Karya Mamungkah, Nguntap Nuntun, Ngenteglinggih, Mendem Pedagingan, Ngusaba Nini lan Bangun Ayu, Nyenuk, Ngebat Daun, Mapadudusan Agung, Caru Lebur Gentuh di Pura Ulun Suwi
sewa motor matic murah dibali

BANGLI, balipuspanews.com – Bertepatan pada purnamaning kelima, Selasa (12/11) Desa Adat Apuan, Kecamatan Susut Bangli melaksanakan Karya Mamungkah, Nguntap Nuntun, Ngenteglinggih, Mendem Pedagingan, Ngusaba Nini lan Bangun Ayu, Nyenuk, Ngebat Daun, Mapadudusan Agung, Caru Lebur Gentuh di Pura Ulun Suwi.

Melalui kegiatan karya ngenteg linggih ini diharapkan warga pengempon pura dapat sradha dan bakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, (Tuhan Yang Maha Easa) serta kedepan dapat menciptakan masyarakat yang shanti, bahagia sesuai tujuan hidup yakni masyarakat jagadhita ya ca iti dharma.

Upacara karya ngenteg linggih ini dihadiri oleh Karo Kesra Provinsi Bali Anak Agung Griya, Ketua PHDI Kabupaten Bangli I Nyoman Sukra, Cokorde Kertiyasa Yang akrab dipanggil Cok Ibah sebagai Pengerajeg Karya, Penglingsir Puri Bangli, Camat Susut, Kepala Desa Apuan, Bendesa se -desa Apuan Dan se -Desa Abuan .

Ketua panitia karya I Wayan Nyabuh mengatakan, rangkaian karya ngenteg linggih ini diawali dengan pelaksanaan kegiatan caru balik sumpah yang jatuh pada waraspati umanis ugu,  kamis, 07-11-201, melasti, saniscara pon ugu, 09-11-2019, mepada agung, soma kliwon wayang, Tanggal 11-11-2019, puncak kariya, Anggara Umaqnis Wayang, 12-11-2019, nyenuk lan ngebat daun, sukra wage wayang, 15-11-2019, nyegara gunung, redite umanis klawu, 17-11-2019, dan rangkaian upacara yang terakhir nyineb, nuke bagia lan metingkeb, anggara pon klawu, 19-11-2019.

Upacara caru balik sumpah yang digelar pada hari ini dipuput oleh 3 pedanda yakni Ida Pedanda Manggis, Ida pedanda buda, ida resi bujangga, kegiatan upacara caru balik sumpah ini diiringi juga dengan tarian topeng sida kariya, wayang lemah, rejang renteng, rejang sari, rejang tamansari, rejang dewa, pendet dan baris tumbak. Pura ulun suwi berletak di Desa Apuan Susut Bangli, yang penyungsungnya adalah karma subak Apuan-Bekutel yang terdiri dari 313 Krama/warga yang di bagi menjadi 4 tempek (kelompok) dan luas keseluruhan subak adalah 180 hektar yang tersebar di Desa Apuan dan Desa Abuan, ketua panitia karia juga menuturkan sebelumnya warga subak Apuan-Bekutel sudah pernah melaksanakan kariya seperti ini kurang lebih pada tahun 1942, seiring telah lamanya kariya itu maka karma subak kembali melaksanakan kariya ini yang bertujuan agar masyarakat semua mendapat keselamatan dan kegiatan pertanian di subak Apuan-Bekutel mendapatkan hasil yang berlimpah dan pertanian warga subak supaya tidak diserang hama.

Pengrajeg karya Ida Cokorda Kertiyasa Yang akrab di panggil Cok Ibah mengatakan sangat bangga dengan semangat masyarakat Apuan kususnya subak Apuan –Bekutel dalam rangka melaksanakan kariya ngenteg linggih ini, karena pura ulun suwi ini adalah pura subak, untuk menjaga tradisi leluhur kita karena subak adalah warisan yang sangat berharga yang diwarisi oleh leluhur kita, selain itu subak kita di bali sudah sangat terkenal di kalangan International dan juaga banyak subak kita di bali di pergunakan sebagai obyek wisata, selain itu subak kita di bali adalah sebagai penyandang pangan.

“Selain itu saya hanya sebagai pendukung saja di dalam acara kariya memungkah ini karena niat daripada masyarakat pengempon pura ulun suwi di dalam melaksanakan karya ini bertujuan supaya pulau bali inidi berkati keselamatan, kerahayuan, perjalanan kariya ini sudah berjalan sampai tahapan caru balik sumpah, kita melaksanakan kariya ini supaya benar benar dengan rasa tulus iklas di dalam melaksanakan kariya ini, selain tu beliau sebagai Pengerajeg karya di pura ulun suwi ikut melaksanakan mendem pedagingan di pelinggih surya,” ujarnya.

Sementara itu, Karo Kesra Provinsi Bali Anak Agung Griya yang mewakili Gubernur Bali, mengatakan bahwa karya ini sangat bermakna di dalam kehidupan kita  beragama di Bali, karena kita sebagai Agama Hindu harus melaksanakan yadnya, sebab Agama, Budaya di Bali sangat mempengaruhi kehidupan kita, lanjut dia, sejalan dengan visi nangun sat kertih loka bali yaitu menjaga kesucian dan keharmonisan alam bali beserta isinya untuk mewujudkan krama (warga) dan gumi (daerah) yang sejahtera dan bahagia baik sekala (jasmani/fisik) maupun Niskala (rohani/sepiritual), upacara ini sangat penting menurutnya karena untuk menjaga keseimbangan manusia dengan Ida Sanghyang Widhi (Tuhan),  manusia dengan manusia lainya, manusia dengan alam, dan atau yang dikenal dengan filosofi Tri Hita Karana, acara seperti ini akan terus didukung penuh, namun tetap harus ada gotong royong dimasyarakat.

Gubernur Bali Yang diwakili Karo Kesra Menyerahkan Punia  sebesar 10 juta rupiah yang langsung diterima oleh Ketua Panitia Karya. (Rls/bpn/tim)