Tera ulang SPBU.

NEGARA,balipuspanews.com- Mesin pompa yang ada di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) maupun timbangan pedagang mendapat pengawasan dari UPTD Metrplogi Legal dan dinas Koprindag Pemkab Jembrana.

Pengawasan itu dengan melakukan tera ulang guna mennghndari korugian konsumen maupun pengusaha dan pedagang.

Tim dari UPTD Metrologi Legal Buleleng dengan dinas Koprindag Pemkab Jembrana melakukan tera ulangdi tiga SPBU yang ada di kota Negara pada Selasa (25/2) .

Tera ulang dilakukan dengan mengunakan bejana ukur. Dimana BBM yang dilelaurkan dari mesin pompa dimasukan kedalam bejana ukur guna melihat apakah BBM itu sesuai dengan jumlah yang dibeli oleh konumen.

Pengukuran itu dilakukan berulang kali agar BBM yang dikeluarkan mesin pompa benar-benar sesuai dengan takaran yang di ditoleransi oleh Pertamina.

“tera ulang ini bertujuan untuk menjamin perlindungan konsumen dan produsen dalam kebenaran ukuran. Jadi ini adalah untuk melindungi konsumen dalam hal ini alat yang digunakan transaksi itu sudah teruji dan terukur sesuai dengan syarat teknis yang ditentukan kementrian Perdagangan,” ujar Komang Ayu Ratnawati Kepala UPTD Metrologi Legal Bulelang.

Setelah semua pompa BBM di SPBU dilakukan tera ulang hasilnya masih normal dan tidak ada tanda-tanda kecurangan yang dibuktikan dengan masih utuhnya segel tera tahun sebelumnya pada mesin pompa.

“Kami memang mewajibkan semua SPBU melakukan tera ulang minimal stahun sekali guna menjamin konsumen mendapatkan BB sesuai yang dibeli. Begitupula pengusaha juga tidak mengalami kerugian karena BBM yang dikeluarkan melebihi takaran yang ditoleransi,” jelasnya.

Sementara itu Rabu (25/2) tim UPTD Metrologi Legal Buleleng dengan dinas Koprindag Pemkab Jembrana mrelakukan tera ulang timbangan atau alat ukur milik puluhan pedagang di pasar umum Banjar Tengah, Negara Tera ulang ini dilakukan guna mengantisipasi adanya timbangan atau alat ukur yang dicurangi oleh pedagang hanya untuk mencari keuntungan.

Dewa Putu Widiana Putra, salah seorang petugas penera penyelia mengaku kerap menemukan besi magnet atau karet pada timbangan atau alat ukur yang ditera.

Sehingga membuat timbangan tidak seimbang ldan barang yang dibeli konsumen jum;lahnya lebih sedikit dari berat sebenarnya dan menguntungkan pedagang.

“Dipasar kami biasanya temukan kecurngan seperti ada megnet di bawah timbangan dan ada karet agar timbangan tidak seimbang padahal sudah dilarang. Untuk di pasar Banjar Tengah ini kami belum nemeukan hal itu,dan untuk mengantisipasi hal itulah maka kami tiap tahun mengadakan sidang tera ulang.”ujarnya. (nm/bpn/tim)