DENPASAR, balipuspanews.com- Para ibu – ibu khawatir soal keberadaan pedofilia, kekhawatiran ini membuat Ni Putu Putri Suastini Koster sebagai tim penggerak PKK Provinsi Bali bergerak dengan menggelar temu wartawan di Rumah Jabatan Jaya Sabha, Denpasar.

“Saya tergelitik dengan aduan ibu-ibu dan komentar para netizen di medsos terkait pedofilia atau pencabulan. Memang belakangan berita tentang pedofil tenang, pemberitaan tidak ada tetapi sebagai seorang ibu tetap merasa khawatir,” kata Ni Putu Putri Suastini Koster dalam curhatannya kepada para media.

Ia mengatakan hal itu dirinya dapatkan ketika menjalankan tugasnya dengan menyambangi keliling di 57 Desa, 9 Kabupaten/Kota di Bali Guna mensinkronkan kegiatan dan program PKK di Kabupaten dengan Provinsi.

“Berita pencabulan atau pedofilia memang tenang di permukaan, banyak anak menjadi korban dan belum diketahui,” katanya.

Sebagai tim penggerak PKK, dirinya selalu turun ikut menggaungkan, mengedukasi, dan menginformasi. Apa sih itu pedofilia?. Namanya keren dan asing.

Dikatan Suastini, tentu ibu-ibu dipedesaan yang menjadi pelindung putra putrinya yang menjadi sasaran tidak tahu apa sebenarnya pedofilia yang gejolak dimasyarakat.

” ibu-ibu di pedesaan yang menjadi pelindung putra putri tidak tahu apa sebenarnya fedofilia dan gejolak yang terjadi. Saya perlu masukan dari organisasi terkait perlindungan anak yang membidanginya misalnya lembaga swadaya masyarakat perempuan cinta anak, perlindungan anak, KPPAD, ibu minta ilmunya, mari bersama muali dari tingkat desa sampai Provinsi turut mencerahkan, mensosialisasikan, merangkul, dan kita jaga anak-anak kita,” tegasnya.

Suastini menambahkan, bila ada tanda-tanda seperti yang mencurigakan di masyarakat, itu tanda pedofilia menyerang ditengah masyarakat. Karena dampaknya kedepan, korban bisa saja menjadi pelaku, setelah ia tumbuh besar.

Tanggungjawab ini merupakan tanggungjawab bersama, tidak hanya ibu saja, mari bersinergi antara pemimpin dan elemen masyarakat.

Selain masukan pedofilia, masukan lain atau pesan lain yang disampaikan Putri Koster adalah bagaimana Bali ini pangannya aman dari bahan kimia beracun, bagaimana umat Hindu memakai dupa terkait kandungan asapnya.

Masalah kesehatan perempuan juga menjadi perhatian yang serius terhadap penyakit kanker rahim, kanker servik, dirinya juga bersinergi lewat dinas terkait terutama dinas ksehatan.

“Masalah kesehatan perempuan, misalnya penyakit kanker rahim, kanker servik, saya sinergikan dengan dinas kesehatan,”tandasnya.(bud/bpn tim).