Hampir Dua Bulan Tutup, Pengelola Museum Gunung Api Batur Berharap Pandemik Corona Segera Berlalu

Museum Gunung Api Batur Kintamani sepi pengunjung
Museum Gunung Api Batur Kintamani sepi pengunjung

BANGLI, balipuspanews.com – Museum Gunung Api Batur yang terletak di Panelokan, Kintamani, Bangli, hampir dua bulan ditutup setelah munculnya pandemik covid -19. Pihak pengelola museum berharap wabah corona segera berlalu agar aktivitas museum bisa kembali normal.

Hal tersebut, dikatakan oleh Koordinator Museum Gunung Api Batur, Suryo Hespiantoro, ST., MT, kepada balipuspanews.com, lewat sambungan WhatsApp Rabu, (6/5/2020).

“ Untuk Museum Gunung Api Batur sendiri, mulai tutup pada hari Senin, (16/3/2020) lalu, sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan,” ucap Hespiantoro.

Sementara itu, menanggapi terkait penutupan Museum Gunung Api Batur, Hespiantoro mengatakan, pihaknya mentaati himbauan Pemerintah demi kebaikan bersama, terutama untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Lebih lanjut, kata Hespiantoro, pihak museum sendiri mendapatkan Surat Edaran dari Pemerintah, salah satunya Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 7194 Tahun 2020 tentang Panduan Tindak Lanjut Terkait Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Pemerintah Provinsi Bali.

“ Dengan adanya Surat Edaran dari Gubernur Bali, museum memang telah ditutup untuk umum dari pertengahan Maret lalu. Sementara untuk keamanan, security tetap bertugas secara bergantian, satu hari dijaga oleh dua orang. Selain itu, untuk petugas kebersihan masuk hanya seminggu sekali, itupun hanya 3 jam waktu kerja,” ujarnya.

Selain itu, Koordinator Museum Gunung Api Batur itu mengatakan, terkait gaji karyawan tetap berjalan dengan normal, dan tidak ada pemotongan gaji.

Disinggung pelaku ekonomi di areal Museum, pihak pedagang menurutnya, sudah mengerti dengan situasi dan kondisi yang menyebabkan ditutupnya museum, ditambah wisatawan yang berkunjung ke Kintamani juga semakin sepi, akibat dampak Covid-19.

“ Saya berharap agar wabah Covid-19 ini cepat berakhir, agar nantinya aktifitas dan kehidupan bisa kembali dengan normal,” harap Hespiantoro. (riz/tim/bpn)