampakan tersebut Gek Mas tidak takut dan justru penasaran ingin lebih tahu.

Salah satu penampakan yang masih melekat diingatannya adalah saat ia dan beberapa temannya usai ngayah nyalonarang disuatu pura melihat sosok nenek-nenek dekat sebuah kuburan. Saat itu malam sudah sangat larut dan ia bermaksud makan disebuah warung nasi sepulang dari menari.

Didekat sebuah kuburan, perjalanan rombongannya ini terhalang oleh seseorang nenek yang dari penampilannya seperti mau ke pasar. Tetapi ia sadar, didekat itu tidak ada pasar dan waktu masih sangat larut malam sehingga tidak mungkin ada pasar yang buka. Apalagi tempatnya jauh di pedesaan.

“Jujur waktu itu saya tidak takut dan justru saya kasian melihat seorang nenek-nenek ditengah malam jalan kaki sendiri,” kenangnya.

Setelah tiba di warung makan yang dituju, oleh salah satu temannya yang paham dengan dunia niskala Gek Mas akhirnya tahu bahwa nenek-nenek yang dijumpainya tadi adalah salah satu penekun ilmu hitam. Nenek tersebut konon menuju ke setra atau kuburan untuk melakukan prosesi ngereh.

Lalu, adakah ritual khusus yang dilakukannya sebelum ia ngayah pentas memerankan tokoh sisya ini? Gek Mas menyebutkan, ia hanya cukup menghaturkan sembah bhakti kepada Ida Sasuhunan yang berstana ditempatnya ngayah mesolah. Tujuannya agar Ida Sasuhunan merestui sekaligus melindunginya dan seluruh rombongan seniman yang ikut ngayah.

Terkait dengan nikmatnya memerankan tokoh sisya Hyang Berawi ini, Gek Mas mengatakan bahwa sejak awal diajak menari sebagai sisya ia sangat senang. Rasa senang ini dikarenakan ia bisa mengekspresikan jiwa seninya, bisa ngayah dan juga bisa sering bertemu dengan seniman – seniman hebat. Ini juga diakuinya telah berperan penting dalam membangun kepercayaan dirinya.

“Dulu tiang sangat pemalu dan pengalaman sering pentas ini membuat saya bisa menjadi orang yang lebih percaya diri,” ujarnya.

Seni khususnya seni tari kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan Gek Mas. Dalam masa remajanya saat ini, ia sangat sadar bahwa berkesenian menjadi salah satu identitas sebagai orang Bali. Sehingga ia menjatuhkan pilihan pasti untuk tetap menari sepanjang waktu, hingga ia renta dan telah tumbuh penari-penari muda yang akan melestarikan taksu seni di gumi Wanoa Wangsul atau Nusa Wali yang kini dikenal dengan nama Bali. (rah/bpn/tim)

Advertisement
Loading...