Jro Kubayan Batukaru
Jro Kubayan Batukaru
sewa motor matic murah dibali

TABANAN, Balipuspanews.com – Beberapa tahun terakhir ini, jagat nusantara seringkali ditimpa bencana alam. Seperti banjir bandang, gempa bumi, gunung erupsi dan berbagai bencana lainnya. Mirisnya, dari berbagai bencana yang telah terjadi tersebut, telah menelan korban jiwa yang tidak sedikit, selain juga menimbulkan kerugian materi.

Hal tersebut diungkapkan Jro Kubayan Batukaru, belum lama ini.Ditemui dikediamannya di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, Jro Kubayan Batukaru menyebutkan bahwa terjadinya berbagai bencana alam yang melanda jagat nusantara beberapa tahun terakhir ini menandakan keharmonisan alam tidak seimbang.

Hal ini pun juga menjadi kegelisahanNYA, sehingga dalam beberapa pujawali di Luhur Batukaru lalu, Ida Bethara berkeinginan lunga masucian ke segara Tanah Lot.Terkait dengan ketidakseimbangan alam dan keinginan Ida Bethara Batukaru untuk mesucian ke segara Tanah Lot ini sudah terjadi beberapa kali. Seperti pasca revolusi kemerdekaan tahun 1946, pasca peristiwa G.30.S/ PKI ditahun 1966 dan terakhir pada tahun 1993

.”Sedangkan di tahun 2006 silam Ida Bethara mekayunan dan kairing lunga mesucian ke beji toya tabah di Beji Pakerisan yang berlokasi di Desa Babahan, Penebel,” ungkapnya.

Lalu pada saat Ida Bethara kairing masucian ke beji toya tabah imbuh Jro Kubayan Batukaru, juga dirangkaikan dengan digelarnya karya agung.

Adapun karya agung yang digelar saat itu tiada lain karya agung Penawing Jagat Pengurip Gumi.Lebih jauh Jro Kubayan Batukaru mengatakan, untuk mengikuti pawuwus Ida Bethara Batukaru mesucian ke segara Tanah Lot ini juga akan dirangkaikan dengan karya agung Pengurip Gumi. Karya ini digelar sesuai dengan fungsi Ida Bethara Batukaru sebagai penguasa kehidupan alam semesta serta melihat kondisi dunia khususnya jagat nusantara yang sedang tidak seimbang.

Penyeimbangan alam itu salah satunya dilakukan dengan yadnya di Luhur Batukaru.Puncak karya Pengurip Gumi di Luhur Batukaru ini sendiri akan berlangsung tepat dengan tegak pujawali Ida Bethara. Yakni sehari setelah rahina suci Galungan atau pada rahina Wrespati Umanis, wuku Dungulan.

“Secara tidak sengaja puncak karya agung ini nanti jatuh pada angka unik, yakni tanggal 20 Februari tahun 2020 atau 20-02-2020,” jelasnya.

Sementara untuk prosesi melasti atau mesucian ke segara Tanah Lot akan dilakukan beberapa hari sebelum puncak karya. Prosesi ini akan dilakukan dengan berjalan kaki dengan beberapa hari perjalanan.

Karya agung Pengurip Gumi ini sendiri tentu akan berlangsung sakral dan unik. Apa saja nanti keunikannya? Media ini akan menyajikannya untuk pembaca www.balipuspanews.com tercinta. (rah/bpn/tim)

Tinggalkan Komentar...