sewa motor matic murah dibali

KESIMAN, Balipuspanews.com – Siapa tak kenal Kota Denpasar, ibukota Provinsi berjuluk Pulau Dewata ini sangat tak asing di telinga masyarakat baik di Indonesia hingga mancanegara. Namun siapa sangka, ditengah hiruk pikuk keramaian kota dengan penduduk lebih dari 788 ribu jiwa ini terdapat sebuah destinasi wisata baru yang tergolong sulit kita dapati di wilayah perkotaan. Wisata Tukad (Sungai)  sangatlah sulit kita jumpai di tengah kota, namun hal ini sangat mudah kita jumpai di Kota Denpasar. terdapat beragam sungai yang dapat menjadi pilihan untuk berwisata yang salah satunya adalah Tukad Bindu.

Tukad Bindu begitu orang Denpasar mengenalnya, sebuah aliran sungai yang melintas di wilayah Desa Kesiman ini dulunya merupakan tempat yang kotor dan terkesan menyeramkan. Hamparan pepohonan besar dan pohon bambu menambah serbi suasana tepian sungai yang disertai jalan setapak ini. Namun kini, Tukad Bindu telah bertransformasi menjadi obyek wisata kota dengan beragam aktifitas dan spot swafoto yang menarik. Bahkan, COE Bank Dunia dan Annual Meeting IMF-World Bank pun turut menyambangi obyek wisata sungai yang berlokasi di wilayah Banjar Ujung, Desa Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur.

Namun, dibalik suksesnya penataan sungai yang melibatkan komunitas yang disebut Yayasan Tukad Bindu ini ada sosok muda inspiratif bernama I Gusti Agung Ari Rai Temaja yang merupakan Kepala Dusun Banjar Ujung, Kesiman. Pria kelahiran Denpasar, 23 April 1973 ini sukses membangkitkan prtisipasi masyarakat dalam pembangunan dan kini berhasil mengantarkan Tukad Bindu meraih predikat sungai bersih nasional dan bergam penghargaan lainya.

Diwawancarai disela kegiatanya di kawasan Tukad Bindu, I Gusti Agung Ari Rai Temaja menjelaskan perjalan singkat pengembangan obyek wisata Tukad Bindu ini. Hal ini dimulai dari awal kiprahnya menjadi seoarang Kepala Dusun (Kadus) di lingkungan Banjar Ujung Kesiman. Tak perlu waktu lama, setahun setelahnya yakni di tahun 2011 pria yang akrab disapa Gung Nik ini telah bekerja nyata bersama Sekehe Demen perlahan membersihkan kawasan Tukad Bindu. Satu persatu sudut bantaran tukad ditata sehingga menghasilkan spot-spot yang menarik. “Ini bermula dari sekehe demen dan akhirnya mendapat respon positif di masyarakat,” kata pria yang akrab disapa Gung Nik ini.

Lebih lanjut dikatakan bahwa tak kurang dari 7 Tahun berlalu kawasan Tukad Bindu kini tertata dengan rapi. Terdapat kawasan kuliner lokal, kawasan wisata air, jogging track. sarana fitnes, peken nusantara, kawasan urban farming, serta beragam spot foto menarik yang kini telah dilengkapi dengan free WiFi.

Gung Nik mengatakan bahwa secara pribadi pihaknya termotovasi dan tergugah untuk membangun masyarakat seutuhnya untuk mengangkat potensi yang ada. Hal ini dilakukan dengan penyatuan gerak dan menyamakan persepsi untuk peduli lingkungan. Sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat itu sendiri.

“Dengan usaha kita beberapa tahun yang lalu jika dilihat memang berat, tapi jangan pernah patah semangat, dan kini banyak masyarakat mendatangi Tukad Bindu, sektor ekonomi, budaya, tradisi dan seni pun bergerak bersama, hal inilah yang dinamakan ekonomi kreatif dan orange ekonomi yang kini terus digalakkan pemkot Denpasar,” jelasnya.

Gung Nik juga turut berpesan agar kedepannya seluruh masyarakat ikut menjaga Tukad Bindu, hal ini dikarenakan Tukad Bindu tidak hanya milik Banjar Ujung, ataupun Desa Kesiman, melainkan milik kita bersama sebagai tempat suci yang dimuliakan oleh Umat Hindu. “Mari kita jaga bersama, dan jangan sampai tercemar, hal iniah yang harus kita budayakan sehingga sungai tetap bersih dan menjadi obyek wisata bersama untuk berekreasi di tengah penatnya kota,” pungkasnya, (rls/bpn/min).

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here