Penguburan bayi yang gugur dalam kandungan
Penguburan bayi yang gugur dalam kandungan

GIANYAR, balipuspanews.com – Setelah sempat dberitakan seorang ibu hamil asal Gianyar, yang mengalami keguguran positif Corona hanya karena hasil rapid test reaktif ternyata setelah asil dua kali PCR (Polymerase Chain Reaction) yang dilakukan di RSUP Sanglah dinyatakan negatif.

Informasi yang berhasil dihimpun dari keluarga pasien menyatakan, ibu hamil yang mengalami keguguran diduga akibat Placenta Previa dimana plasenta berada di posisi di bawah menutupi jalan lahir janin. Sehingga saat janin aktif dalam rahim atau mengalami kontraksi, kehamilan dapat beresiko tinggi. Plasenta bisa melilit janin bahkan sampai putus.

 

“Seperti yang dialami istri saya, dan dokter yang menanganinya memberikan informasi seperti itu,” jelas suami pasien, I Kadek Arimbawa saat dikonfirmasi, Minggu (26/4/2020).

 

Kondisi seperti itu katanya, tidak diketahui dengan cepat. Pasalnya, sang istri sejak 2 bulan terakhir tidak bisa melakukan kontrol kehamilan di rumah sakit yang biasa didatangi. “Kontrol terakhir pada bulan Februari, setelah itu tidak sempat kontrol karena penetapan situasi darurat Covid-19. Diimbau tidak ke rumah sakit kalau tidak emergency kata dokter yang biasa memeriksa istri saya,” katanya.

 

Terkait rapid test dengan hasil reaktif, dikatakannya, pada waktu ke rumah sakit akibat pendarahan. Pihak rumah sakit harus melakukan rapid test dengan alasan sesuai SOP. Setelah dilakukan rapid test dan hasilnya reaktif, dokter dan tim medis menjalankan protokol penanganan Covid-19 padahal belum tentu pasien terjangkit virus tersebut. “Sangat disayangkan ada beberapa media massa yang membuat judul berita istri saya terkesan positif corona dan kandungannya gugur akibat virus itu, padahal waktu itu memang istri saya sedang flu” sesal suami pasien yang juga seorang jurnalis salah satu media online di Bali ini.

 

Menurutnya, dari dokter yang merawat istrinya, hasil rapid test jangan dijadikan patokan kalau seseorang positif terjangkit Covid-19. “Banyak yang masih awam beda hasil rapid test dan PCR. Buktinya hasil 2 kali PCR istri saya hasilnya negatif. Bahkan sebelumnya saya juga sempat melakukan rapid test mandiri dan hasilnya non reaktif,” ungkapnya.

 

Karena kecurigaan transmisi lokal didapatkan dari dirinya yang masih harus bekerja keluar rumah. Sedangkan istrinya yang berprofesi sebagai guru hanya dirumah saja semenjak penetapan situasi darurat Covid-19. “Harus diklarifikasi kalau rapid test reaktif beda dengan terkonfirmasi positif Covid-19,” ujarnya.

(art/BPN/tim)