Jembatan Putus, Siswa Nekat Nyeberang Sungai

- Advertisement -
- Advertisement -

JEMBRANA, balipuspanews.com– Bukan hanya warga yang kesulitan beraktivitas atau untuk mengangkut hasil kebunnya. Siswa yang akan berangkat maupun pulang sekolah juga terpaksa menyeberangi sungai lantaran Jembatan Sekarkejula, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana putus diterjang banjir bandang, Minggu (16/10/2022) malam.

Jembatan yang menghubungkan
Desa Yehembang dan Desa Yehembang Kauh itu sangat viral karena menjadi akaes utama warga kedua desa dan wilayah sekitarnya.

Yang paling kesulitan akibat putusnya jembatan itu adalah siswa SD maupun SMP untuk ke sekolah. Agar lebih dekat dan tidak telat sampai sekolah mereka terpaksa nekat menyeberangi sungai dengan resiko terpeleset dan terseret arus sungi yang airnya bisa sewaktu-waktu membesar karena curah hujan masih tinggi.

Jika air besar maka siswa yang tinggal di Banjar Sekarkejula tidak bisa sekolah. Memang ada jalan alternatif namun selain memutar juga jauh dan siswa akan telat sampai sekolah.

Jalan itu melintasi Sekarkejula Kelod menuju Banjar Jati, kemudian masuk ke Banjar Kaleran dan terus ke Banjar Wali hingga sampai di Banjar Baleagung, Desa Yehembang yang merupakan lokasi SMP Negeri 3 Mendoyo dan SD Negeri 7 Yehembang.

BACA :  Pasar Mentigi Nusa Penida Mulai Dibangun, Ditargetkan Rampung pada 2027

“Untuk ke sekolah saya terpaksa menyeberangi sungai dan itupun jika air tidak besar karena jika melalui jalan melingkar, sudah pasti terlambat,” ujar Komang Baskara Adi Pradipta, salah satu siswa SMP Negeri 3 Mendoyo, asal Banjar Sekarkejula, Desa Yehembang Kauh.

Siswa-siswa itu berharap, pemerintah segera membangun kembali jembatan yang putus tersebut agar tidak lagi pergi ke sekolah dengan menyeberangi sungai karena sangat membahayakan.

Made Pradnya Alit, salah satu tokoh masyarakat Desa Yehembang Kauh menyampaikan putusnya jembatan tersebut akibat terjangan banjir bandang, sangat berdampak terhadap aktifitas dan perekonomian warga.

Mereka sangat kesulitan untuk mengangkut hasil bumi atau hasil pertanian untuk dijual di kota. Jika menggunakan jalan melingkar, jaraknya sangat jauh dan memerlukan biaya angkut yang lebih besar.

“Yang membuat warga Sekarkejula khawatir jika ada upacara pengabenan. Bagimana caranya mengusung mayat ke setra karena jembatan putus. Kalau lewat kebun-kebun orang jelas tidak dikasi karena harus mecaru. Tapi jika turun menyeberangi sungai sangat membahayakan karena sungai bertebing,” ungkapnya.

BACA :  Kebakaran Gudang Kembang Api, Keluarkan Ledakan Silih Berganti, Bikin Kaget Warga

Kelian Banjar Sekarkejula Kelod, I Nyoman Supardi membenarkan putusnya jembatan tersebut membuat aktifitas warganya mati total, terutama untuk mengangkut hasil pertanian termasuk aktifitas lainnya.

“Yang lebih memprihatinkan lagi, banyak pelajar SMP maupun SD di banjarnya yang bersekolah di Desa Yehembang harus menyeberangi sungai dengan resiko yang terus mengancam. Air sungai sewaktu-waktu bisa saja banjir,” jelasnya.

Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, Putu Agus Artana Putra saat dikonfirmasi mengatakan, untuk penanganan jembatan Sekarkejula tersebut saat ini sudah dalam tahap kajian oleh pihak PUPR dan akan segera di tangani.

“Penanganan jembatan Sekarkejula tersebut merupakan skala prioritas karena warga Sekarkujule yang bersekolah di SMP dan SD yang ada di desa tetangga (Desa Yehembang,red). Kasihan mereka ke sekolah harus menyeberangi sungai,” ujarnya.

Penulis: Anom
Editor: Oka Suryawan

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular