Jeda di Tengah Pandemi, Sudirta Gali Sejarah Pertanian

I Nyoman Sudirta, Ketua SPI DPW Bali dan Ketua Dewan Daerah Walhi Bali.
I Nyoman Sudirta, Ketua SPI DPW Bali dan Ketua Dewan Daerah Walhi Bali.

TABANAN, balipuspanews.com – Pandemi covid-19 telah membuat berbagai bidang kehidupan manusia stagnan. Hal tersebut diungkapkan Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) DPW Bali I Nyoman Sudirta.

Ditemui dikediamannya di Banjar Babahan Kawan, Desa Babahan, Penebel, Tabanan, Kamis (13/8) Sudirta yang juga merupakan Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali ini menyebutkan, meski demikian tentu aktivitas hidup tidak boleh berhenti total.

“Ada banyak hal yang bisa kita lakukan ditengah pandemi ini,” ungkapnya.

Sudirta mengatakan, akan menjadi sangat mulia ketika hal-hal yang dilakukan pada saat pandemi ini bermakna besar walaupun dilakukan dengan hal-hal kecil. Terlebih kemudian ketika hal-hal kecil yang dilakukan tersebut bermanfaat atau setidaknya mampu menginspirasi masyarakat.

“Kita sering lupa bahwa banyak hal-hal kecil yang sering kita lupakan karena silau untuk melakukan hal-hal besar. Padahal hal-hal kecil yang terlihat sederhana sejatinya tidak mudah juga untuk dilakukan, tetapi itu bermanfaat dan bisa menginspirasi orang lain untuk gigih berkarya,” terangnya.

Sudirta sendiri saat ini mengambil pilihan hidup yang sederhana namun berani. Yakni berbaur lumpur, turun ke sawah, bertani.

Menurutnya, bertani sendiri merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Terlebih lagi sebagai petani Bali yang didalamnya sangat kental dengan beragam ritual. Selain mulia karena dengan bertani telah menjawab secara nyata terkait kebutuhan hidup manusia yang paling mendasar, yaitu pangan.

“Dalam berbaur lumpur tersebut, petani telah menyatu dengan alam dan energi kesemestaan. Dari keringatnya, dari jerih payahnya kemudian terproduksi kebutuhan pangan untuk keberlangsungan hidup umat manusia,” jelasnya.

Masih terkait dengan pertanian, Sudirta mengaku saat ini juga sedang “memulung”. Yakni memulung pengetahuan tentang sejarah perjalanan dunia pertanian Tabanan. Ditambahkannya, hal ini dilakukannya bersama beberapa temannya yang seide.

Alasannya sederhana lanjutnya. Tabanan sendiri dikenal sebagai daerah agraris dan dikenal dengan julukan sebagai daerah lumbung beras Bali.

“Saya bangga dengan julukan Tabanan sebagai lumbung beras Bali. Tetapi dibalik itu, saya sebagai putra Tabanan juga merasa malu karena ternyata sangat minim pengetahuan tentang sejarah dunia pertanian di Tabanan,” ujarnya.

Sudirta mengakui tidak memasang target apapun dari upayanya “memulung” informasi terkait sejarah dunia pertanian Tabanan ini. Setidaknya itu bisa dijadikan refrensi bagi dirinya sendiri. Syukur kemudian ketika bisa dibaca banyak orang atau generasi muda.

“Sederhananya saya berharap dari kegiatan kecil yang sedang kami lakukan ini bisa menjadi sebuah refrensi bagi diri saya sendiri terhadap pertanian. Sementara bagi orang lain khususnya bagi generasi muda, dengan nanti terkumpulnya informasi terkait sejarah dunia pertanian Tabanan akan tumbuh kecintaannya terhadap dunia pertanian dan melestarikan dunia pertanian itu sendiri,” tutupnya.

Penulis : Arthadana

Editor : Oka Suryawan