DENPASAR, balipuspanews.com – Ada cara tersendiri yang dilakukan seniman muda Bali Marmar Herayukti untuk tetap mengingatkan sejarah Puputan Badung yang menelan banyak korban jiwa pihak keluarga dan rakyat Badung saat melawan kolonial Belanda.
Marmar Herayukti membuat Diorama Puputan Badung yang dibangun di atas Patung Pahlawan di Lapangan Puputan Badung, Bali. Karya ini merupakan reinterpretasi artistik terhadap salah satu peristiwa paling bersejarah dalam sejarah Bali yaitu “Puputan Badung 1906″.
Patung pahlawan karya maestro patung Indonesia Edhi Sunarso (2 Juli 1932 – 4 Januari 2016), menggambarkan kepahlawanan rakyat Bali dalam perang heroik melawan pasukan kolonial Belanda. Patung ini merupakan hasil rancangan tiga insinyur muda yaitu, Ir I Made Gede Sudharsana, almarhum Ir Ibnu Sudiro, dan Ir Widnyana Sudibya pada tahun 1978. Karya mereka terpilih sebagai pemenang dalam lomba Monumen Puputan Badung, dan proses pembuatan patung kemudian dilaksanakan pada tahun 1979.
Hasil rancangan mereka direalisasikan oleh Edhi Sunarso, salah seorang maestro patung Indonesia yang karyanya tersebar di seluruh negeri.
Salah satu karya Edhi Sunarso yang terkenal adalah Patung Dirgantara, yang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran di Jakarta. Kini, patung tersebut hadir dengan penataan baru; menghadap ke Utara, menggantikan posisi sebelumnya yang menghadap ke Selatan.
Pemerintah Kota Denpasar meresmikan penataan baru monumen tersebut pada Jumat (14/11/2025). Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara hadir dan memberikan dukungan penuh terhadap revitalisasi dan pembangunan diorama ini.
Menurut Marmar Herayukti, perubahan orientasi ini bukan sekadar estetika.
“Sebuah monumen akan hidup ketika berinteraksi dan mudah diakses publik. Daya tariknya harus terpancar ke segala arah, bukan hanya bagi yang berada di areal monumen, tetapi juga bagi mereka yang melintasi kota. Sejarah kota ini harus menggema lebih jauh dan menyentuh lebih dalam,” ujarnya dalam konfrensi pers pada Sabtu (15/11/2025) bertempat di Tetuek Sangmong Cafe.
Karya Seni yang Menghidupkan Sejarah Diorama ini dihadirkan untuk melengkapi patung pahlawan yang sudah ada dan sekaligus memperkaya cara masyarakat mengenang dan merasakan kembali semangat heroik peristiwa Puputan Badung.
Melalui panel logam yang dicor dengan detail presisi, Marmar Herayukti mengubah memori sejarah menjadi narasi visual kontemporer yang memadukan riset sejarah, keterampilan tangan, dan emosi.
Diorama Puputan Badung ini menggambarkan aksi perlawanan tragis namun penuh kehormatan dari keluarga kerajaan dan rakyat Badung terhadap pasukan kolonial Belanda sebagai perwujudan semangat abadi masyarakat Bali: persatuan, kehormatan, loyalitas dan pengorbanan diri.
Tujuan dan Visi Marmar Herayukti
Jauh melampaui pelestarian budaya dan sejarah Bali, Marmar Herayukti ingin bertutur melalui diorama ini secara jujur berdasarkan fakta tulisan dan artefak yang ada. Marmar Herayukti ingin memunculkan detail cerita ke dalam detail tiga dimensi untuk melengkapi potongan sejarah yang telah ada.
Selain itu, Marmar Herayukti berharap karya ini dapat membangun fondasi generasi muda untuk meneruskan rasa cinta terhadap sejarah dan identitas budaya Bali.
Keindahan, Keteguhan, dan Keabadian
Setiap panel diorama dibuat dengan teliti dan sepenuhnya dengan tangan, kemudian dicor dalam logam , proses yang melambangkan keteguhan dan keabadian.
Relief yang dihasilkan menampilkan lapisan adegan konfrontasi, upacara, hingga transendensi, mengajak pemirsa menapaki perjalanan visual yang menjembatani masa lalu dan masa kini.
Monumen Ramah Disabilitas
Salah satu aspek penting dari penataan baru Monumen Puputan Badung adalah upaya mewujudkannya sebagai ruang sejarah yang inklusif dan ramah disabilitas. Monumen kini dilengkapi fasilitas ramp dan guiding block bagi penyandang tunanetra dan tunadaksa, hasil rancangan konseptual Marmar Herayukti.
Menurut Marmar Herayukti, penyandang disabilitas berperan sama pentingnya dalam sejarah perlawanan terhadap penjajahan.
“Orang yang tak dapat berjalan pun punya hak menentukan ‘langkah’, dan yang tak melihat tetap memiliki ‘pandangan’. Yang melumpuhkan bukanlah kekurangan fisik, melainkan kelumpuhan semangat,” ujar Marmar Herayukti Herayukti dalam konferensi persnya di Tetuek Sangmong Cafe, pada Sabtu (15/11/2025).
Riset dan Autentisitas
Proses kreatif Marmar Herayukti melibatkan pendapat para ahli sejarah, budaya, sastra, arsitektur Bali, serta anggota keluarga Puri. Keluarga Edhi Sunarso juga memberikan dukungan melalui informasi yang dibagikan oleh tim pengarsipan mereka, termasuk foto-foto dan arsip penting terkait pembuatan patung pahlawan yang terletak di atas diorama ini
Marmar juga melakukan riset mendalam selama berbulan-bulan, menelusuri lokasi bersejarah, mengumpulkan referensi visual dan geografis dari arsip foto berusia seabad, serta meneliti artefak era Puputan beberapa di antaranya baru-baru ini dikembalikan ke Indonesia oleh pemerintah Belanda dan tersimpan di Musemum Nasional Jakarta.
Perjumpaan dengan benda-benda pusaka tersebut memperkaya detail figur dan adegan dalam diorama, menjadikan karya ini bukan hanya representasi sejarah, tetapi juga penghidupan kembali semangatnya.
Jembatan Antargenerasi
Dibuat dari rasa cinta, gairah terhadap sejarah, dan tanggung jawab untuk melestarikannya. “Diorama Puputan Badung” berdiri sebagai jembatan antargenerasi, pengingat akan ketangguhan budaya Bali sekaligus persembahan bagi masa depannya.
Narasi per Panel, Diorama Puputan Badung
Pada Panel 1, digambarkan Kerajaan Badung yang berada di bawah kekuasaan tri tunggal—Pemecutan, Denpasar, dan Kesiman—muncul sebagai salah satu kerajaan terpandang di Bali, dikenal karena kemajuan ekonomi, kebudayaan, dan kekuatan militernya.
Pada Panel 2, diceritakan rakyat menghadap Raja Denpasar, I Gusti Ngurah Made Agung, untuk menyampaikan keberatan atas tuduhan penjarahan kapal Sri Komala yang terdampar pada 27 Mei 1904 di Pantai Sanur. Mereka bersumpah bahwa tuduhan tersebut tidak benar.
Sementara itu, Panel 3 menunjukkan keteguhan sang raja—yang juga seorang pujangga—yang tidak bergeming meski mendapat tekanan dari Belanda. Rakyat bersatu membela kepatutan, dan pada 14 September 1906, invasi militer Belanda tidak terelakkan sehingga Puri Kesiman diserang.
Pada Panel 4, terlukiskan tembakan meriam yang menghujani Puri Denpasar dan Puri Pemecutan. Di tengah suasana mencekam itu, Raja menggelar upacara palebon (kremasi) kakandanya sebagai pemercikan tirtha pangentas bagi para ksatria yang siap melakukan puputan hingga titik darah penghabisan.
Selanjutnya, Panel 5 menggambarkan peristiwa 20 September 1906 ketika Raja Denpasar bersama pasukan, perempuan, dan anak-anak turun ke medan laga. Mereka melempar uang dan perhiasan sambil menyerbu pasukan Belanda. Dalam pertempuran sengit tersebut, sang raja gugur dengan keris Singapraga dan Jalak Kadingding di tangan, menandai runtuhnya Puri Denpasar.
Pada Panel 6, diperlihatkan sergapan pasukan Badung terhadap pasukan Belanda di Tukad Badung. Pemimpin Belanda tewas ditikam keris di atas kuda saat menyeberangi sungai.
Kemudian, Panel 7 menampilkan serangan Belanda pada sore hari ke Puri Pemecutan. Raja Pemecutan ditandu di atas jempana, diiringi keluarga dan rakyat. Pertempuran sengit menelan banyak korban, dan sang raja gugur dengan menjunjung prinsip “darmaning ksatriya ngukuhin kepatutan”—tugas suci kesatria adalah menegakkan kebenaran.
Terakhir, Panel 8 menggambarkan bahwa meski puputan berakhir, semangat perjuangan tetap abadi. Prinsip “Mati tan Tumut Pejah”—mati di medan perang, tetapi perjuangan tidak mati—menjadi simbol keteguhan jiwa ksatria Bali yang terus hidup lintas zaman.
Tentang Marmar Herayukti Herayukti
Putu Marmar Herayukti Herayukti atau yang akrab disapa Marmar Herayukti adalah seorang seniman multitalenta asal Banjar Gemeh, Denpasar, Bali, kelahiran 13 September 1983. Ia merupakan putra asli Bali yang dikenal memiliki semangat eksplorasi dan karakter seni yang berbeda dari kebanyakan seniman di wilayahnya.
Sejak kecil, Marmar Herayukti sudah menunjukkan minat yang kuat pada dunia seni — hal yang sedikit berbeda dari keluarganya yang lebih banyak menekuni seni bela diri. Kecintaannya terhadap seni semakin terasah sejak duduk di bangku kelas 2 SMP, dan pada kelas 3 SMP ia pertama kali membuat ogoh-ogoh, yang menjadi titik awal perjalanan seninya.
Selain sebagai pematung, Marmar Herayukti juga dikenal sebagai pelukis, tattoo artist, vokalis band rock, serta aktif dalam olahraga bela diri kickboxing. Ia adalah sosok otodidak multitalenta dengan darah seni yang sangat kental.
Pada tahun 2014 Marmar Herayukti memulai gerakan Ogoh-Ogoh ramah lingkungan, dengan mengembalikan tradisi “ ngulat” yang merupakan pembuatan Ogoh-Ogoh menggunakan teknik anyaman bambu. Marmar dikenal konsisten menghidupkan kembali tradisi pembuatan ogoh-ogoh berbahan alami dan berkelanjutan, sebagaimana praktik lama masyarakat Bali.
Pada tahun 2019 Marmar Herayukti mendirikan “MarmarHerrz Studio”, sebuah studio seni berbasis di Bali yang menjadi wadah eksplorasi gagasan, karya, dan kolaborasi lintas disiplin. Karya-karyanya mengeksplorasi hubungan antara bentuk, material, dan makna kultural, dengan pendekatan yang memadukan kepekaan estetika, teknik tradisional, dan gagasan kontemporer.
Melalui praktik seni yang melibatkan komunitas dan sejarah lokal, Marmar Herayukti berupaya menjadikan karya seninya sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Salah satu karya publiknya yang paling dikenal adalah patung Ratu Ayu Mas Melanting, yang berdiri kokoh di halaman Pasar Badung, Denpasar. Karya ini menjadi simbol perpaduan antara nilai tradisi, spiritualitas, dan kekuatan visual khas Marmar Herayukti.
Ketika sedang tidak berada di studio tattoo, studio seni, ring tinju, atas panggung musik, atau di Sang Mong Coffee Shop miliknya, Marmar Herayukti kerap menghabiskan waktu dengan berpetualang menggunakan motornya, menikmati kebebasan dan menuai inspirasi dari perjalanan.
Penulis : Kadek Adnyana
Editor : Oka Suryawan



