Gus Jazil: Pendidikan dan Keteladanan Bisa Munculkan Sosok Pancasilais

Diskusi Empat Pilar MPR RI dengan tema 'Memperkokoh Pancasila di Tengah Kehidupan Bermasyarakat' di Media Center Parlemen, Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Senin (20/9/2021). (Foto: MPR RI)
Diskusi Empat Pilar MPR RI dengan tema 'Memperkokoh Pancasila di Tengah Kehidupan Bermasyarakat' di Media Center Parlemen, Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Senin (20/9/2021). (Foto: MPR RI)

JAKARTA, balipuspanews.com – Nilai-nilai ideal Pancasila seringkali tidak sesuai dengan dengan realita yang ada di masyarakat. Hal ini terjadi karena keberadaan Pancasila hanya sebatas menjadi konsep saja, tetapi tidak memunculkan sosol yang benar-benar menjadi pengamal dari nilai-nilai yang ada dalam Pancasila atau disebut Pancasilais.

Untuk itu, dilakukan cara atau strategi agar keberadaan Pancasila bukan hanya sekedar konsep, tetapi berdampak pada banyaknya muncul sosok Pancasilais (pengamal Pancasila).

Pada titik ini, penerapan Pancasila menemui masalah atau tidak nyambung dalam realita kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Apa gunanya sebuah cita-cita besar, nilai-nilai besar, pandangan yang sangat filosofis, tapi tidak dipahami, tidak dihayati dan diamalkan,” ucap Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid (Gus Jazil) dalam diskusi Empat Pilar MPR RI dengan tema ‘Memperkokoh Pancasila di Tengah Kehidupan Bermasyarakat’ di Media Center Parlemen, Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Senin (20/9/2021).

Untuk itu, sambung Gus Jazil, perlu cara atau strategi agar nilai-nilai Pancasila dapat dipahami, dihayati dan diamalkan terutama generasi muda saat ini atau generasi milenial.

Cara pertama, menurut Wakil Ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini adalah dengan menanamkan pendidikan yang benar. Seperti dulu, Pancasila masuk dalam kurikulum di tiap tingkat pendidikan seperti di sekolah dasar (SD) dan SMP mengenal mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

“Dulu ada materi Pancasila di setiap tingkatan di dunia pendidikan,” sebut Gus Jazil.

Lalu kedua, melalui keteladanan dari sosok yang dianggap negarawan.

“Siapa Pancasilais (pengamal Pancasila) sejati di Indonesia? Menurut saya itu harus digaungkan. Harus menjadi prototype. Nggak pernah punya sampai hari ini, siapa sebenarnya orang yang Pancasilais?,” ucap Gus Jazil.

Untuk mensosialisasikan Pancasila, Jazilul Fawaid mengatakan tidak cukup bila hanya dilakukan oleh MPR dan BPIP.

“MPR dan BPIP mempunyai tugas untuk menguatkan Pancasila hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam menjalankan prinsip-prinsip perekonomian, misalnya. Kata Gus Jazil apabila prinsip perekonomian sudah disusun secara kekeluargaan maka hal demikian sudah selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

“Bila tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, di sinilah salah satu dari contoh tidak nyambungnya antara cita-cita dan realita,” paparnya.

Gus Jazil berharap Pancasila menjadi ruh dalam segala sendi kehidupan bagi semua sehingga Pancasila bisa membumi.

“Bila implementasi Pancasila belum terjadi maka masyarakat, anak-anak muda, akan semakin menjauh,” ujarnya.

Pembicara lainnya, Anggota MPR RI dari unsur DPD RI, Agustin Teras Narang yang hadir dalam diskusi secara daring mengatakan semua warga negara harus memahami pentingnya Pancasila.

“Ini pekerjaan yang tak boleh berhenti,” tegasnya.

Untuk memberi sosialisasi atau memahamkan nilai-nilai ini menurut mantan Gubernur Kalimantan Tengah itu harus menyesuaikan dengan era yang ada. Unsur kebersamaan dikatakan harus selalu didengungkan.

Sementara itu, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo mengatakan seorang pengamal Pancasila bisa dilihat dari kehidupan kesehariannya. Yaitu mempunyai rasa ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan persatuan.

Bila nilai-nilai itu ada maka seseorang itu mampu membuat tatanan hidup sesuai dengan apa yang diinginkan dalam Pancasila. Ia mencontoh nilai-nilai yang demikian menurutnya ada pada sosok Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Bung Hatta, dalam pandangan Romo Benny, panggilan akrabnya, merupakan sosok yang bisa dijadikan teladan.

“Elit politik memang harus memberikan contoh keteladanan,” tegas Romo Benny.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan