I Nyoman Darmada saat mengecek kondisi media tempat menanam Hidroponik
I Nyoman Darmada saat mengecek kondisi media tempat menanam Hidroponik

BULELENG, balipuspanews.com – Dimulai dari latar belakang sebagai desa tujuan wisata. Ide kreatif pengembangan tanaman hidroponik menjadi daya tarik tersendiri di Banjar Anyar, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Sabtu (4/7/2020).

Lewat budidaya tanaman secara hidroponik tersebut berbagai macam jenis tanaman bisa ditanam dengan memanfaatkan lahan yang terbatas dan bisa dipanen dalam waktu yang lebih singkat dibanding biasanya.

Hal itu membuat beberapa kalangan masyarakat mulai berminat beralih mengikuti trend tersebut, sebab hasilnya mampu mendukung gaya hidup sehat.

Bahkan di Desa Sambangan ini terdapat sebuah tempat agrowisata yang bernama Palowan Garden yang dikelola oleh I Nyoman Darimana,42.

Mengingat sebagai desa tujuan wisata pihaknya pun menyajikan sebuah konsep edukasi dan berekreasi di kebun hidroponik yang nantinya setiap pengunjung yang datang bisa membeli berbagai jenis sayuran yang ditanam secara hidroponik serta bisa mencicipi langsung setelah dijadikan olahan beragam kuliner yang disajikan ditempatnya.

Lanjut, Pemilik Palowan Garden ini menceritakan kepada balipuspanews.com bahwa sebelum menjandi trend seperti saat sekarang dirinya sudah lebih dulu menggeluti pertanian menggunakan metode hidroponik yang bisa dijadikan salah satu hobi pengisi waktu luang sekaligus peluang menambah penghasilan ditengah pandemi Covid-19.

“Tepatnya tahun 2019 saya mulai mencoba dengan beberapa teman disini untuk mengembangkan ide Hidroponik ini,” ungkapnya.

Melihat peluang melalui ide tersebut dirinya bersama kelompok mengembangkan pertanian hidroponik di atas lahan seluas 7 are dengan sebanyak 7 jenis tanaman sehingga setelah Desa Sambangan menjadi daerah tujuan wisata yang ramai dikunjungi pihaknya mulai bisa membagi pengetahuan singkat tentang tanaman sekaligus bisa menambah sajian objek baru untuk para pengunjung.

“Sambangan kan tujuan wisata, nah kalau orang berwisata pasti perlu makan, dari sana muncul ide mengambangkan hidroponik, selain menikmati wisata alam juga dapat memetik dan dapat mengolah langsung sayuran yang segar dan alami,” lanjutnya.

Tak hanya itu, penerapan pertanian hidroponik dikatakan pria yang juga bekerja sebagai guru kontrak di SDN 2 Sambangan ini tidak begitu sulit, bahkan peralatan yang digunakan terbilang cukup sederhana hanya menggunakan pipa paralon yang dirangkai sesuai kebutuhan, mesin air dan rangka baja yang dipakai menopang masing masing pipa yang kemudian disusun secara bertingkat.

Nantinya sejumlah tanaman yang ditanam menggunakan metode tersebut seperti mentimun, daun mint, kol, sawi, kangkung, dan beberapa jenis sayuran lainnya.

Hasilnya dari tanam hidroponik yang baru ditanam sampai bisa dipanen membutukan waktu 3 minggu selanjutnya panen bisa dilakukan setiap satu minggu sekali.

“Tidak susah yang terpenting sirkulasi air dan sinar matahari yang cukup, sedangkan untuk bibit sayuran dapat dikembangkan secara langsung dalam jumlah banyak,” ujarnya.

Kendati hanya dilahan yang terbatas, hasil panen tanaman ini bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus bisa menjadi penghasilan sampingan. Sebab kualitas sayur dari hasil hidroponik dikatakan lebih baik sehingga membuat harga sayuran relatif lebih mahal.

Meski terbilang mahal faktor itulah yang membuat sayur yang dihasilkan dari kebun hidroponik memiliki segmen pasar yang tersendiri. Bahkan untuk memberontak sulitnya pemasaran sayuran hidroponik hal lain seperti mengolah sayuran tersebut menjadi makanan atau minuman siap saji yang nantinya dijual melalui online.

“Misalnya untuk beberapa sayuran kami olah menjadi minuman dan masakan, Setelah diolah cukup banyak yang membeli, bahkan rata-rata perorangan atau dari instansi yang memesan via online,” pungkasnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan

Facebook Comments