Selat Bali, muncul kembali wacana pembangunan jembatan penghubung Jawa-Bali. Sumber foto: internet
Selat Bali, muncul kembali wacana pembangunan jembatan penghubung Jawa-Bali. Sumber foto: internet

OPINI ANDA, balipuspanews.com -Penulis  tersentak membaca berita disuatu media online yang memuat berita tentang Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merencanakan pembangunan Tol Trans Jawa Probowangi (Probolinggo-Banyuwangi) akan tersambung dengan Tol Gilimanuk-Tabanan pada 2021 mendatang.

Namun rencana tersebut dengan tegas ditolak oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana.

BupatiJembrana I Putu Artha mengaku belum mengetahui sepenuhnya rencana pembangunan tol yang akan menghubungkan Pulau Jawa dan Bali itu. Tetapi Bupati Artha memastikan akan menolaknya. Penolakannya ini karena diyakini pembangunan jembatan penyambung antara Ketapang-Gilimanuk tersebut menyangkut konektivitas jalur penyeberangan Banyuwangi-Gilimanuk.

Isu atau berita rencana dibangunnya jembatan Jawa-Bali bukan hal baru lagi bagi penulis. Beberapa kali, isu atau berita serupa penulis dengar. Artinya, isu rencana jembatan Jawa-Bali muncul kemudian tenggelam lagi.

Jika pemerintah pusat memang benar-benar berniat mewujudkan jembatan Jawa-Bali tersebut, maka sangat perlu dibuka sejarah tentang perjalanan Ida Bang Manik Angkeran yang akhirnya menetap di Besakih dan ngayah sebagai jan banggul Ida.

Dikisahkan, pada jaman dulu Jawa dan Bali berada pada satu daratan dan bernama Pulo Dawa. Disebuah tempat yang kini berada disekitar Jawa Timur hiduplah seorang pendeta yang dikenal sangat mahir dalam merapal mantra. Kehebatannya merapal mantra ini kemudian menjadikannya dikenal dengan sebutan Ida Danghyang Sidhimantra.

Salah satu bukti kehebatannya merapal mantra adalah dengan dimilikinya seorang putra yang kemudian dikenal dengan nama Ida Bang Manik Angkeran. Konon Ida Bang Manik Angkeran ini terlahir dari api homa, sehingga putranya tersebut diberi nama Ida Bang Manik Angkeran.

Sayangnya, meski terlahir, tumbuh dan besar dalam keluarga brahmana, Ida Bang Manik Angkeran justru gemah memotoh atau berjudi dan jarang menang. Meski demikian, setiap saat meminta uang, Danghyang Sidhimantra selalu memberikan kepada putranya. Lama kelamaan, Ida Bang Manik Angkeran penasaran dengan sumber uang yang dimiliki orang tuanya.

Hingga akhirnya rasa penasaran Ida Bang Manik Angkeran terjawab. Secara tidak sengaja ia mendengar pembicaraan kedua orang tuanya terkait dengan sumber kekayaannya.

Akhirnya disuatu hari, berbekal sebuah senjata pedang dan sebuah genta milik ayahandanya yang ia curi, Manik Angkeran melakukan perjalanan jauh menemui sahabat ayahnya yang bertempat di Goa Raja, lereng selatan Giri Tolangkir (Gunung Agung). Sahabat ayahandanya tersebut tiada lain Ida Sanghyang Naga Basuki.

Singkat cerita, tibalah Ida Bang Manik Angkeran di depan Goa Raja. Ia kemudian mengalunkan bajra milik ayahandanya. Mendengar alunan suara bajra yang sangat dikenalnya, Ida Hyang Naga Basuki pun segera keluar dari peraduannya dan mengira yang mengalunkan bajra tersebut sahabatnya yakni Ida Hyang Naga Basuki.

Begitu tiba dimulut goa, Ida Hyang Naga Basuki kaget karena yang mengalunkan bajra tersebut ternyata seorang remaja, bukan Ida Danghyang Sidhimantra. Ida Bang Manik Angkeran pun segera menceritakan jati dirinya dan kemudian menghaturkan empehan atau susu.

Senang mendapatkan persembahan empehan dari putra sahabatnya, Ida Hyang Naga Basuki kemudian memberikan hadiah kepada Ida Bang Manik Angkeran. Yakni berupa kepingan-kepingan uang emas yang bersumber dari sisiknya. Setelahnya Ida Hyang Naga Basuki kembali ke peraduannya.

Saking panjang tubuhnya, konon saat prabu (kepala) Ida Hyang Naga Basuki sudah tiba di peraduan, ekornya masih ada di mulut goa. Saat itu Ida Bang Manik Angkeran terpana melihat betapa indahnya mahkota yang menghiasi ekor Ida Hyang Naga Basuki yang berhiaskan emas, intan, berlian dan batu-batu mulia lainnya.

Saat itu, muncullah niat buruk Ida Bang Manik Angkeran. Dengan senjata pedangnya, ekor Ida Hyang Naga Basuki kemudian dipenggalnya dan setelahnya ia lari terburu-buru dengan maksud segera meninggalkan Goa Raja.

Sementara, menyadari ekornya telah terpotong, Ida Hyang Naga Basuki menjadi murka dan segera kembali kemulut goa. Ternyata Ida Bang Manik Angkeran tidak dijumpainya lagi. Akhirnya, bekas pijakan kaki Ida Bang Manik Angkeran dijilatinya yang menyebabkan putra semata wayang Danghyang Sidhimantra berpulang dengan tubuh terbakar hangus. Lokasi hangusnya tersebut kini dikenal dengan nama Alas Cemara Geseng yang berlokasi dikawasan Besakih.

Ditempat terpisah, Ida Danghyang Sidhimantra gelisah karena putra semata wayangnya lama tidak pulang. Beliau kemudian memutuskan untuk menyusul hingga tibalah beliau di Goa Raja dengan sambutan yang kurang ramah dari tuan rumah, Ida Hyang Naga Basuki yang kemudian menceritakan ulah Ida Bang Manik Angkeran terhadap dirinya.

Ida Danghyang Sidhimantra kemudian paham dengan peristiwa yang telah terjadi. Beliau kemudian melakukan lobi dengan Ida Hyang Naga Basuki agar putranya bisa dihidupkan kembali. Permintaan itupun disanggupinya dengan catatan Ida Danghyang Sidhimantra juga harus bisa menyatukan kembali ekornya yang telah terpotong dengan tubuhnya.

Akhirnya berkat kesidhian Ida Danghyang Sidhimantra dalam merapal mantra, ekor dan badan Ida Hyang Naga Basuki kembali menyatu seperti sedia kala. Sebaliknya Ida Hyang Naga Basuki juga mampu menghidupkan kembali Ida Bang Manik Angkeran. Adapun tempat dihidupkannya kembali Ida Bang Manik Angkeran kini dikenal dengan nama Pura Bangun Sakti yang lokasinya ada dikawasan Pura Agung Besakih.

Namun, meski putranya telah hidup kembali, Ida Danghyang Sidhimantra tidak mau mengajak putranya pulang dan menitipkannya kepada sahabatnya, Ida Hyang Naga Basuki untuk mulat sarira. Tidak lama kemudian, Ida Bang Manik Angkeran ngayah menjadi seorang pemangku di Pura Besakih.

Nah, pada saat kembali pulang, disebuah tempat di Bali barat, Ida Danghyang Sidhimantra khawatir apabila putranya sewaktu-waktu melarikan diri dari Besakih dan kembali kepada dirinya. Beliau kemudian mencari cara agar putranya tidak bisa kembali ke Jawa yang saat itu sudah diliputi kali sangara.

Akhirnya, ia kemudian menorehkan tatekennya (tongkatnya) di tanah. Dari torehan tatekennya itu muncullah air yang semakin lama semakin membesar hingga memotong Pulo Dawa menjadi dua bagian yang kini bernama Pulau Jawa dan Bali. Pada titik awal ditorehkannya tateken dikenal dengan nama Pura Segara Rupek. Pada saat itu Ida Danghyang Sidhimantra juga mebhisama bahwa Pulau Jawa dan Bali tidak boleh disambungkan. Apabila disambung maka akan terjadi malapetaka buat Bali. “Awya angatepaken Jawa muang Bali, yan atep Jawa Muang Bali, rusak ikanang Bali pulina stananing hyang (Jangan sekali-sekali menyatukan Bali dengan Jawa. Kalau disatukan Bali akan rusak),” demikianlah kurang lebih bhisama Ida Danghyang Sidhimantra terkait dengan selat Bali.

Bhisama tersebut menjadi penting dibuka saat ini, terlebih ketika mengemukanya kembali rencana pembangunan jembatan Jawa-Bali. Yakni dengan kehebatan jnananya, berabad-abad silam Danghyang Sidhimantra telah melihat roh dan masa depan Jawa maupun Bali. Jawa adalah pulau untuk politik pusat kekuasaan sementara Bali sebagai pulau yadnya atau pulau persembahan yang kental dengan ritual dan nuansa spiritual (Nusa Wali, Wali atau Bali bermakna yadnya atau persembahan). Sehingga antara politik dan kekuasaan dengan ritual atau yadnya tentu merupakan dua sisi yang berbeda.

Maka tentu tidak salah kemudian ketika Danghyang Sidhimantra memisahkan Jawa dan Bali serta mebhisama Jawa dan Bali tidak boleh lagi disatukan, termasuk dengan jembatan penghubung. Ini artinya sejak berabad-abad silam telah ada skenario untuk memperjelas roh Bali dan Jawa. Tentu kemudian menjadi sangat bijak, apabila bhisama Danghyang Sidhimantra dihormati dan dijadikan sesuluh sepanjang masa untuk memproteksi agar roh dan identitas Bali sebagai pulau yadnya tetap terjaga sepanjang usia bumi. Roh dan identitas Bali sebagai pulau yadnya tidak kemudian disengaja dibuat capuh dan campah karena hanya dengan sebuah jembatan yang menyatukan daratan Bali dan Jawa.

Semoga pikiran baik datang dari segala arah.

Penulis : Ngurah Arthadana/ Ki Tambet
seorang juru warta, tinggal di Tabanan

Facebook Comments