Hindari “4 T” Mampu Cegah Stunting

Foto: Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo pada saat Pengukuhan Juang Kencana Maluku dan Workshop Pengelolaan Data Parameter Kependudukan.
Foto: Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo pada saat Pengukuhan Juang Kencana Maluku dan Workshop Pengelolaan Data Parameter Kependudukan.

JAKARTA, balipuspanews.com – Untuk mencegah stunting kuncinya adalah : (4T) Tidak terlalu muda nikahnya, Tidak terlalu tua hamilnya (tidak lebih dari 35 tahun), Tidak terlalu banyak anaknya (2 anak lebih sehat), Tidak terlalu sering.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo pada saat Pengukuhan Juang Kencana Maluku dan Workshop Pengelolaan Data Parameter Kependudukan mengatakan untuk mencegah stunting kuncinya adalah suksesnya program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga Kependudukan dan Keluarga Berencana) oleh karena itu kemudian begitu lahir kita didorong untuk segera KB pasca persalinan. Terkait dengan masalah kemitraan Kerjasama Juang Kencana saya kira perannya luar biasa mendorong kita semua untuk lebih baik.

“Penting sekali kehadiran informasi di pelosok-pelosok dan massive information system yang harus kita bangun dalam rangka penurunan stunting dan suksesnya program Bangga Kencana itu menjadi salah satu pilar di dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2021 yang baru ditandatangani oleh Bapak Presiden 5 Agustus kemarin,” kata dr. Hasto, Jumat (3/12).

Baca Juga :  Cegah Kelompok Kaya Nikmati Penghematan Subsidi BBM Regresif dengan Bantuan Tunai

“Pentingnya Kerjasama dengan media, medsos, wartawan semuanya. Pemerintah tentu bekerjasama juga dengan swasta dan masyarakat, perguruan tinggi, media, dan LSM ditengah masyarakat. Parameter kependudukan kita ini kalau seandainya 4 Terlalu itu bisa dihindari, sukses kita.

“BKKBN meluncurkan program bernama Recording Reporting System Pencatatan BKKBN, untuk kalau bisa 3 bulan sebelum menikah itu sudah diperiksa dan pemeriksaannya sederhana saja hanya lingkar lengan atas, berat badan, tinggi badan, HB. Periksanya bukan ke BKKBN tapi ke puskesmas maupun ke dokter-dokter terdekat”, tuturnya.

“Apabila terdapat wanita hamil kekurangan gizi terlihat dari plasenta yang dimiliki tipis akhirnya dapat menimbulkan bayi dapat terindikasi stunting. Berawal dari sang ibu hamil yang memiliki kekurangan gizi yang baik, berakibat pada anak yang dilahirkan. Laki-laki 75 hari sebelum bulan madu harus sudah menyiapkan diri agar spermanya bagus, selain perempuan yang harus menyiapkan gizi 3 bulan sebelum menikah agar tidak terjadinya stunting. Minum vitamin c, zinc, dan makan yang mengandung protein hewani untuk mencegah stunting. i”, ungkap dr. Hasto.

Baca Juga :  Pemakaian Produk Lokal Optimalkan Bonus Demografi di Indonesia

Pada kesempatan yang sama Kepala Perwakilan BKKBN Maluku Sarles Brabar menambahkan, “Kepala BKKBN ini, beliau mengukuhkan tingkat nasionalnya. Dengan harapan bisa ditempatkan di kabupaten-kabupaten yang bisa kita perdayakan. Bapak Hasto beliau pertama kali menginjakkan kaki di Maluku, yang harus kita sangat apresiasi. Tentunya bisa memberikan instruksi baru untuk kita lebih meningkatkan, paling tidak kita harus maju. Kami berharap bahwa kepala BKKBN yang hadir di hari ini, dapat memberikan kita kepada pemerintah daerah, sehingga datanya sudah optimal dan kita bisa melakukan intervensi program-program penurunan stunting”, harap Sarles.

“Atas Kerjasama Juang Kencana banyak program yang sedang kita lakukan dan tentunya akan kita tingkatkan bersama melalui kehadiran Bapak Kepala BKKBN bisa dapat memberikan energi, semangat baru untuk kami bisa bekerja lebih baik lagi. Yang kita lakukan, sehingga kolaborasi dan sinergitas yang kita lakukan ke depan bisa membuat pelaksanaan stunting ini berjalan dengan lancar. Dengan semangat dari para kepala dinas UPD di provinsi maluku ini mudah-mudahan bisa mencapai kinerja yang lebih maksimal,” tutup Sarles.

Baca Juga :  KIB Diuntungkan dari Kelompok Moderat

Penulis/editor: Ivan Iskandaria.