Jawab Kekuatiran Umat Hindu Terhadap Anies, Sudirman Said: 5 Tahun Kepemimpinan di Jakarta Jadi Bukti Kepercayaan Anies

- Advertisement -
- Advertisement -

JAKARTA, balipuspanews.com – Tampilnya Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan dalam kontestasi Pemilu Presiden (Pilpres) 2024 dinilai sebagian umat Hindu memiliki hambatan dalam upaya Capres nomor urut 1 itu meraih kemenangan merebut kursi RI 1.

Keraguan dan kekuatiran itu terutama berkaitan dengan kelompok-kelompok yang dicap sebagai kelompok intoleran yang pada saat Pilgub DKI menjadi kelompok pendukung Anies Baswedan.

Persoalan ini mengemuka dalam Dialog Capres Pilpres 2024 sesi I yang mengundang Capres Nomor Urut 1 H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D dalam rangkaian Mahasabha IV Prajaniti Hindu Indonesia di Jakarta, Sabtu (18/11/2023).

Pada dialog tersebut, Capres Anies Baswedan berhalangan hadir dan diwakili Co-Kapten Tim Nasional (Timnas) Pemenangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) Sudirman Said.

Mahasabha IV Prajaniti Hindu Indonesia diselenggrakan selama 3 hari dari 17 hingga 19 November 2023 dengan tema ‘Kerja Keras dan Kerja Cerdas Menuju Indonesia Emas’.

Selain mengundang Capres Anies Baswedan, Dialog yang diselenggarakan Prajaniti Hindu Indonesia juga mengundang dua capres lainnya yaitu Capres Nomor Urut 2 Prabowo Subianto pada Sesi II dialog dan Capres Nomor Urut 3 Ganjar Pranowo pada Sesi III dialog.

BACA :  113 Ribu Warga Alami Gangguan Pernapasan, DPR Desak Pemerintah Jadikan Karhutla Darurat Kesehatan

Di Sesi I dialog, Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba mempertanyakan hal mendasar yang mungkin akan menjadi penghambat Capres Anies Baswedan dalam meraih kemenangan di Pilpres 2024 yaitu berkaitan dengan besarnya pengaruh kelompok yang disebut-sebut dan dicap sebagai kelompok intoleran dalam kemenangan Anies di Pilgub DKI Jakarta pada 2017 lalu.

“Jangankan anak SMA, saya seorang Rsi pun ragu kelak disaat beliau menjadi presiden. Kenapa? Karena kemarin di Pilgub (DKI Jakarta), kita dipertontonkan antar umat beragama yang berbeda. Yang satu pakai ayat, yang satu lagi menjual ayat. Kita kuatir ini, kalau umat Islam nggak ada kekuatiran. Tapi bagi yang agamanya berbeda, ini akan menjadi bumerang bagi kita semua,” ucap Sulinggih asli dari suku Sunda ini.

Menurutnya, ada hal besar bagi umat beragam non muslim ketika bicara tentang pencapresan Anies Baswedan.

“Saya kebetulan sudah pindah ke Bali tapi trauma dengan kejadian pilgub yang pengaruhnya besar sekali untuk orang yang bukan agamanya Islam,” imbuhnya.

BACA :  DPR Desak Bongkar Akar Konflik Agraria, Negara Harus Segera Berbenah

Untuk itu, Ida Pandita Agung Nata Siliwangi meminta komitmen dari Capres Anies Baswedan maupun tim pemenangannya tentang adanya konsensus nasional yang bisa memastikan tentang keberpihakan Anies Baswedan terhadap warga non muslim, khususnya umat Hindu.

“Apa konsensus nasional yang bisa kita pegang? Agar kita bisa memilih kalau memang Pak Anies bisa menjawab itu semua?” tegas Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba.

Menjawab kekuatiran tersebut, Co-Kapten Timnas Pemenangan AMIN, Sudirman Said meyakini kekuatiran tersebut tidak akan terjadi. Kelompok-kelompok organisasi Islam yang selama dicap sebagai kelompok intoleran.

“Dan kalau bicara hikmah dari itu semua (kasus Pilgub DKI). Bapak-bapak bisa lihat dari 5 tahun ini (kepemimpinan Gubernur DKI Anies Baswedan), apakah ada yang namanya swapping? Itu tidak ada. Itu karena trust (kepercayaan) kepada kepemimpinannya,” tegas Sudirman.

“Sebetulnya kalau tidak ada pemantiknya itu (kasus surat Al Maidah), tidak akan terjadi. Terus bagaimana pandangan kami ke depan? Pertama kami ingin sampaikan, Pak Anies dan Pak Muhaimin, punya background seorang kosmopolit, orang yang tumbuh dan dibesarkan di lingkungan yang multi etnis, kompleks, dan warnanya beragam,” terang Sudirman.

BACA :  Wali Kota Jaya Negara Hadiri Puncak Karya Pelebon I Gusti Ayu Badri

Mantan Menteri ESDM di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini menjelaskan ada karakter berbeda antara Anies Baswedan dengan kompetitornya di Pilgub DKI lalu. Terutama dalam cara mengelola perbedaan.

Di peristiwa Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 itu perbedaan digeber habis oleh kompetitor Anies.

“Kebetulan saja, Pak Gubernur yang digantikan itu punya perilaku seperti yang kita tahu semua di publik. Begitu muncul surat Al Maidah lalu menjadi ledakan. Saya sendiri sebenarnya mendengar teriak-teriak mengatakan soal agama, nggak nyaman,” kata Sudirman.

Oleh karena itu, Sudirman mengaku ada perbedaan sangat jelas dari karakter sosok tiga Capres di Pilpres 2024 yang membuat isu ini tidak akan menjadi ledakan lagi.

“Tapi sebetulnya cara kita mengelola perbedaan itu bukan dengan menonjolkan perbedaannya, tapi bagaimana menghubungkan apa-apa agar bisa disampaikan,” tegas Sudirman.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular